Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 7562 tentang Ciri orang munafik yang membaca Al-Qur'an tanpa keimanan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu nubuwat (berita ghaib) Nabi ﷺ tentang munculnya kelompok Khawarij dari arah timur. Mereka adalah orang-orang yang rajin membaca Al-Qur'an, bahkan sampai menghafalnya, namun amalan dan bacaan mereka tidak melewati kerongkongan—artinya tidak meresap ke dalam hati. Mereka keluar dari agama seperti anak panah yang menembus buruan, dan tanda fisik mereka adalah mencukur habis rambut kepala. Hadits ini mengajarkan kita agar tidak tertipu oleh penampilan ibadah seseorang, dan agar kita menjauhi sikap ekstrem dalam beragama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ، حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ، سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ سِيرِينَ، يُحَدِّثُ عَنْ مَعْبَدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، ثُمَّ لاَ يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ". قِيلَ مَا سِيمَاهُمْ؟ قَالَ: "سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ" أَوْ قَالَ: "التَّسْبِيدُ"

(HR. Al-Bukhari, Kitab At-Tauhid, Bab: Pembacaan Orang Fajir dan Munafik, no. 7562)

Makna ringkas: "Akan keluar dari arah timur sekelompok orang yang membaca Al-Qur'an, tetapi bacaannya tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari buruan yang ditembak. Mereka tidak akan kembali ke dalam agama sampai anak panah kembali ke busurnya (mustahil)." Beliau ditanya, "Apa tanda-tanda mereka?" Beliau menjawab, "Tanda mereka adalah mencukur (rambut kepala)."

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hujurat [49]: 6

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."

Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak mudah tertipu oleh penampilan lahiriah atau klaim keagamaan seseorang, karena orang fasik pun bisa tampil dengan bacaan Al-Qur'an yang bagus.

Penjelasan ulama tentang hadits ini:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu tanda kenabian Muhammad ﷺ, karena beliau mengabarkan tentang munculnya kelompok Khawarij yang terjadi setelah wafat beliau. Beliau juga menjelaskan bahwa "tidak melewati kerongkongan" artinya bacaan dan amalan mereka tidak sampai ke hati, sehingga tidak memberi manfaat dan tidak merubah perilaku mereka.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa kelompok yang dimaksud adalah Khawarij, dan beliau menukil kesepakatan ulama bahwa mereka adalah kelompok sesat yang wajib diperangi oleh pemimpin yang adil.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa tanda "mencukur" ini adalah ciri fisik yang membedakan mereka, namun yang terpenting adalah ciri perilaku mereka: fanatik buta, mudah mengkafirkan sesama muslim, dan keluar dari ketaatan kepada pemimpin yang sah.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Membaca Al-Qur'an Tidak Melewati Kerongkongan"

Ungkapan ini adalah kiasan yang sangat dalam. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah bacaan Al-Qur'an mereka tidak sampai ke hati, tidak meresap ke dalam jiwa, dan tidak membekas dalam amalan. Mereka membaca, menghafal, bahkan mungkin memperindah suara, tetapi hati mereka kosong dari cahaya Al-Qur'an.

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa Al-Qur'an itu seperti hujan yang turun ke bumi. Jika bumi itu subur, maka akan tumbuh tanaman yang bermanfaat. Tetapi jika bumi itu tandus atau berbatu, maka air hujan hanya mengalir di permukaan tanpa meresap. Demikian pula hati manusia—jika hatinya bersih dan ikhlas, Al-Qur'an akan meresap dan mengubah hidupnya. Jika hatinya keras dan penuh kesombongan, maka Al-Qur'an hanya berhenti di lisan dan tidak sampai ke hati.

Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam "Kitab Tauhid" dan bab "Pembacaan Orang Fajir dan Munafik" untuk menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an saja tidak cukup—yang penting adalah mengamalkannya dengan ikhlas dan sesuai pemahaman salaf.

2. Makna "Keluar dari Agama Seperti Anak Panah"

Perumpamaan ini sangat halus. Anak panah yang ditembakkan ke buruan akan menembus tubuh buruan dan keluar dari sisi lain, meninggalkan bekas luka. Demikian pula Khawarij—mereka masuk ke dalam Islam, tetapi karena sikap ekstrem mereka, mereka "menembus" dan keluar dari Islam. Mereka tidak benar-benar memahami Islam, mereka hanya mengambil sebagian dalil dan meninggalkan sebagian yang lain.

Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa sifat Khawarij ini adalah mereka beribadah dengan sangat bersungguh-sungguh, bahkan sebagian sahabat merasa ibadah mereka kalah dibanding Khawarij. Namun karena kesalahan pemahaman, ibadah mereka justru menyesatkan mereka.

3. Tanda-Tanda Mereka: Mencukur Rambut

Nabi ﷺ menyebutkan tanda fisik mereka adalah mencukur habis rambut kepala. Ini adalah kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian Khawarij di zaman sahabat. Namun perlu dipahami bahwa ini bukanlah hukum—mencukur rambut itu sendiri tidak haram. Yang menjadi masalah adalah sikap dan keyakinan mereka yang menyimpang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa tanda fisik ini disebutkan agar orang-orang mengenali mereka, tetapi yang lebih penting adalah mengenali ciri-ciri pemikiran mereka: mudah mengkafirkan orang lain, memberontak kepada pemimpin muslim, dan merasa paling benar sendiri.

4. Pelajaran dari Hadits Ini

  • Jangan tertipu oleh penampilan ibadah. Seseorang bisa shalat malam, puasa, dan membaca Al-Qur'an dengan suara merdu, tetapi hatinya bisa penuh kesombongan dan kebencian.
  • Ilmu harus dibangun di atas pemahaman yang benar. Para sahabat dan tabi'in selalu menekankan pentingnya pemahaman yang benar sebelum beramal. Imam Muhammad bin Sirin—yang meriwayatkan hadits ini—berkata: "Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian."
  • Sikap ekstrem dalam beragama adalah bahaya besar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama adalah salah satu sebab utama kesesatan Khawarij.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika pasukan Khawarij keluar dan memerangi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, para sahabat melihat betapa tekunnya mereka beribadah. Mereka shalat malam, puasa di siang hari, dan membaca Al-Qur'an dengan khusyuk. Bahkan ada sahabat yang berkata, "Aku merasa ibadahku kalah dibanding mereka."

Namun Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata, "Mereka adalah orang-orang yang membenci kami, dan aku diperintahkan untuk memerangi mereka." Ketika perang terjadi, Ali memerintahkan pasukannya untuk mencari tanda yang disebutkan Nabi ﷺ—yaitu kepala yang dicukur habis. Dan benar saja, mereka menemukan banyak di antara Khawarij yang mencukur habis rambut kepala mereka, persis seperti yang dikabarkan Nabi ﷺ.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Ali berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Akan keluar dari umatku suatu kaum yang membaca Al-Qur'an, dan bacaan mereka tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari buruan.'" (HR. Al-Bukhari no. 7563)

Hikmah dari kisah ini: penampilan ibadah yang hebat tidak menjamin kebenaran. Yang paling penting adalah mengikuti pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah, bukan pemahaman pribadi yang menyimpang.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup, bukan sekadar bacaan di lisan. Bacalah dengan tadabbur (perenungan) dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Jauhi sikap ekstrem dalam beragama—jangan mudah mengkafirkan sesama muslim, jangan memberontak kepada pemimpin yang sah, dan jangan merasa paling benar sendiri.
  3. Pelajari agama dari ulama yang benar—yaitu ulama yang berpegang pada Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman para sahabat. Jangan belajar dari orang yang tidak jelas keilmuannya.
  4. Perhatikan niat dan hati—amalan yang sedikit tetapi ikhlas lebih baik daripada amalan banyak tetapi penuh riya' dan kesombongan.
  5. Jangan tertipu oleh penampilan—lihatlah kebenaran berdasarkan dalil, bukan berdasarkan siapa yang mengucapkannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.