Penjelasan Hadits Bukhari No. 7541 tentang Surat Nabi kepada Heraklius berisi seruan tauhid

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah mengirim surat kepada Heraklius, raja Romawi, yang dibuka dengan basmalah dan berisi ayat Al-Qur'an. Para ulama memahami hadits ini sebagai dalil bahwa boleh menulis dan menerjemahkan makna kitab-kitab Allah (termasuk Al-Qur'an) ke bahasa lain untuk keperluan dakwah, dan boleh memulai surat resmi dengan basmalah. Ini juga menunjukkan luasnya dakwah Nabi ﷺ hingga kepada raja-raja non-Arab.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang disebutkan dalam hadits:

QS. Ali 'Imran [3]: 64

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Terjemahan: "Katakanlah: 'Wahai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat yang sama bagi kita, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.' Jika mereka berpaling, maka katakanlah: 'Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, nomor 7541, dari jalur Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, yang menerima berita dari Abu Sufyan bin Harb radhiyallahu 'anhu — saat beliau masih belum masuk Islam — tentang pertemuannya dengan Heraklius di Syam.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menerjemahkan dan membaca kitab-kitab Allah dalam bahasa selain Arab untuk menyampaikan hujjah kepada orang yang tidak memahami bahasa Arab. Imam Al-Bukhari sengaja meletakkan hadits ini dalam Kitab Tauhid pada bab tersebut untuk menetapkan kaidah ini.

Penjelasan Rinci

Konteks hadits:

Hadits ini adalah bagian dari kisah panjang yang diriwayatkan Ibnu 'Abbas dari Abu Sufyan bin Harb, ketika Abu Sufyan masih dalam keadaan musyrik dan sedang berada di Syam dalam urusan dagang. Heraklius, kaisar Romawi, memanggilnya bersama rombongan Quraisy untuk menanyakan tentang Nabi Muhammad ﷺ. Heraklius memeriksa surat Nabi ﷺ yang dikirim melalui Dihyah al-Kalbi radhiyallahu 'anhu.

Poin-poin penting menurut para ulama:

Pertama: Bolehnya menerjemahkan kitab Allah untuk dakwah.

Imam Al-Bukhari rahimahullah memberi judul bab: "Bab Apa yang Diperbolehkan dari Penafsiran Taurat dan Kitab-Kitab Allah Lainnya dalam Bahasa Arab dan Selainnya." Judul ini menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini sebagai dalil bahwa menerjemahkan dan menafsirkan kitab-kitab Allah — termasuk Al-Qur'an — ke bahasa lain diperbolehkan untuk keperluan menyampaikan kebenaran kepada orang yang tidak berbahasa Arab.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya menulis Al-Qur'an dan membacanya untuk orang kafir, serta menerjemahkan maknanya ke bahasa asing. Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang hukum menulis Al-Qur'an dalam bahasa selain Arab — sebagian membolehkan untuk dakwah, sebagian melarang secara mutlak. Namun yang rajih (kuat) adalah pendapat yang membolehkan penerjemahan makna (tafsir) untuk keperluan dakwah, bukan mengganti teks Al-Qur'an itu sendiri.

Kedua: Memulai surat dengan basmalah.

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memulai suratnya kepada Heraklius dengan "Bismillahir-Rahmanir-Rahim." Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim — ketika membahas hadits serupa dalam Shahih Muslim — menyebutkan bahwa ini menunjukkan sunnahnya memulai surat dan tulisan dengan basmalah.

Ketiga: Dakwah kepada raja-raja dan penguasa.

Nabi ﷺ mengirim surat kepada Heraklius, Kisra (raja Persia), Muqauqis (penguasa Mesir), dan Najasyi (raja Habasyah). Ini menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya ditujukan kepada orang awam, tetapi juga kepada para pemimpin, karena jika mereka masuk Islam, akan membawa kebaikan besar bagi rakyatnya.

Keempat: Kandungan tauhid dalam surat Nabi ﷺ.

Ayat yang dipilih Nabi ﷺ adalah QS. Ali 'Imran [3]: 64, yang berisi seruan tauhid murni: tidak menyembah selain Allah, tidak menyekutukan-Nya, dan tidak menjadikan sesama makhluk sebagai tuhan. Ini menunjukkan bahwa inti dakwah Nabi ﷺ kepada Ahli Kitab adalah mengembalikan mereka kepada tauhid yang murni, sebagaimana disebutkan Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya bahwa ayat ini adalah seruan kepada kesepakatan atas dasar tauhid.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa "kalimat yang sama" (كَلِمَةٍ سَوَاءٍ) dalam ayat ini adalah kalimat tauhid — landasan yang disepakati oleh seluruh nabi, yaitu tidak menyembah selain Allah.

Kelima: Heraklius memanggil penerjemah.

Dalam hadits disebutkan bahwa Heraklius memanggil تُرْجُمَانَهُ (penerjemahnya). Ini menunjukkan bahwa menerjemahkan isi surat — termasuk ayat Al-Qur'an — untuk dipahami oleh orang yang tidak berbahasa Arab adalah perkara yang dikenal dan diterima. Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini menjadi dalil bolehnya menerjemahkan Al-Qur'an untuk menyampaikan hujjah.

Story Telling

Dikisahkan oleh Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma — sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari — bahwa Abu Sufyan bin Harb menceritakan:

Ketika Heraklius berada di Iliya' (Yerusalem), ia mengirim utusan untuk mencari orang-orang Quraisy yang sedang berdagang di Syam. Abu Sufyan dan rombongannya dipanggil menghadap. Heraklius duduk di majelisnya dengan mahkota di kepala dan para pembesar Romawi di sekelilingnya.

Heraklius bertanya melalui penerjemahnya: "Siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan orang yang mengaku nabi ini?"

Abu Sufyan menjawab: "Aku yang paling dekat nasabnya."

Heraklius memerintahkan agar Abu Sufyan duduk di depannya dan para sahabatnya di belakangnya, lalu berkata: "Aku akan bertanya kepadamu tentang orang ini. Jika engkau berdusta, mereka akan mengetahuinya."

Abu Sufyan — yang saat itu masih musyrik — mengakui dalam hatinya bahwa ia ingin berdusta, tetapi ia tidak berani karena takut para sahabatnya akan menyaksikan kedustaannya. Maka ia pun menjawab dengan jujur.

Heraklius bertanya tentang nasab Nabi ﷺ, apakah ada orang lain yang mengaku hal serupa sebelumnya, apakah beliau pernah berdusta, apakah yang mengikutinya orang kuat atau lemah, apakah pengikutnya bertambah atau berkurang, apakah ada yang murtad karena benci, dan apakah mereka pernah berperang.

Setelah mendengar semua jawaban, Heraklius berkata: "Aku bertanya tentang nasabnya, engkau menjawab bahwa ia berasal dari nasab yang mulia. Demikianlah para nabi diutus dari nasab yang mulia. Aku bertanya apakah ada orang lain yang mengaku hal serupa sebelum dia, engkau menjawab tidak. Jika ada, aku akan mengatakan bahwa ia mengikuti klaim yang sudah ada sebelumnya..."

Kemudian Heraklius meminta surat Nabi ﷺ dibacakan. Surat itu dibuka dengan:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ

"Wahai Ahli Kitab, datanglah kepada kalimat yang adil antara kami dan kalian..."

Ketika Heraklius mendengar isi surat itu, ia mengakui kebenarannya. Namun ketika para pembesar Romawi di sekelilingnya bergemuruh menolak, Heraklius memerintahkan mereka keluar. Ia sendiri sebenarnya mengetahui kebenaran, tetapi tidak mau kehilangan kekuasaannya — sebagaimana disebutkan dalam riwayat bahwa ia takut kehilangan kerajaannya.

Hikmah: Dakwah harus disampaikan dengan cara yang paling baik dan jelas, termasuk kepada penguasa. Nabi ﷺ memilih ayat tauhid yang paling fundamental untuk disampaikan kepada Heraklius. Dan kebenaran tetap kebenaran, meskipun seseorang menolaknya karena kepentingan dunia.

Kesimpulan Praktis

  1. Boleh menerjemahkan makna Al-Qur'an ke bahasa lain untuk keperluan dakwah dan menyampaikan hujjah kepada orang yang tidak berbahasa Arab, sebagaimana dipahami Imam Al-Bukhari dan Ibnu Hajar.
  2. Sunnah memulai tulisan/surat dengan basmalah, terutama surat yang berisi perkara penting.
  3. Dakwah kepada penguasa dan pemimpin adalah bagian dari sunnah Nabi ﷺ, karena manfaatnya luas bagi masyarakat.
  4. Inti dakwah kepada Ahli Kitab adalah tauhid — mengajak kepada penyembahan hanya kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya, dan tidak menjadikan sesama makhluk sebagai tuhan.
  5. Hendaknya seorang dai menyampaikan kebenaran dengan jelas dan penuh hikmah, tanpa paksaan, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?