Penjelasan Hadits Bukhari No. 7517 tentang Mimpi para nabi dan persiapan Isra Mi'raj

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa Isra' Mi'raj, khususnya saat Nabi ﷺ diangkat ke Sidratul Muntaha dan menerima perintah shalat lima puluh waktu, yang akhirnya diringankan menjadi lima waktu. Hadits ini menegaskan kemuliaan Nabi ﷺ, keutamaan shalat, dan kasih sayang Allah kepada umat ini. Hadits ini juga menunjukkan bahwa para nabi tidur dengan mata namun hati mereka tetap terjaga, dan bahwa Musa عليه السلام memberi nasihat kepada Nabi ﷺ karena kasih sayangnya kepada umat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait Isra' Mi'raj:

QS. Al-Isra' [17]: 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Terjemahan: "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

QS. An-Najm [53]: 13-18

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ ﴿١٣﴾ عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ ﴿١٤﴾ عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ ﴿١٥﴾ إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ ﴿١٦﴾ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ ﴿١٧﴾ لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ ﴿١٨﴾

Terjemahan: "Dan sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat Jibril itu pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhannya yang paling besar."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, Bab Perkataan-Nya "وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا", nomor 7517. Perawi sahabat: Ibnu Malik (yaitu Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu).

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan panjang lebar hadits ini, termasuk masalah ru'yah (penglihatan Nabi ﷺ terhadap Allah) dan makna "دَنَا فَتَدَلَّى".
  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa para nabi tidur dengan mata namun hati mereka terjaga.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat-ayat Isra' Mi'raj dan kaitannya dengan hadits ini.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya membahas hikmah di balik pengurangan shalat dari lima puluh menjadi lima.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits paling agung dalam Shahih Al-Bukhari, yang menceritakan peristiwa Isra' Mi'raj secara rinci. Imam Al-Bukhari menempatkannya dalam Kitab Tauhid, yang menunjukkan bahwa peristiwa ini berkaitan erat dengan tauhid dan sifat-sifat Allah, khususnya sifat kalam (berbicara) Allah kepada Musa عليه السلام.

Beberapa poin penting yang dijelaskan para ulama:

1. Para nabi tidur dengan mata, hati tetap terjaga.

Dalam hadits disebutkan: "وَتَنَامُ عَيْنُهُ وَلاَ يَنَامُ قَلْبُهُ وَكَذَلِكَ الأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلاَ تَنَامُ قُلُوبُهُمْ" — "Matanya tidur tetapi hatinya tidak tidur, dan demikianlah para nabi: mata mereka tidur tetapi hati mereka tidak tidur."

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah kekhususan para nabi, agar mereka selalu sadar dan tidak lalai dari mengingat Allah, bahkan saat tidur.

2. Pembelahan dada Nabi ﷺ dan pengisian dengan iman dan hikmah.

Jibril membelah dada Nabi ﷺ, mencucinya dengan air Zamzam, lalu mengisinya dengan iman dan hikmah. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah persiapan ruhani sebelum menghadap Allah, membersihkan hati dari segala kotoran dan mengisinya dengan cahaya iman.

3. Pertemuan dengan para nabi di langit.

Nabi ﷺ bertemu Adam di langit pertama, Idris di langit kedua, Harun di langit keempat, Ibrahim di langit keenam, dan Musa di langit ketujuh. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ini menunjukkan kemuliaan para nabi dan kedudukan mereka yang berbeda-beda di sisi Allah.

4. Perintah shalat lima puluh waktu dan syafa'at Musa.

Allah mewajibkan lima puluh shalat, lalu Musa menyarankan Nabi ﷺ untuk meminta keringanan karena umatnya lemah. Nabi ﷺ bolak-balik menghadap Allah hingga akhirnya shalat menjadi lima waktu, namun pahalanya tetap lima puluh karena setiap kebaikan dibalas sepuluh kali lipat.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa ini menunjukkan kasih sayang Allah dan hikmah-Nya, serta keutamaan Musa عليه السلام yang sangat peduli kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.

5. Perkataan Allah: "لاَ يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَىَّ"

Allah berfirman: "Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah." Ini menunjukkan bahwa apa yang telah Allah tetapkan dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) tetap berlaku, dan pengurangan ini sudah diketahui Allah sejak azali.

Perbedaan pendapat ulama:

  • Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar menyebutkan bahwa "دَنَا فَتَدَلَّى" bisa merujuk kepada Jibril atau kepada Allah, namun yang paling kuat menurut jumhur ulama adalah bahwa yang mendekat adalah Jibril, dan Nabi ﷺ melihat Jibril dalam bentuk aslinya.
  • Tentang ru'yah (melihat Allah), Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala di dunia, berdasarkan hadits lain yang shahih.

Story Telling

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa pada malam Isra' Mi'raj, Nabi ﷺ dibawa naik ke langit. Di langit ketujuh, beliau bertemu Musa عليه السلام. Musa bertanya, "Apa yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu?" Nabi ﷺ menjawab, "Lima puluh shalat." Musa berkata, "Umatmu tidak akan mampu. Aku telah mencoba Bani Israil dengan yang lebih ringan dari itu, tetapi mereka gagal. Kembalilah kepada Tuhanmu, minta keringanan."

Nabi ﷺ pun kembali menghadap Allah, dan Allah mengurangi sepuluh shalat. Demikian seterusnya hingga tinggal lima shalat. Musa masih menyarankan untuk meminta keringanan lagi, tetapi Nabi ﷺ berkata, "Wahai Musa, demi Allah, aku telah malu kepada Tuhanku karena terlalu sering kembali kepada-Nya."

Kisah ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Musa kepada umat Nabi Muhammad ﷺ, dan betapa Nabi ﷺ sangat menghormati dan malu kepada Allah. Akhirnya, Allah menetapkan lima shalat dengan pahala lima puluh, sebagai bentuk rahmat-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat adalah ibadah paling utama yang diperintahkan langsung oleh Allah tanpa perantara, menunjukkan kedudukannya yang sangat tinggi.
  2. Bersyukurlah atas keringanan yang Allah berikan: lima shalat dengan pahala lima puluh.
  3. Jaga shalat lima waktu dengan sebaik-baiknya, karena itu adalah warisan dari Isra' Mi'raj.
  4. Teladani kasih sayang para nabi kepada umat, sebagaimana Musa menasihati Nabi ﷺ.
  5. Yakinlah bahwa keputusan Allah tidak berubah, dan apa yang Dia tetapkan adalah yang terbaik.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?