Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa setelah shalat Subuh, Nabi ﷺ menghadap para jamaah untuk mengajarkan hal penting. Beliau menjelaskan bahwa menisbatkan hujan kepada karunia dan rahmat Allah adalah tanda iman, sedangkan menisbatkannya kepada bintang (perbintangan) adalah kekafiran. Intinya: segala nikmat, termasuk hujan, harus disandarkan kepada Allah, bukan kepada sebab yang diyakini memiliki pengaruh mandiri.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Adzan, Bab Imam Menghadap kepada Jamaah Setelah Salam, no. 846, dari sahabat Zaid bin Khalid Al-Juhani رضي الله عنه. Jalur periwayatannya: Abdullah bin Muslimah ← Malik (Imam Malik bin Anas) ← Shalih bin Kaysan ← Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud ← Zaid bin Khalid Al-Juhani.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih-nya dengan makna yang sama, dan disebutkan pula oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim serta Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan bab ini.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema menyandarkan nikmat kepada Allah:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
QS. An-Nahl [16]: 53
"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan apabila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya kamu meminta pertolongan."
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Adab imam menghadap jamaah setelah salam.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bab ini menunjukkan disunnahkannya imam menghadap kepada makmum setelah selesai shalat untuk memberikan pengajaran atau nasihat, terutama jika ada perkara penting yang perlu disampaikan. Ini juga menjadi dalil bahwa majelis ilmu setelah shalat memiliki dasar dari sunnah Nabi ﷺ.
Kedua: Tauhid dalam menyandarkan nikmat.
Nabi ﷺ membagi manusia menjadi dua golongan dalam menyikapi turunnya hujan:
- Mukmin: yang mengatakan "Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah" — ia mengakui bahwa hujan adalah pemberian Allah semata.
- Kafir: yang mengatakan "Hujan ini karena bintang ini dan itu" — ia menyandarkan hujan kepada bintang sebagai penyebab yang mandiri, bukan kepada Allah.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa perkataan "binau'i kadza wa kadza" (karena bintang ini dan itu) adalah keyakinan orang-orang Jahiliyah yang menganggap bintang-bintang memiliki pengaruh langsung dalam turunnya hujan. Ini termasuk syirik dalam rububiyyah, karena menisbatkan perbuatan Allah kepada selain-Nya.
Ketiga: Perbedaan antara tawakkal dan sebab.
Perlu dipahami bahwa menggunakan sebab (seperti melihat awan, arah angin) tidaklah terlarang. Yang terlarang adalah meyakini bahwa sebab tersebut memiliki pengaruh mandiri tanpa izin Allah. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarahnya menjelaskan bahwa seseorang boleh mengatakan "hujan turun karena adanya awan mendung" sebagai pemberitaan sebab, tetapi tidak boleh meyakini bahwa awan itu sendiri yang menurunkan hujan tanpa kehendak Allah.
Keempat: Kekafiran dalam konteks ini.
Para ulama menjelaskan bahwa "kafir" di sini bisa bermakna:
- Kufur besar (kufur akbar) jika seseorang meyakini bintang benar-benar memiliki kekuatan menurunkan hujan secara mandiri.
- Kufur kecil (kufur ashghar) jika hanya ucapan lisan tanpa keyakinan hati yang penuh, namun tetap merupakan dosa besar.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat-ayat tentang hujan dan nikmat Allah menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin dan kehendak Allah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Zaid bin Khalid Al-Juhani رضي الله عنه — seorang sahabat yang meriwayatkan hadits ini — menyaksikan langsung peristiwa di Hudaibiyah. Malam itu hujan turun dengan deras. Pagi harinya, Rasulullah ﷺ memimpin shalat Subuh, lalu setelah salam, beliau menghadap para sahabat dan bertanya dengan lembut: "Apakah kalian tahu apa yang dikatakan Tuhan kalian?"
Para sahabat, dengan adab yang tinggi, menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Mereka tidak mendahului jawaban, tidak berprasangka, dan menyerahkan pengetahuan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Nabi ﷺ menyampaikan firman Allah yang membedakan antara hamba yang beriman dan yang kafir dalam menyikapi hujan.
Hikmahnya: betapa pentingnya ilmu dan adab. Para sahabat tidak menjawab dengan spekulasi, tetapi menunggu penjelasan Nabi ﷺ. Dan betapa besar perbedaan antara menyandarkan nikmat kepada Allah dengan menyandarkannya kepada makhluk.
Kesimpulan Praktis
- Sandarkan segala nikmat kepada Allah. Ketika hujan turun, katakanlah: "Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah" — bukan karena bintang, ramalan, atau kekuatan lain.
- Gunakan sebab dengan benar. Melihat awan atau arah angin sebagai tanda boleh, tetapi jangan meyakini sebab itu memiliki kekuatan mandiri.
- Hindari ramalan perbintangan. Mempercayai ramalan bintang atau zodiak dalam urusan rezeki, hujan, atau nasib termasuk perkara yang membahayakan iman.
- Ambil pelajaran dari adab sahabat. Mereka tidak mendahului Nabi ﷺ dalam menjawab, menunjukkan adab dalam menuntut ilmu.
- Sampaikan ilmu setelah shalat. Imam dianjurkan menghadap jamaah untuk mengajarkan hal yang bermanfaat, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.