Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ berdiri lama setelah rukuk (i'tidal) dan duduk lama antara dua sujud, hingga orang yang melihat mengira beliau lupa. Ini adalah dalil bahwa thuma'ninah (diam sebentar) dalam shalat tidaklah cukup, namun yang disunnahkan adalah memperlama berdiri setelah rukuk dan duduk antara dua sujud hingga semua tulang kembali ke tempatnya dengan sempurna. Shalat yang dilakukan dengan tergesa-gesa adalah perbuatan yang dilarang.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah shahih, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Adzan, Bab "Lama Berdiri Antara Dua Sujud", no. 821.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
QS. Al-Mu'minun [23]: 2
<p>الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ</p>
"Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya."
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam bab khusus yang menunjukkan perhatian beliau terhadap persoalan thuma'ninah dan kelamaan berdiri antara dua sujud.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa bab ini mengisyaratkan disunnahkannya memperlama duduk antara dua sujud, dan bahwa hal itu termasuk bagian dari kekhusyukan shalat.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin dan kitab-kitab fiqihnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan lamanya duduk antara dua sujud yang dilakukan Nabi ﷺ, dan bahwa thuma'ninah adalah rukun shalat yang tidak sah tanpanya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Tentang Perbuatan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu
Anas bin Malik adalah sahabat yang melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun di Madinah. Beliau sangat mengetahui tata cara shalat Nabi ﷺ. Ketika beliau menjadi imam di Bashrah di usia senjanya, beliau ingin mengajarkan kepada generasi setelahnya bagaimana shalat Nabi ﷺ yang sebenarnya. Maka beliau berkata: "Aku tidak akan berhenti untuk shalat bersama kalian sebagaimana aku melihat Nabi ﷺ shalat bersama kami."
Perkataan ini menunjukkan semangat Anas untuk mencontohkan sunnah secara langsung, bukan sekadar cerita.
2. Tentang Lamanya Berdiri Setelah Rukuk (I'tidal)
Anas radhiyallahu 'anhu berdiri lama setelah bangkit dari rukuk, sampai-sampai orang yang melihat mengira beliau lupa akan sujud. Ini menunjukkan bahwa i'tidal bukanlah gerakan singkat sekadar berdiri tegak lalu langsung sujud, melainkan ada ketenangan dan kelamaan di dalamnya.
3. Tentang Lamanya Duduk Antara Dua Sujud
Demikian pula antara sujud pertama dan sujud kedua, Anas duduk dengan lama hingga orang mengira beliau lupa sujud kedua. Duduk ini adalah duduk istirahat yang diisi dengan doa: "Rabbighfirli, Rabbighfirli" (Ya Tuhanku, ampunilah aku).
4. Pelajaran tentang Thuma'ninah
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan thuma'ninah, yaitu diam sejenak setelah setiap gerakan shalat hingga semua tulang kembali ke tempatnya. Bahkan:
- Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama fiqih menjelaskan bahwa thuma'ninah adalah rukun shalat. Shalat tidak sah tanpa thuma'ninah.
- Syaikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa lamanya thuma'ninah adalah sekadar semua anggota badan tenang dan tulang kembali ke posisinya. Namun yang lebih utama adalah memperlama sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ dalam hadits ini.
5. Peringatan dari Shalat Tergesa-gesa
Ada hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tentang seorang laki-laki yang shalat dengan tergesa-gesa (tidak thuma'ninah), lalu Nabi ﷺ menyuruhnya mengulang shalatnya sebanyak tiga kali. Ini menunjukkan bahwa shalat yang tidak thuma'ninah adalah shalat yang tidak sah menurut sebagian ulama, atau paling tidak sangat kurang sempurna.
6. Hikmah di Balik Kelamaan Ini
Kelamaan dalam shalat bukanlah tanpa hikmah. Di dalamnya ada:
- Kesempatan untuk berdoa dan memohon ampunan
- Latihan kekhusyukan dan menghadirkan hati
- Memberikan hak setiap anggota badan untuk beribadah dengan tenang
- Meneladani Nabi ﷺ secara sempurna
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang shalat sendirian dengan sangat cepat, tidak memberikan waktu bagi anggota tubuhnya untuk thuma'ninah. Maka Imam Ahmad berkata: "Aku khawatir shalatnya tidak sah."
Beliau juga dikenal sangat memperhatikan thuma'ninah dalam shalatnya. Sampai-sampai diceritakan bahwa beliau shalat dengan sangat lama dan khusyuk, dan ketika ditanya mengapa demikian, beliau menjawab bahwa beliau ingin meneladani cara shalat Nabi ﷺ yang penuh ketenangan.
Kisah lain, Al-Hasan al-Bashri - ulama tabi'in yang terkenal zuhud - apabila shalat, maka sangat khusyuk dan tenang. Beliau berkata: "Wahai anak Adam, shalatmu adalah amal yang pertama kali akan dihisab. Jika shalatmu baik, maka baiklah seluruh amalmu."
Kesimpulan Praktis
- Thuma'ninah adalah rukun shalat - shalat tidak sah tanpanya menurut pendapat yang kuat.
- Perbanyaklah doa antara dua sujud - seperti "Rabbighfirli, Rabbighfirli" (Ya Tuhanku, ampunilah aku).
- Jangan terburu-buru dalam shalat - berikan waktu yang cukup untuk setiap gerakan.
- Teladani Nabi ﷺ dalam setiap gerakan shalat - karena shalat adalah tiang agama dan amal pertama yang dihisab.
- Perbaiki kualitas shalat, bukan hanya kuantitasnya - shalat yang sedikit namun khusyuk lebih baik daripada banyak namun tergesa-gesa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.