Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah perumpamaan indah dari Nabi ﷺ tentang empat golongan manusia terkait Al-Qur'an. Intinya: seorang mukmin itu baik, dan jika ia membaca Al-Qur'an, kebaikannya semakin sempurna. Adapun orang fajir (yang bermaksiat), Al-Qur'an yang dibacanya tetap harum seperti buah yang harum, tetapi rasa pahit maksiatnya tetap ada. Hadits ini mengajarkan kita untuk senantiasa membaca Al-Qur'an dan memperbaiki diri, karena keduanya saling melengkapi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab "Bacaan Orang Fajir dan Munafik, Suara dan Bacaan Mereka Tidak Melewati Kerongkongan Mereka", nomor 7560, dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Al-Musafirin, dari riwayat Abu Musa juga.
Tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara khusus menjadi dalil langsung untuk hadits ini, namun maknanya sejalan dengan firman Allah tentang keutamaan Ahlul Qur'an, misalnya:
QS. Fathir [35]: 29-30 (potongan yang relevan):
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi."
Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in, seperti Qatadah (yang juga menjadi perawi hadits ini dari Anas), sangat memperhatikan keutamaan membaca Al-Qur'an. Qatadah sendiri dikenal sebagai ulama tafsir dan hadits yang sangat mencintai Al-Qur'an.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung empat perumpamaan yang sangat dalam:
- Mukmin yang membaca Al-Qur'an diibaratkan seperti buah utrujjah (sejenis jeruk sitrun). Buah ini memiliki rasa yang lezat dan aroma yang harum. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an memiliki dua kebaikan sekaligus: kebaikan iman di dalam hatinya dan kebaikan amal lahiriahnya (membaca Al-Qur'an). Iman dan bacaan Al-Qur'an-nya sama-sama memberikan manfaat, baik bagi dirinya maupun orang lain.
- Mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an diibaratkan seperti kurma. Rasanya manis dan lezat, tetapi tidak memiliki aroma. Ini menunjukkan bahwa ia tetap memiliki kebaikan iman di dalam hatinya, namun ia tidak menghiasi dirinya dengan bacaan Al-Qur'an. Kebaikannya tidak "tercium" oleh orang lain melalui lantunan ayat-ayat suci.
- Orang fajir (yang bermaksiat) yang membaca Al-Qur'an diibaratkan seperti ar-raihanah (tumbuhan yang harum). Aromanya harum, tetapi rasanya pahit. Ini menunjukkan bahwa bacaan Al-Qur'an-nya adalah sesuatu yang baik dan harum, namun kemaksiatan yang ia lakukan adalah "rasa pahit" yang melekat pada dirinya. Bacaan Al-Qur'an-nya bisa bermanfaat bagi orang lain yang mendengarnya, tetapi ia sendiri tetap dalam keadaan tercela karena perbuatan maksiatnya.
- Orang fajir yang tidak membaca Al-Qur'an diibaratkan seperti al-hanzhalah (buah kolokint/paria). Rasanya pahit dan tidak berbau harum. Ini adalah keadaan yang paling buruk. Ia tidak memiliki kebaikan iman maupun bacaan Al-Qur'an.
Pemahaman Ulama:
- Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan keutamaan Ahlul Qur'an. Beliau menukil bahwa membaca Al-Qur'an adalah sebaik-baik amal dan merupakan makanan hati bagi orang mukmin.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa bab ini (Bab Bacaan Orang Fajir) menunjukkan bahwa bacaan Al-Qur'an orang fajir tetap dianggap sebagai bacaan, namun tidak memberikan syafaat penuh baginya selama ia masih dalam kemaksiatan. Beliau juga menjelaskan bahwa perumpamaan ini menekankan pentingnya menggabungkan antara iman dan amal (membaca Al-Qur'an).
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini adalah dorongan untuk membaca Al-Qur'an dan juga peringatan agar tidak menjadi orang fajir. Beliau menekankan bahwa seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda, dan bacaannya akan menjadi cahaya baginya di dunia dan akhirat.
Perbedaan Pendapat: Tidak ada perbedaan pendapat yang prinsipil di antara ulama mengenai makna hadits ini. Semua sepakat bahwa hadits ini menjelaskan keutamaan membaca Al-Qur'an dan pentingnya iman. Perbedaan hanya pada detail buah-buahan yang disebutkan, namun itu tidak mempengaruhi makna.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Qatadah bin Di'amah As-Sadusi – seorang tabi'in besar dan salah satu perawi hadits ini – sangat mencintai Al-Qur'an. Beliau adalah seorang yang buta, namun Allah memberinya kekuatan hafalan yang luar biasa. Beliau menghafal Al-Qur'an dan banyak hadits. Suatu ketika, beliau ditanya, "Siapakah orang yang paling banyak menghafal hadits?" Beliau menjawab, "Al-Hasan Al-Bashri." Lalu ditanya lagi, "Siapakah yang paling banyak menghafal Al-Qur'an?" Beliau menjawab, "Aku."
Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat bersemangat dalam membaca dan menghafal Al-Qur'an. Mereka adalah contoh nyata dari perumpamaan "mukmin yang membaca Al-Qur'an" – buah yang harum dan lezat. Semangat mereka ini hendaknya menjadi teladan bagi kita.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyaklah membaca Al-Qur'an, karena ia adalah cahaya dan rahmat bagi orang mukmin. Bacaan Al-Qur'an akan menjadi syafaat bagi kita di hari kiamat.
- Jaga dan perbaiki iman kita. Iman adalah akar dari segala kebaikan. Tanpa iman, bacaan Al-Qur'an tidak akan sempurna manfaatnya bagi pelakunya.
- Jangan pernah meninggalkan Al-Qur'an, meskipun kita sedang dalam keadaan maksiat. Bacaan Al-Qur'an adalah kebaikan yang bisa menjadi jalan untuk kembali ke jalan Allah.
- Jadikan Al-Qur'an sebagai teman sehari-hari. Bacalah, pahami, dan amalkan isinya. Dengan begitu, kita akan menjadi seperti buah utrujjah yang harum dan lezat, bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.