Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 89 tentang Praktik bergiliran menuntut ilmu kepada Nabi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kisah nyata dari sahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu yang menunjukkan semangat luar biasa para sahabat dalam menuntut ilmu. Mereka rela bergiliran mendatangi majelis Nabi ﷺ agar tidak ada satu pun berita wahyu atau ajaran Nabi yang terlewatkan. Kisah ini juga mengajarkan adab bertanya, ketegasan dalam mencari kejelasan, serta kebahagiaan seorang mukmin ketika mendapatkan kabar baik.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Ilmu, Bab "Bergiliran dalam Ilmu", no. 89, dari sahabat Abdullah bin Abbas, dari Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhuma.

Teks hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dengan sanad dan matan. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan redaksi yang serupa.

Adapun dalil tentang keutamaan menuntut ilmu dan semangat para sahabat dalam hal ini, Allah Ta'ala berfirman:

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

"Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah [9]: 122)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kewajiban thalabul 'ilmi (menuntut ilmu) secara berjamaah, dan sebagian sahabat memahami bahwa ayat ini turun berkenaan dengan semangat mereka untuk selalu hadir di majelis Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung banyak pelajaran berharga yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Semangat Para Sahabat dalam Menuntut Ilmu

Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ia dan tetangganya dari kalangan Anshar tinggal di daerah 'Awali Al-Madinah, yang jaraknya cukup jauh dari masjid Nabi ﷺ. Karena jarak yang jauh, mereka sepakat untuk bergiliran hadir di majelis Nabi ﷺ. Yang hadir akan menyampaikan semua berita wahyu dan ilmu yang didapat kepada yang tidak hadir.

Imam Al-Bukhari rahimahullah meletakkan hadits ini dalam "Bab Bergiliran dalam Ilmu" untuk menunjukkan disyariatkannya sistem tanaub (bergiliran) dalam menuntut ilmu, sebagaimana dipahami oleh para ulama dari kalangan salaf. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bab ini menunjukkan bolehnya seseorang mewakili yang lain untuk menghadiri majelis ilmu, dengan syarat ia menyampaikan kembali ilmunya dengan amanah.

2. Adab Bertanya dan Menyampaikan Kabar

Ketika tetangga Umar datang mengetuk pintu dengan keras dan berkata, "Telah terjadi perkara besar," Umar tidak menunda-nunda. Ia langsung pergi menemui Hafshah, putrinya dan istri Nabi ﷺ, untuk mencari kejelasan. Ini menunjukkan bahwa dalam mencari ilmu, seorang muslim harus bersegera dan tidak menunda-nunda.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa sikap Umar ini menunjukkan adab seorang penuntut ilmu: ia bertanya kepada sumber yang tepat, dengan cara yang baik, dan tidak menyebarkan kabar sebelum jelas kebenarannya.

3. Keberanian dalam Kebenaran

Umar radhiyallahu 'anhu bertanya langsung kepada Nabi ﷺ dengan tegas, "Apakah engkau menceraikan istri-istrimu?" Ini menunjukkan bahwa seorang muslim boleh bertanya kepada ulama atau pemimpin tentang hal-hal yang penting, dengan tetap menjaga adab dan kehormatan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa pertanyaan Umar ini adalah bentuk nashihah (nasihat) dan kepedulian, bukan bentuk lancang. Karena Umar sangat mencintai Nabi ﷺ dan khawatir terhadap keadaan beliau.

4. Kebahagiaan Mendapat Kabar Baik

Ketika Nabi ﷺ menjawab, "Tidak," Umar langsung bertakbir, "Allahu Akbar!" Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin harus bergembira dengan kabar baik dan bersyukur kepada Allah. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menyebutkan bahwa takbir Umar ini adalah bentuk syukur dan ekspresi kebahagiaan karena agama dan keluarga Nabi ﷺ tetap terjaga.

5. Kisah ini Menjadi Pelajaran tentang Peristiwa Besar

Para ulama menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi ketika Nabi ﷺ bersumpah untuk tidak mendatangi istri-istrinya selama sebulan karena suatu kejadian. Ini kemudian menjadi sebab turunnya ayat tentang pilihan bagi istri-istri Nabi ﷺ (QS. Al-Ahzab [33]: 28-29). Namun dalam hadits ini, fokus utamanya adalah semangat menuntut ilmu dan adab para sahabat.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang semangat para salaf dalam menuntut ilmu. Diriwayatkan bahwa Imam Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab) rahimahullah, yang namanya muncul dalam sanad hadits ini, adalah salah seorang ulama besar tabi'in. Ia berkata, "Ilmu itu tidak akan diperoleh kecuali dengan bersusah payah. Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, ia akan mendapatkannya."

Az-Zuhri juga pernah berkata, "Tidaklah ilmu itu dihafal dengan cara menghafal semata, tetapi ia adalah anugerah yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang dikehendaki." Ia dikenal sebagai ulama yang sangat tekun, rela bepergian jauh untuk mendapatkan satu hadits dari para sahabat yang masih hidup.

Semangat Az-Zuhri ini adalah warisan dari semangat para sahabat seperti Umar bin Khaththab yang rela bergiliran jauh dari rumahnya demi tidak tertinggal satu pun ilmu dari Nabi ﷺ. Inilah teladan yang harus kita contoh: ilmu tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dijemput dengan kesungguhan.

Kesimpulan Praktis

  1. Semangatlah dalam menuntut ilmu — jadwalkan waktu khusus untuk belajar, baik sendiri maupun berjamaah, dan saling berbagi ilmu dengan orang lain.
  2. Bergiliran dalam menuntut ilmu itu dibolehkan — jika ada halangan, wakilkan orang lain untuk hadir, lalu mintalah ia menyampaikan ilmunya.
  3. Bersegeralah mencari kejelasan — jika ada kabar penting atau musibah, jangan menunda untuk bertanya kepada sumber yang tepat.
  4. Jaga adab dalam bertanya — bertanyalah dengan sopan, kepada ahlinya, dan niatkan untuk kebaikan.
  5. Bergembiralah dengan kabar baik — ucapkan syukur dan takbir ketika mendapatkan kabar yang menyenangkan, karena itu adalah bentuk syukur kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.