Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah hadits yang sangat agung dan panjang, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Inti hadits ini menjelaskan tentang keyakinan Ahlus Sunnah bahwa kaum mukminin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta'ala di akhirat nanti (rukyatullah), sebagaimana mereka melihat bulan purnama dan matahari dengan jelas tanpa keraguan. Hadits ini juga menggambarkan peristiwa dahsyat di hari kiamat, yaitu saat manusia dikumpulkan, diikuti oleh sesembahan-sesembahan mereka, penegakan jembatan (shirath) di atas neraka, dan yang terpenting: keutamaan bekas sujud yang akan menyelamatkan pelakunya dari api neraka, serta kisah seorang hamba yang terakhir kali masuk surga karena rahmat Allah yang begitu luas.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid dan juga dalam bab Keutamaan Sujud (nomor 806). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.
Dalil Al-Qur'an tentang melihat Allah di akhirat:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat."
(QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23)
Ayat ini adalah dalil utama yang digunakan oleh para ulama Ahlus Sunnah, di antaranya Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, bahwa kaum mukminin akan benar-benar melihat Allah di akhirat. Imam As-Sa'di juga menjelaskan dalam tafsirnya bahwa "melihat kepada Tuhan mereka" adalah nikmat terbesar bagi penduduk surga.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya dalam beberapa tempat, salah satunya dalam Kitab Keutamaan Sujud (no. 806) dan juga dalam Kitab At-Tauhid (no. 7437). Imam Muslim juga meriwayatkannya dalam Kitabul Iman (no. 182).
Kaitan dengan ulama:
Hadits ini diriwayatkan dari jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri), dari Sa'id bin al-Musayyib dan 'Atha' bin Yazid al-Laitsi, dari Abu Hurairah. Kedua perawi ini (Sa'id bin al-Musayyib dan Az-Zuhri) termasuk ulama tabi'in yang sangat dihormati dan termasuk dalam daftar rujukan kita.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan hadits ini dari beberapa sisi:
1. Tentang Melihat Allah (Rukyatullah)
Hadits ini adalah salah satu dalil terkuat bahwa kaum mukminin akan melihat Allah di akhirat. Nabi ﷺ mengumpamakan melihat Allah seperti melihat bulan purnama dan matahari yang tidak terhalang awan. Ini menunjukkan bahwa melihat Allah di akhirat adalah sesuatu yang pasti dan jelas, tidak ada keraguan sedikit pun.
Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa penglihatan kepada Allah adalah kenikmatan terbesar bagi penduduk surga, melebihi segala kenikmatan lainnya. Beliau menukil dari para salaf bahwa melihat Allah adalah puncak dari segala kenikmatan.
2. Tentang Peristiwa Dikumpulkannya Manusia dan Mengikuti Sesembahan
Pada hari kiamat, Allah akan mengumpulkan seluruh manusia. Kemudian orang-orang yang menyembah matahari, bulan, atau berhala akan mengikuti sesembahan mereka. Ini menunjukkan bahwa pada hari itu, segala kepalsuan akan terbongkar. Yang tersisa hanyalah umat Islam beserta orang-orang munafik di antara mereka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa orang-orang munafik yang berada di antara umat Islam akan tertinggal bersama mereka, karena secara lahiriah mereka mengaku beriman. Namun ketika Allah datang dan berkata "Aku adalah Tuhan kalian", orang-orang munafik ini tidak akan mengenali-Nya, sementara orang-orang mukmin sejati akan berkata, "Engkau adalah Tuhan kami."
3. Tentang Shirath dan Bekas Sujud
Setelah itu, Allah memanggil orang-orang mukmin dan dibentangkanlah shirath (jembatan) di atas neraka. Nabi ﷺ adalah orang pertama yang melintas bersama umatnya. Di neraka terdapat besi-besi pengait seperti duri pohon sa'dan yang akan menyambar manusia sesuai amal mereka.
Yang sangat menarik adalah bagian tentang bekas sujud. Allah mengharamkan api neraka memakan bekas sujud pada anggota tubuh orang yang shalat. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan sujud di sisi Allah. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa ini adalah keutamaan besar bagi orang yang menjaga shalatnya, khususnya sujudnya, karena bekas sujud akan menjadi tanda pengenal bagi orang mukmin pada hari kiamat.
4. Tentang Kisah Orang Terakhir Masuk Surga
Bagian akhir hadits menceritakan tentang seorang laki-laki yang terakhir kali masuk surga. Ia berada di antara surga dan neraka, wajahnya menghadap neraka. Ia memohon kepada Allah agar dipalingkan wajahnya dari neraka, lalu meminta untuk didekatkan ke pintu surga, kemudian meminta untuk dimasukkan ke surga. Setiap kali ia meminta, Allah mengingatkannya tentang janji yang telah ia ucapkan, namun karena rahmat Allah, ia tetap diberi dan akhirnya Allah tertawa (dengan tertawa yang layak bagi keagungan-Nya) dan memasukkannya ke surga, bahkan memberinya sepuluh kali lipat dari apa yang ia minta.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan betapa luasnya rahmat dan karunia Allah. Allah Maha Pemurah, memberikan kepada hamba-Nya lebih dari apa yang mereka minta. Ini juga menunjukkan bahwa seorang hamba tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, meskipun ia telah banyak berbuat dosa.
Story Telling
Ada kisah yang sangat menyentuh tentang keutamaan sujud yang diriwayatkan dari para salaf. Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, seorang ulama tabi'in yang sangat terkenal dengan ibadah dan ketakwaannya, pernah berkata:
"Wahai anak Adam, engkau tidak akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari sujudmu kepada Allah. Sesungguhnya setiap kali engkau bersujud, Allah mengangkat derajatmu dan menghapus dosa-dosamu."
Beliau juga sering menangis ketika membayangkan hari kiamat, dan berkata: "Pada hari itu, orang-orang yang sujudnya banyak akan dikenal dengan bekas sujud mereka, dan mereka akan dikeluarkan dari neraka karena bekas sujud itu."
Kisah lain, Sa'id bin al-Musayyib — yang merupakan salah satu perawi hadits ini — dikenal sebagai ulama yang sangat menjaga shalatnya. Beliau shalat lima waktu berjamaah di masjid selama 40 tahun tanpa pernah tertinggal takbiratul ihram. Beliau memahami betul bahwa sujud adalah momen terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya, dan bekas sujud akan menjadi saksi dan penyelamat pada hari kiamat.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa kita akan melihat Allah di akhirat — ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah yang harus kita pegang teguh. Keyakinan ini akan melahirkan kerinduan untuk bertemu Allah dan semangat untuk beribadah kepada-Nya.
- Jaga shalat dan sujud kita — bekas sujud akan menjadi tanda pengenal kita di hari kiamat. Perbanyaklah sujud, perpanjanglah, dan khusyuklah di dalamnya karena sujud adalah saat paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya.
- Jangan berputus asa dari rahmat Allah — kisah orang terakhir masuk surga menunjukkan bahwa rahmat Allah begitu luas. Selama kita masih hidup dan masih bisa bertaubat, pintu rahmat Allah selalu terbuka.
- Jauhi kemunafikan — hadits ini menyebutkan bahwa orang-orang munafik akan tertinggal bersama umat Islam namun tidak mengenali Allah ketika Dia datang. Ini peringatan bagi kita untuk ikhlas dalam beribadah, bukan sekadar pamer di hadapan manusia.
- Perbanyak doa "Allahumma sallim sallim" — doa para rasul ketika melintasi shirath ini bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari, memohon keselamatan dunia dan akhirat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.