Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan adab Nabi ﷺ dalam berkhutbah dan menjelaskan kebijaksanaan beliau dalam membagi harta: beliau memberi kepada sebagian orang karena melihat kegelisahan hati mereka, dan tidak memberi sebagian lain karena Allah telah menanamkan kekayaan hati (kecukupan) pada mereka. Hadits ini juga menunjukkan bolehnya berbicara di tengah khutbah untuk maslahat, dan bahwa "Amma ba'du" adalah pembuka khutbah yang diajarkan Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Jum'at, Bab Siapa yang Berkata dalam Khutbah Setelah Memuji Allah (no. 923), dari sahabat Amr bin Taghlib رضي الله عنه.
Teks hadits yang relevan:
فَحَمِدَ اللَّهَ ثُمَّ أَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: "أَمَّا بَعْدُ، فَوَاللَّهِ إِنِّي لَأُعْطِي الرَّجُلَ، وَأَدَعُ الرَّجُلَ، وَالَّذِي أَدَعُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الَّذِي أُعْطِي، وَلَكِنْ أُعْطِي أَقْوَامًا لِمَا أَرَى فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْجَزَعِ وَالْهَلَعِ، وَأَكِلُ أَقْوَامًا إِلَى مَا جَعَلَ اللَّهُ فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْغِنَى وَالْخَيْرِ، فِيهِمْ عَمْرُو بْنُ تَغْلِبَ"
Terjemahan: "Maka beliau memuji Allah lalu menyanjung-Nya, kemudian bersabda: 'Amma ba'du, demi Allah, sesungguhnya aku memberi kepada seorang lelaki dan meninggalkan seorang lelaki, dan yang aku tinggalkan lebih aku cintai daripada yang aku beri. Akan tetapi aku memberi kepada suatu kaum karena aku melihat dalam hati mereka kegelisahan dan ketidaksabaran, dan aku menyerahkan suatu kaum kepada apa yang Allah jadikan dalam hati mereka berupa kekayaan dan kebaikan; di antara mereka adalah Amr bin Taghlib.'"
Ayat yang berkaitan dengan sikap qana'ah (merasa cukup) dan kekayaan hati:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
QS. Thaha [20]: 131
Terjemahan: "Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang kafir) sebagai bunga kehidupan dunia, agar Kami menguji mereka dengannya. Dan rezeki Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."
Penjelasan Rinci
Pertama: Adab khutbah dan "Amma ba'du".
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa lafaz "Amma ba'du" (أَمَّا بَعْدُ) adalah kalimat pemisah yang digunakan Nabi ﷺ untuk memulai maksud khutbah setelah memuji Allah. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa para ulama sepakat disunnahkannya memulai khutbah dengan hamdalah, lalu "Amma ba'du". Ini menunjukkan bahwa khutbah Nabi ﷺ selalu dibuka dengan pujian kepada Allah, kemudian masuk ke inti nasihat.
Kedua: Bolehnya berbicara di tengah khutbah untuk maslahat.
Judul bab yang dipilih Imam Al-Bukhari — "Bab Siapa yang Berkata dalam Khutbah Setelah Memuji Allah" — menunjukkan bahwa beliau ingin menetapkan bahwa berbicara di sela khutbah untuk suatu keperluan (seperti menjelaskan, menasihati, atau menjawab) tidaklah terlarang, sebagaimana Nabi ﷺ berbicara setelah memuji Allah dalam hadits ini. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Imam Al-Bukhari mengambil faedah dari hadits ini bahwa pembicaraan yang mengandung maslahat dalam khutbah diperbolehkan, dan bahwa yang dilarang adalah berbicara yang sia-sia saat khutbah berlangsung.
Ketiga: Kebijaksanaan Nabi ﷺ dalam membagi harta.
Nabi ﷺ memberikan harta kepada sebagian orang dan tidak memberi sebagian lain. Ketika sampai kabar bahwa yang tidak diberi merasa kecewa, beliau tidak marah, tetapi menjelaskan dengan lembut dalam khutbah. Beliau menjelaskan dua hikmah:
- Memberi kepada yang gelisah hatinya (الجزع والهلع) — yaitu mereka yang lemah iman dan mudah gelisah, sehingga diberi agar hati mereka tenang dan tidak goyah. Ini adalah bentuk ta'lif qulub (menarik hati).
- Tidak memberi kepada yang hatinya kaya (الغنى والخير) — yaitu mereka yang Allah telah tanamkan dalam hati mereka kecukupan (qana'ah) dan kebaikan, sehingga mereka tidak membutuhkan pemberian duniawi. Di antara mereka adalah Amr bin Taghlib sendiri.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ dalam pembagian harta memperhatikan keadaan hati manusia, bukan semata-mata kesamaan jumlah. Ini adalah prinsip siyasah syar'iyyah (kebijakan yang sesuai syariat) dalam mengelola manusia.
Keempat: Kekayaan hati lebih utama dari kekayaan harta.
Nabi ﷺ bersabda bahwa yang beliau tinggalkan (tidak diberi) lebih beliau cintai daripada yang beliau beri. Ini menunjukkan bahwa kekayaan hati — yaitu qana'ah, sabar, dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan — lebih utama daripada harta dunia. Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah dalil keutamaan qana'ah dan bahwa orang yang hatinya kaya tidak perlu diberi harta untuk ditenangkan.
Kelima: Perkataan Amr bin Taghlib.
Amr bin Taghlib berkata: "Demi Allah, aku tidak ingin memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada kata-kata Rasulullah ﷺ." Ini menunjukkan betapa beliau menghargai pujian Nabi ﷺ yang menyebutnya termasuk orang yang hatinya kaya. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah bentuk syukur dan pengagungan terhadap kedudukan sabda Nabi ﷺ.
Story Telling
Amr bin Taghlib رضي الله عنه adalah seorang sahabat yang ikut dalam pembagian harta tersebut. Ketika Nabi ﷺ membagikan harta rampasan atau tawanan, beliau memberi kepada beberapa orang yang baru masuk Islam atau yang imannya masih lemah, agar hati mereka tenang. Sementara Amr bin Taghlib dan beberapa sahabat lainnya tidak diberi.
Ketika sampai kabar bahwa yang tidak diberi merasa kecewa, Nabi ﷺ berdiri berkhutbah. Beliau memuji Allah, lalu menjelaskan dengan penuh hikmah: "Aku memberi kepada orang yang hatinya gelisah, dan aku tinggalkan orang yang hatinya sudah kaya dengan iman dan qana'ah. Yang aku tinggalkan lebih aku cintai daripada yang aku beri."
Amr bin Taghlib mendengar namanya disebut Nabi ﷺ sebagai salah satu orang yang hatinya kaya. Beliau sangat gembira dan berkata: "Demi Allah, aku tidak ingin memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada kata-kata Rasulullah ﷺ." Beliau tidak menyesal tidak mendapat harta, karena pujian Nabi ﷺ dan kedudukan di sisi Allah lebih berharga baginya.
Hikmahnya: Kekayaan sejati adalah kekayaan hati. Orang yang hatinya sudah cukup dengan Allah tidak akan gelisah ketika tidak mendapat dunia, dan tidak akan sombong ketika mendapatkannya.
Kesimpulan Praktis
- Bagi khatib: Mulailah khutbah dengan hamdalah dan "Amma ba'du". Boleh berbicara di sela khutbah untuk maslahat yang jelas.
- Bagi pemimpin: Dalam membagi sesuatu, perhatikan keadaan hati orang, bukan hanya kesamaan jumlah. Berikan kepada yang membutuhkan penenangan, dan percayakan yang hatinya kuat kepada Allah.
- Bagi setiap muslim: Latihlah hati untuk qana'ah (merasa cukup). Kekayaan hati lebih utama daripada kekayaan harta. Jangan gelisah ketika tidak mendapat dunia, dan jangan sombong ketika mendapatkannya.
- Bagi yang merasa tidak diberi: Ketahuilah bahwa Allah mengetahui keadaan hati hamba-Nya. Bisa jadi tidak diberinya dunia adalah tanda bahwa Allah telah menanamkan kekayaan iman dalam hati kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.