Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah wasiat terakhir Rasulullah ﷺ tentang perlakuan terhadap kaum Ansar. Beliau mengabarkan bahwa jumlah mereka akan semakin sedikit sementara jumlah umat Islam lainnya akan bertambah. Oleh karena itu, beliau berwasiat agar siapa pun yang mendapat kekuasaan di tengah umatnya hendaknya menerima kebaikan dari orang-orang baik di antara Ansar dan memaafkan kesalahan mereka. Ini adalah pesan tentang keutamaan Ansar dan kewajiban berbuat baik kepada mereka.
Rujukan Ulama & Dalil
Al-Qur'an:
QS. Al-Hasyr [59]: 9
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Hadits:
Hadits riwayat Al-Bukhari no. 927 dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya.
Penjelasan Ulama:
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Ansar dan wasiat Nabi ﷺ agar mereka diperlakukan dengan baik. Beliau juga menjelaskan bahwa kata "al-hayy" dalam hadits berarti kabilah atau kaum, dan yang dimaksud adalah seluruh kaum Ansar.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "yaghiluna" (يَقِلُّونَ) adalah jumlah mereka akan berkurang karena banyak yang wafat, sementara jumlah umat Islam lainnya akan bertambah. Ini adalah kabar ghaib dari Nabi ﷺ yang terbukti terjadi.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut. Beliau menceritakan bahwa ini adalah pertemuan terakhir Nabi ﷺ di mimbar. Kondisi fisik Nabi ﷺ saat itu sudah lemah, beliau memakai perban berminyak di kepalanya karena sakit.
Ada beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
Pertama, tentang adab khutbah. Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam bab "Siapa yang Berkata dalam Khutbah Setelah Memuji Allah". Ini menunjukkan bahwa sunnah khutbah adalah dimulai dengan pujian kepada Allah dan sanjungan kepada-Nya, kemudian baru menyampaikan isi khutbah. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa kata "hamida" dan "atsna" memiliki makna yang saling menguatkan, yaitu memuji Allah dengan menyebut sifat-sifat-Nya yang sempurna.
Kedua, tentang keutamaan Ansar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa Ansar memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya karena mereka telah beriman sebelum kedatangan kaum Muhajirin, mereka mencintai kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri. Wasiat Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwa mereka tetap harus dihormati meskipun jumlah mereka berkurang.
Ketiga, tentang kepemimpinan yang adil. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa seorang pemimpin wajib menerima kebaikan dari rakyatnya yang baik dan memaafkan kesalahan mereka. Ini bukan berarti membiarkan kemaksiatan, tetapi bersikap bijaksana dan tidak terlalu keras dalam menghukum kesalahan yang masih bisa dimaafkan.
Keempat, tentang penerimaan terhadap takdir. Nabi ﷺ mengabarkan bahwa jumlah Ansar akan berkurang. Ini adalah bagian dari takdir Allah yang harus diterima. Namun, beliau tidak melarang mereka untuk bersedih, melainkan memberikan solusi berupa wasiat kepada para pemimpin agar tetap menghormati mereka.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari (syarh beliau) menjelaskan bahwa hadits ini juga mengandung isyarat bahwa setelah wafatnya Nabi ﷺ, jumlah sahabat akan terus berkurang, dan umat Islam harus menghormati mereka yang tersisa.
Story Telling
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ melihat para sahabat Ansar, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya orang-orang Ansar adalah kepercayaanku dan tempat menyimpankan rahasiaku. Maka terimalah kebaikan dari orang-orang baik mereka dan maafkanlah kesalahan orang-orang yang berbuat salah di antara mereka." (HR. Al-Bukhari no. 3807)
Kisah ini menunjukkan betapa besar cinta Nabi ﷺ kepada Ansar. Beliau tidak hanya memuji mereka, tetapi juga berwasiat kepada seluruh umat Islam agar berbuat baik kepada mereka. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya menghormati orang-orang yang telah berjasa dalam agama.
Kesimpulan Praktis
- Hormati para pendahulu dalam kebaikan, seperti Ansar yang telah berkorban untuk Islam. Jangan sekali-kali merendahkan atau melupakan jasa mereka.
- Jadilah pemimpin yang pemaaf. Seorang pemimpin hendaknya menerima kebaikan dari rakyatnya dan memaafkan kesalahan mereka selama tidak melanggar syariat.
- Mulailah khutbah dengan pujian kepada Allah. Ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang patut diteladani.
- Terimalah takdir Allah dengan lapang dada. Jumlah orang shalih boleh berkurang, tetapi kita tetap harus berbuat baik kepada mereka yang masih ada.
- Jangan sombong dengan banyaknya jumlah. Yang penting adalah kualitas iman dan amal, bukan kuantitas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.