Penjelasan Hadits Bukhari No. 92 tentang Kemarahan Nabi saat pertanyaan berlebihan dalam pengajaran

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia yang bisa marah ketika batas adab dilanggar, terutama ketika para penanya terus mendesak dengan pertanyaan yang tidak bermanfaat. Namun kemarahan beliau adalah kemarahan karena Allah dan untuk menjaga ilmu, bukan karena hawa nafsu. Hadits ini juga mengajarkan adab bertanya: jangan bertanya hal yang tidak perlu, jangan mendesak, dan hendaknya seorang penuntut ilmu tahu kapan harus berhenti. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu memberi teladan dengan segera bertaubat ketika melihat kemarahan Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hujurat [49]: 1

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

QS. Al-Ma'idah [5]: 101

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan tentang hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian justru akan menyusahkan kalian."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-'Ilm, Bab al-Ghadhab fi al-Mau'izhah wa at-Ta'lim idza Ra'a Ma Yakrahu, no. 92, dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa bab ini sengaja dibuat Imam al-Bukhari untuk menunjukkan bahwa seorang guru boleh marah ketika mengajar jika melihat kemungkaran atau sikap yang tidak pantas, selama kemarahan itu untuk kebenaran.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa kemarahan Nabi ﷺ di sini adalah kemarahan yang terpuji karena berkaitan dengan hak ilmu dan adab.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa mendesak pertanyaan yang tidak bermanfaat termasuk perbuatan yang dicela dalam syariat.

Penjelasan Rinci

Konteks hadits:

Para sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang beberapa hal yang beliau tidak sukai untuk dibahas — menurut penjelasan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal ghaib, takdir, atau perkara yang jika dijawab justru menimbulkan fitnah dan kebingungan. Ketika mereka terus mendesak, Nabi ﷺ marah.

Makna kemarahan Nabi ﷺ:

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak marah untuk dirinya sendiri, tetapi marah ketika hak Allah dan adab ilmu dilanggar. Ini sejalan dengan hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah marah untuk urusan pribadi, tetapi marah jika larangan Allah dilanggar (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Pelajaran tentang adab bertanya:

Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa bertanya dalam ilmu memiliki adab: bertanya untuk memahami, bukan untuk menguji atau memperbanyak pertanyaan tanpa manfaat. Allah sendiri melarang dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 101 tentang menanyakan hal-hal yang jika dijelaskan justru menyusahkan.

Perkataan "Tanyakan kepada saya apa saja yang kalian suka":

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah bentuk teguran. Nabi ﷺ ingin menunjukkan bahwa pertanyaan mereka sudah keluar dari adab, sehingga beliau membuka pintu pertanyaan sebagai ujian — dan akibatnya ada yang bertanya tentang nasab (siapa ayahku), yang merupakan pertanyaan yang tidak pantas dan bisa membuka aib.

Sikap Umar radhiyallahu 'anhu:

Ibnu Hajar menukil bahwa Umar segera menyadari kemarahan Nabi ﷺ dari raut wajah beliau, lalu segera bertaubat. Ini menunjukkan kepekaan seorang mukmin terhadap keadaan Nabi dan adab seorang murid terhadap gurunya.

Perbedaan pendapat ulama:

Sebagian ulama seperti al-Qadhi 'Iyadh (yang dinukil oleh an-Nawawi) menyatakan bahwa kemarahan Nabi di sini adalah kemarahan yang wajar sebagai manusia, namun tetap dalam koridor kenabian. Sedangkan Ibnu Hajar menegaskan bahwa kemarahan tersebut adalah bagian dari mau'izhah (nasihat) dan ta'lim (pengajaran), sebagaimana judul bab yang dibuat Imam al-Bukhari. Pendapat yang paling kuat adalah yang disebutkan Ibnu Hajar: bahwa kemarahan ini adalah metode pengajaran ketika melihat sesuatu yang tidak disukai, dan bukan celaan terhadap pribadi Nabi.

Story Telling

Dikisahkan oleh Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu — sebagaimana dalam Shahih al-Bukhari — bahwa suatu hari para sahabat berkumpul di majelis Nabi ﷺ. Mereka mulai bertanya tentang berbagai perkara yang tidak beliau sukai untuk dibahas. Pertanyaan demi pertanyaan datang, dan mereka terus mendesak. Wajah Nabi ﷺ pun berubah karena marah.

Beliau lalu bersabda, "Tanyakanlah kepadaku apa saja yang kalian kehendaki."

Seorang laki-laki berdiri dan bertanya, "Siapa ayahku?" Nabi ﷺ menjawab, "Ayahmu Hudzafah."

Kemudian seorang lagi berdiri dan bertanya, "Siapa ayahku, wahai Rasulullah?" Nabi ﷺ menjawab, "Ayahmu Salim, maula Syaibah."

Melihat raut wajah Nabi ﷺ yang memerah karena marah, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu segera berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, kami bertaubat kepada Allah 'Azza wa Jalla."

Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fath al-Bari bahwa sikap Umar ini adalah bentuk adab yang tinggi: seorang mukmin tidak menunggu sampai kemarahan guru berlanjut, tetapi segera meredakan dengan taubat dan permohonan.

Hikmah: Majelis ilmu adalah majelis yang penuh adab. Bertanya bukan untuk memperbanyak pertanyaan, tetapi untuk memahami dan mengamalkan. Ketika guru menunjukkan ketidaksukaan, murid hendaknya segera berhenti dan bertaubat, sebagaimana yang dicontohkan Umar radhiyallahu 'anhu.

Kesimpulan Praktis

  1. Bertanyalah dengan adab — tanyakan hal yang bermanfaat untuk diamalkan, bukan untuk memperbanyak pertanyaan atau menguji.
  2. Jangan mendesak guru — jika guru tidak menyukai suatu pertanyaan, hentikanlah dan jangan memaksa.
  3. Kemarahan karena kebenaran itu terpuji — seorang guru boleh marah ketika adab dilanggar, selama untuk menjaga ilmu dan syariat.
  4. Segera bertaubat — ketika menyadari kesalahan, jangan menunda; contohlah Umar radhiyallahu 'anhu yang langsung bertaubat.
  5. Jaga majelis ilmu — majelis ilmu adalah majelis yang mulia; jagalah adab di dalamnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?