Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 844 tentang Dzikir setelah shalat wajib dan keutamaannya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dzikir yang sangat agung yang dibaca setelah setiap shalat wajib. Dzikir ini berisi pengakuan keesaan Allah, pujian kepada-Nya, dan pengakuan bahwa segala kekuasaan dan kebaikan hanya milik Allah semata. Ini adalah amalan yang mudah namun memiliki keutamaan besar, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

Shahih Al-Bukhari, no. 844, dari Warrad, penulis Al-Mughirah bin Syu'bah, dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu.

Teks Hadits (Arab Berharakat):

عَنْ وَرَّادٍ، كَاتِبِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ: أَمْلَى عَلَيَّ الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ فِي كِتَابٍ إِلَى مُعَاوِيَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ: "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ".

Terjemahan:

Dari Warrad, penulis Al-Mughirah bin Syu'bah, ia berkata: Al-Mughirah bin Syu'bah mendiktekan kepadaku dalam sebuah surat kepada Mu'awiyah, bahwa Nabi ﷺ biasa mengucapkan setelah setiap shalat wajib: "Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan, dan tidak berguna kekayaan/kedudukan dari seseorang di sisi-Mu, karena kekayaan/kedudukan itu dari-Mu juga."

Penjelasan Ulama:

  • Imam An-Nawawi (dalam Al-Adzkar) menjelaskan bahwa dzikir ini termasuk dzikir yang dianjurkan setelah shalat wajib, dan lafazhnya shahih.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menjelaskan makna kalimat "لَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ" bahwa "al-jadd" di sini berarti kekayaan atau kedudukan. Artinya, tidak ada yang bisa menyelamatkan seseorang dari siksa Allah kecuali amal dan imannya, bukan karena kekayaan atau kedudukannya.
  • Al-Hasan Al-Bashri (sebagaimana disebut dalam riwayat Bukhari) menafsirkan "al-jadd" dengan "al-ghina" (kekayaan).

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengajarkan dzikir yang sangat padat makna. Mari kita rinci setiap bagiannya:

  1. "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ" (Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya): Ini adalah inti dari tauhid. Kita mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma' wa sifat.
  2. "لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ" (Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala puji): Ini adalah pengakuan bahwa seluruh alam semesta dan segala isinya adalah milik Allah. Dialah yang mengatur segalanya. Segala puji hanya layak bagi-Nya atas segala nikmat dan karunia-Nya.
  3. "وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ" (Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu): Ini adalah pengakuan akan kekuasaan Allah yang mutlak. Tidak ada sesuatu pun yang sulit bagi-Nya.
  4. "اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ" (Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan): Ini adalah pengakuan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan takdir Allah. Jika Allah memberi, tidak ada yang bisa menghalangi. Jika Allah menahan, tidak ada yang bisa memberikannya. Ini mengajarkan kita untuk tawakal dan ridha dengan ketentuan Allah.
  5. "وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ" (Dan tidak berguna kekayaan/kedudukan dari seseorang di sisi-Mu, karena kekayaan/kedudukan itu dari-Mu juga): Ini adalah peringatan bahwa pada hari kiamat, kekayaan, kedudukan, atau nasab tidak akan berguna sama sekali. Yang bermanfaat hanyalah iman dan amal saleh. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mu'minun [23]: 101.

Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa dzikir ini mengandung makna tauhid, pujian, pengakuan akan kekuasaan Allah, dan perendahan diri di hadapan-Nya. Ini adalah dzikir yang sangat sempurna.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dzikir ini mengingatkan kita bahwa segala kebaikan dan kekuasaan hanya milik Allah, dan kita tidak boleh bergantung pada selain-Nya.

Story Telling

Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang mulia. Suatu ketika, ia menulis surat kepada Khalifah Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu. Dalam surat itu, ia tidak menuliskan hal-hal duniawi semata, tetapi ia menyampaikan ilmu yang paling berharga, yaitu dzikir yang diajarkan oleh Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat perhatian untuk menyebarkan ilmu dan amalan yang bermanfaat, bahkan dalam korespondensi pribadi sekalipun. Mereka tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengingatkan tentang Allah dan ajaran Rasul-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Amalkan dzikir ini setiap selesai shalat wajib, karena ini adalah sunnah yang shahih dari Nabi ﷺ.
  2. Renungkan maknanya, jangan hanya diucapkan tanpa pemahaman. Dzikir ini menguatkan tauhid, tawakal, dan rasa rendah hati di hadapan Allah.
  3. Ajarkan kepada keluarga dan orang lain, sebagaimana Al-Mughirah mengajarkannya kepada Mu'awiyah melalui surat.
  4. Jangan bergantung pada kekayaan atau kedudukan, karena yang bermanfaat di sisi Allah hanyalah iman dan amal saleh.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.