Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat agung dari Nabi ﷺ tentang keutamaan umat Islam. Beliau mengumpamakan perjalanan sejarah umat manusia seperti satu hari, dari pagi hingga matahari terbenam. Umat-umat terdahulu (Yahudi dan Nasrani) diberi waktu yang lebih panjang untuk beramal, namun pahala mereka sedikit. Adapun umat Islam, waktu beramalnya paling singkat (seperti waktu Ashar hingga Maghrib), tetapi pahalanya paling besar, dua kali lipat. Ini semua adalah karunia dan keutamaan dari Allah ﷻ semata, bukan karena kita lebih hebat, tetapi karena kemurahan Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab: Perkataan Allah ﷻ: "Katakanlah: Datangkanlah Taurat itu, lalu bacalah" (QS. Ali 'Imran [3]: 93), no. 7533, dari sahabat Ibnu Umar (Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab) radhiyallahu 'anhuma.
Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan makna hadits ini adalah firman Allah ﷻ:
قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
"Katakanlah (Muhammad), 'Bawalah Taurat itu, lalu bacalah, jika kamu orang-orang yang benar.'"
(QS. Ali 'Imran [3]: 93)
Ayat ini menjadi judul bab dalam Shahih Al-Bukhari karena hadits ini berkaitan dengan sikap Ahlul Kitab yang mengingkari keutamaan umat Islam, padahal dalam kitab mereka sendiri (Taurat) terdapat kabar tentang hal tersebut. Allah menantang mereka untuk membuktikan dengan kitab mereka, dan ternyata mereka tidak mampu.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam beberapa tempat lain, di antaranya dalam Kitab Al-Mawaqit (no. 557) dan Kitab Ar-Riqaq (no. 6491), serta diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1957).
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran besar:
1. Makna Perumpamaan Waktu
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan bahwa masa beramalnya umat-umat terdahulu lebih panjang dibandingkan umat ini. Namun, karena umat Nabi Muhammad ﷺ diberikan Al-Qur'an yang kekal terjaga dan syariat yang sempurna, maka Allah memberikan pahala yang berlipat ganda meskipun waktu mereka lebih singkat.
2. Makna "Satu Qirat" dan "Dua Qirat"
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa qirat adalah ukuran pahala yang diketahui oleh Allah. Yang penting di sini adalah perbandingannya: Ahlul Kitab mendapat satu qirat, sedangkan umat Islam mendapat dua qirat. Ini menunjukkan keutamaan umat ini dalam hal pahala, meskipun amalan mereka secara kuantitas lebih sedikit karena usia dunia yang tersisa memang lebih pendek.
3. Mengapa Ahlul Kitab Keberatan?
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Ahlul Kitab merasa keberatan karena mereka bekerja lebih lama (dari pagi hingga tengah hari atau hingga Ashar) tetapi pahalanya hanya satu qirat, sementara umat Islam bekerja lebih singkat (dari Ashar hingga Maghrib) tetapi mendapat dua qirat. Maka Allah menjawab dengan pertanyaan: "Apakah Aku zalim kepada kalian?" Mereka menjawab tidak. Lalu Allah berfirman: "Itulah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki."
4. Pelajaran tentang Kezaliman dan Karunia Allah
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa jawaban Allah ini menegaskan dua hal:
- Allah tidak pernah zalim kepada siapa pun. Setiap orang mendapat balasan sesuai amalnya secara adil.
- Kelebihan pahala yang diberikan kepada umat Islam adalah murni karunia Allah, bukan karena kewajiban dari Allah. Allah bebas memberikan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.
5. Keutamaan Umat Nabi Muhammad ﷺ
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini adalah salah satu dalil tentang keutamaan umat ini dibandingkan umat-umat sebelumnya. Meskipun usia dunia mereka lebih pendek, Allah memberikan pahala yang lebih besar karena kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ dan kemuliaan Al-Qur'an yang mereka bawa.
6. Hikmah Penamaan Bab oleh Al-Bukhari
Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini di bawah bab tentang firman Allah dalam QS. Ali 'Imran [3]: 93 karena hadits ini menunjukkan bahwa Ahlul Kitab sebenarnya mengetahui kebenaran dari kitab-kitab mereka, namun mereka tetap mengingkarinya. Ini sebagaimana mereka mengingkari kenabian Muhammad ﷺ padahal telah ada kabar gembira tentangnya dalam Taurat dan Injil.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika hadits ini sampai kepada sebagian sahabat, mereka merasa sangat gembira. Dalam riwayat lain dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu (HR. Al-Bukhari no. 557), Nabi ﷺ bersabda bahwa perumpamaan umat Islam, Yahudi, dan Nasrani adalah seperti seorang pekerja yang diupah. Orang-orang Yahudi bekerja dari pagi hingga tengah hari mendapat satu qirat, lalu mereka marah dan pergi. Orang-orang Nasrani bekerja dari pagi hingga Ashar mendapat satu qirat, lalu mereka juga marah dan pergi. Adapun umat Islam bekerja dari pagi hingga malam dan menerima dua qirat, maka mereka pun merasa heran: "Kami lebih banyak bekerja dan lebih banyak menerima upah?" Maka Allah berfirman: "Apakah Aku mengurangi hak kalian?" Mereka menjawab tidak. Allah berfirman: "Itulah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki."
Hikmah dari kisah ini: Jangan pernah iri kepada orang lain atas karunia Allah. Umat Islam seharusnya bersyukur atas karunia besar yang Allah berikan, yaitu iman, Al-Qur'an, dan syariat Nabi Muhammad ﷺ. Dan jangan pernah merasa bahwa amal kita lebih banyak dari orang lain, karena semua adalah karunia Allah semata.
Kesimpulan Praktis
- Bersyukurlah menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad ﷺ, karena Allah telah memberikan karunia yang sangat besar berupa pahala berlipat ganda meskipun usia kita lebih pendek.
- Jangan pernah merasa iri kepada orang lain atas karunia yang Allah berikan, karena Allah bebas memberikan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.
- Yakinlah bahwa Allah tidak pernah zalim, setiap orang akan mendapat balasan yang adil sesuai amalnya.
- Manfaatkan waktu yang singkat ini dengan memperbanyak amal shalih, karena kita tidak tahu kapan matahari kehidupan kita akan terbenam.
- Jangan berdebat dengan Ahlul Kitab tentang keutamaan agama, karena kebenaran telah jelas dan Allah telah memberikan karunia-Nya kepada umat ini.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.