Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa iman bukan hanya keyakinan dalam hati, tetapi memiliki banyak cabang yang mencakup perkataan, perbuatan, dan akhlak. Malu (al-haya') adalah salah satu cabang iman yang sangat penting, yang mendorong seorang muslim untuk meninggalkan kemaksiatan dan menjaga kehormatan diri.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
QS. Al-Baqarah [2]: 177
۞ لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Terjemahan: "Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi; dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya; dan yang mendirikan shalat, menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janji apabila mereka berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."
Ayat ini menunjukkan bahwa iman mencakup keyakinan hati (iman kepada Allah, hari akhir, dll), amalan lisan (mengucapkan janji), dan amalan anggota badan (memberi harta, shalat, zakat, sabar).
Hadits:
Hadits riwayat Shahih Al-Bukhari, Kitab Iman, Bab Hal-Hal Iman, no. 9. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Penjelasan Ulama:
Imam An-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "cabang iman" (شُعْبَةً) adalah bagian-bagian atau sifat-sifat iman. Beliau menyebutkan bahwa para ulama telah mengumpulkan cabang-cabang iman ini, dan intinya kembali kepada tiga perkara: pembenaran hati (i'tiqad), ucapan lisan (qaul), dan amalan anggota badan ('amal).
Ibnu Hajar Al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa iman itu bertingkat-tingkat dan memiliki bagian-bagian. Beliau juga menukil perkataan Imam Al-Khaththabi bahwa malu (al-haya') termasuk cabang iman karena malu mendorong seseorang untuk melakukan ketaatan dan mencegah dari kemaksiatan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah) menjelaskan bahwa malu adalah akhlak mulia yang mencegah seseorang dari melakukan perkara yang buruk dan tercela. Malu kepada Allah akan mendorong seseorang untuk taat, malu kepada manusia akan menjaga kehormatan dan hubungan baik.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits agung yang menjelaskan hakikat iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Berbeda dengan pemahaman Murji'ah yang mengatakan iman hanya cukup di hati, hadits ini dengan tegas menyatakan bahwa iman memiliki cabang-cabang yang banyak, yang semuanya adalah amalan.
Makna "Iman itu terdiri dari lebih enam puluh cabang"
Dalam riwayat lain (Shahih Muslim) disebutkan "lebih dari tujuh puluh cabang". Perbedaan bilangan ini tidaklah bertentangan, karena bisa jadi Nabi ﷺ menyebutkan angka yang berbeda dalam kesempatan yang berbeda, atau bisa juga karena perbedaan cara menghitung cabang-cabang iman.
Imam Al-Bukhari sendiri dalam kitabnya Shahih Al-Bukhari membuat bab-bab yang menjelaskan cabang-cabang iman ini, seperti bab "Iman itu adalah perkataan dan perbuatan", bab "Malu adalah bagian dari iman", bab "Cinta kepada Allah dan Rasul adalah bagian dari iman", dan seterusnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa iman mencakup tiga unsur:
- Pembenaran dalam hati (tasdiq bil qalb): meyakini Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir.
- Ucapan lisan (qaul bil lisan): mengucapkan dua kalimat syahadat, berdzikir, membaca Al-Qur'an, berdakwah, dan lain-lain.
- Amalan anggota badan ('amal bil jawarih): shalat, zakat, puasa, haji, berbakti kepada orang tua, dan semua amal saleh.
Makna "Malu adalah salah satu cabang dari iman"
Imam Ibnul Qayyim (dalam Madarijus Salikin) menjelaskan bahwa malu (al-haya') adalah akhlak yang sangat mulia. Malu terbagi menjadi dua:
- Malu yang merupakan tabiat bawaan (gharizah): yaitu rasa malu yang Allah tanamkan dalam diri manusia, yang mencegahnya dari perbuatan keji.
- Malu yang merupakan hasil ibadah (muktasabah): yaitu rasa malu yang timbul karena ma'rifatullah (mengenal Allah), sehingga seorang hamba malu kepada Allah jika berbuat maksiat.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Malu itu ada dua macam: malu karena iman dan malu karena kebodohan. Malu karena iman adalah malu yang mendorongmu untuk melakukan kebaikan dan mencegahmu dari keburukan. Adapun malu karena kebodohan adalah malu yang menghalangimu dari menuntut ilmu dan bertanya tentang agama."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (dalam Bahjatul Qulubil Abrar) menjelaskan bahwa malu adalah akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Malu kepada Allah akan mendorong seseorang untuk menjaga pandangan, lisan, dan seluruh anggota badan dari maksiat.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ suatu hari melewati seorang laki-laki dari kalangan Anshar yang sedang menasihati saudaranya tentang rasa malu. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
"Biarkanlah dia, sesungguhnya malu itu adalah bagian dari iman." (HR. Al-Bukhari no. 24 dan Muslim no. 36)
Dalam kisah lain, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikenal sebagai pribadi yang sangat pemalu. Beliau tidak suka berbicara keras, tidak suka memotong pembicaraan orang lain, dan sangat menjaga adab. Salah satu muridnya, Abu Zur'ah Ar-Razi, berkata: "Aku tidak pernah melihat orang yang lebih pemalu dari Ahmad bin Hanbal. Jika disebutkan tentang maksiat, beliau langsung menundukkan kepala dan wajahnya berubah."
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa rasa malu yang benar akan melahirkan adab yang mulia, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.
Kesimpulan Praktis
- Iman itu bertingkat-tingkat: Iman bukan hanya keyakinan hati, tetapi juga amalan lisan dan anggota badan. Semakin banyak amalan saleh yang dilakukan, semakin sempurna iman seseorang.
- Jaga rasa malu: Rasa malu adalah perisai yang melindungi seorang muslim dari perbuatan dosa. Jika rasa malu hilang, seseorang akan melakukan segala macam kemaksiatan tanpa rasa bersalah.
- Tingkatkan cabang-cabang iman: Perbanyaklah amalan-amalan yang termasuk cabang iman, seperti shalat, puasa, sedekah, berbuat baik kepada tetangga, menebar salam, dan lain-lain.
- Malu kepada Allah: Hendaknya kita malu kepada Allah jika masih bermaksiat, karena Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala perbuatan kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.