Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 799 tentang Keutamaan dzikir setelah rukuk dalam shalat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan luar biasa dari dzikir setelah bangun dari rukuk, yaitu membaca "Rabbana wa lakal hamdu, hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi". Dzikir ini disaksikan oleh lebih dari tiga puluh malaikat yang berlomba mencatat pahalanya. Ini mengajarkan kita untuk memperbanyak dzikir yang baik dan penuh keberkahan dalam shalat, khususnya setelah rukuk.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

Shahih Al-Bukhari, Kitab Adzan, Bab: (Bab tentang doa setelah rukuk), no. 799. Diriwayatkan dari Rifa'ah bin Rafi' Az-Zuraqi radhiyallahu 'anhu.

Teks Hadits (Arab dengan Harakat Lengkap):

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُجْمِرِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَحْيَى بْنِ خَلَّادٍ الزُّرَقِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ، قَالَ: كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ ﷺ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ: «سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ». قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ: رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ. فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: «مَنِ الْمُتَكَلِّمُ؟» قَالَ: أَنَا. قَالَ: «رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا، أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ».

Makna Ringkas:

Seorang sahabat menambahkan dzikir "Rabbana wa lakal hamdu, hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi" setelah imam mengucapkan "Sami'allahu liman hamidah". Nabi ﷺ kemudian memberitahu bahwa beliau melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba menuliskan pahala dzikir tersebut.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi (dalam Al-Majmu' dan Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa dzikir ini adalah bentuk pujian yang sempurna kepada Allah, dan hadits ini menunjukkan keutamaan memperbanyak dzikir dalam shalat.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menjelaskan bahwa kata "bidh'ah" (بِضْعَةً) berarti antara tiga hingga sembilan, sehingga "bidh'ah wa tsalatsun" berarti 33 malaikat atau lebih. Ini menunjukkan betapa agungnya dzikir tersebut di sisi Allah.
  • Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam Kitab Adzan, Bab tentang doa setelah rukuk, sebagai dalil disunnahkannya dzikir tambahan setelah bangun dari rukuk.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan beberapa pelajaran penting:

  1. Dzikir Setelah Bangun dari Rukuk: Setelah imam mengucapkan "Sami'allahu liman hamidah", makmum disunnahkan mengucapkan "Rabbana wa lakal hamdu". Namun, hadits ini menunjukkan bahwa boleh menambahkan dzikir lain yang baik, seperti yang dilakukan sahabat tersebut.
  2. Keutamaan Dzikir yang Banyak, Baik, dan Penuh Berkah: Sahabat itu mengucapkan "hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi" (pujian yang banyak, baik, dan diberkahi). Kata "katsiran" menunjukkan kuantitas, "thayyiban" menunjukkan kualitas yang baik dan suci, dan "mubarakan fihi" menunjukkan keberkahan yang terus mengalir. Ini adalah dzikir yang sangat dicintai Allah.
  3. Saksi Para Malaikat: Nabi ﷺ melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba mencatat pahala dzikir ini. Ini menunjukkan betapa istimewanya amalan ini di sisi Allah. Para malaikat adalah makhluk yang mulia dan selalu taat, dan mereka bersemangat untuk mencatat kebaikan hamba.
  4. Pentingnya Niat dan Keikhlasan: Sahabat itu tidak mengucapkan dzikir untuk pamer, tetapi karena dorongan iman dan cinta kepada Allah. Nabi ﷺ tidak menegurnya, bahkan memuji dan memberitahu keutamaannya. Ini menunjukkan bahwa amalan sunnah dalam shalat yang dilakukan dengan ikhlas akan mendapat ganjaran besar.

Pendapat Ulama:

  • Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad menganjurkan untuk membaca dzikir ini setelah bangun dari rukuk, baik sebagai imam, makmum, maupun shalat sendirian.
  • Imam Malik juga membolehkan tambahan dzikir ini, meskipun beliau lebih menekankan pada dzikir yang ma'tsur (sesuai sunnah).
  • Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah (dalam Zadul Ma'ad) menjelaskan bahwa dzikir ini mengandung pujian yang sempurna kepada Allah, karena menggabungkan sifat banyak (katsiran), baik (thayyiban), dan berkah (mubarakan).

Story Telling

Kisah ini mengingatkan kita pada semangat para sahabat dalam beribadah. Mereka tidak hanya mengikuti gerakan shalat secara formal, tetapi juga menghidupkan hati dengan dzikir yang penuh makna. Sahabat yang tidak disebutkan namanya ini, dengan penuh keberanian dan keikhlasan, menambahkan dzikir yang indah. Dan Nabi ﷺ, sebagai guru yang bijaksana, tidak hanya membiarkannya, tetapi juga memberikan kabar gembira tentang pahala yang luar biasa.

Dari sini kita belajar bahwa dalam beribadah, kita boleh menambahkan dzikir-dzikir yang baik selama tidak bertentangan dengan sunnah. Namun, yang terbaik adalah mengikuti contoh Nabi ﷺ dan para sahabat. Semangat mereka dalam beribadah hendaknya menjadi motivasi bagi kita untuk memperbaiki kualitas shalat kita.

Kesimpulan Praktis

  1. Amalkan dzikir setelah bangun dari rukuk: Ucapkan "Rabbana wa lakal hamdu" dan boleh ditambahkan "hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi".
  2. Perbanyak dzikir yang baik dan penuh keberkahan: Dzikir yang banyak, baik, dan diberkahi akan mendatangkan pahala yang besar, bahkan disaksikan malaikat.
  3. Ikhlas dalam beribadah: Lakukan semua amalan karena Allah, bukan karena ingin dipuji manusia.
  4. Jangan ragu untuk beramal sunnah: Selama tidak melanggar syariat, amalan sunnah yang baik akan mendekatkan kita kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.