Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar agung dari Nabi ﷺ tentang luasnya rahmat Allah Ta'ala. Ketika Allah selesai menciptakan makhluk, Dia menulis sebuah kitab di sisi-Nya yang berisi penetapan bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya. Kitab ini berada di sisi-Nya, di atas 'Arsy. Hadits ini menunjukkan bahwa rahmat Allah adalah sifat yang dominan dan mendahului murka-Nya, serta menjadi kabar gembira bagi seluruh makhluk.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (sesuai yang Anda cantumkan):
وَقَالَ لِي خَلِيفَةُ بْنُ خَيَّاطٍ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، سَمِعْتُ أَبِي، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ " لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ كِتَابًا عِنْدَهُ غَلَبَتْ ـ أَوْ قَالَ سَبَقَتْ ـ رَحْمَتِي غَضَبِي. فَهْوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ ".
Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ bersabda: "Ketika Allah menyelesaikan penciptaan, Dia menulis sebuah kitab di sisi-Nya: 'Rahmat-Ku telah mendahului Kemarahan-Ku.' Dan kitab itu berada di sisi-Nya, di atas 'Arsy."
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ
"Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang (rahmat)." (QS. Al-An'am [6]: 54)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah mewajibkan sifat rahmat kepada diri-Nya sendiri, yang merupakan konsekuensi dari berita dalam hadits di atas.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, Bab "Perkataan Allah Ta'ala", untuk menunjukkan bahwa menetapkan sifat rahmat dan murka bagi Allah adalah bagian dari tauhid dan pengakuan terhadap nama-nama serta sifat-sifat-Nya.
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil penetapan sifat rahmat dan murka bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menanyakan bagaimana caranya (bila kaifiyah).
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
- Makna "Ketika Allah menyelesaikan penciptaan" (لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ):
Ini menunjukkan bahwa penulisan kitab tersebut terjadi setelah Allah menyelesaikan penciptaan langit, bumi, dan seluruh makhluk. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah salah satu perkara yang telah Allah tetapkan dan tulis sejak awal, dan hal ini menunjukkan kesempurnaan ilmu dan kekuasaan Allah.
- Makna "Dia menulis sebuah kitab di sisi-Nya" (كَتَبَ كِتَابًا عِنْدَهُ):
Ini adalah kitab yang khusus berada di sisi Allah, bukan kitab catatan amal manusia. Kitab ini berisi ketetapan tentang dominasi rahmat Allah. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini menunjukkan bahwa rahmat Allah adalah sifat yang selalu menyertai seluruh ketetapan-Nya.
- Makna "Rahmat-Ku mendahului murka-Ku" (غَلَبَتْ رَحْمَتِي غَضَبِي) atau "Rahmat-Ku mendahului murka-Ku" (سَبَقَتْ رَحْمَتِي غَضَبِي):
Ada dua riwayat lafaz, yaitu ghalabat (mengalahkan) dan sabaqat (mendahului). Keduanya saling melengkapi. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa maknanya adalah rahmat Allah lebih luas, lebih besar, dan lebih dahulu ada daripada murka-Nya. Murka Allah hanya terjadi sebagai konsekuensi dari perbuatan hamba yang melanggar perintah-Nya, sedangkan rahmat Allah adalah sifat asal yang selalu menyertai-Nya.
- Makna "Kitab itu berada di sisi-Nya, di atas 'Arsy" (فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ):
Ini adalah kabar tentang keberadaan kitab tersebut yang mulia, berada di tempat yang tinggi, yaitu di sisi Allah di atas 'Arsy. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa penyebutan "di atas 'Arsy" adalah untuk mengagungkan kedudukan kitab tersebut dan menunjukkan bahwa ia adalah kitab yang sangat mulia di sisi Allah.
Kesimpulan dari para ulama: Hadits ini adalah salah satu dalil terkuat tentang luasnya rahmat Allah. Murka Allah itu nyata, tetapi rahmat-Nya jauh lebih dominan. Seorang hamba yang berbuat dosa tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, karena rahmat-Nya selalu mendahului murka-Nya. Namun, ini bukan berarti seseorang boleh meremehkan murka Allah. Justru, dengan mengetahui luasnya rahmat Allah, seorang hamba semakin terdorong untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Satu rahmat di antaranya Dia turunkan kepada jin, manusia, hewan, dan binatang melata. Dengan rahmat itulah mereka saling menyayangi, dan dengan rahmat itulah binatang buas menyayangi anaknya. Dan Dia menyimpan sembilan puluh sembilan rahmat untuk hamba-hamba-Nya di hari Kiamat." (HR. Muslim)
Hikmah dari kisah ini: Betapa luasnya rahmat Allah. Satu rahmat saja yang diturunkan ke dunia sudah cukup untuk membuat seluruh makhluk saling menyayangi. Bayangkan betapa agungnya sembilan puluh sembilan rahmat yang disimpan untuk hari Kiamat. Ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi orang-orang yang beriman. Jika di dunia saja rahmat Allah begitu terasa, maka di akhirat kelak rahmat-Nya akan jauh lebih sempurna dan melimpah bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah akan luasnya rahmat Allah. Jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya, sebesar apa pun dosa yang telah kita lakukan. Selama pintu taubat masih terbuka, rahmat Allah selalu menanti.
- Jangan meremehkan murka Allah. Meskipun rahmat-Nya mendominasi, murka-Nya adalah nyata dan akan menimpa orang-orang yang terus-menerus dalam kemaksiatan tanpa taubat.
- Perbanyaklah berdoa dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Karena dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah, kita semakin dekat dan memahami sifat-sifat-Nya yang sempurna.
- Amalkan rahmat dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita, maka kita pun hendaknya saling menyayangi antar sesama makhluk, terutama kepada yang lebih lemah, fakir, dan membutuhkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.