Penjelasan Hadits Bukhari No. 7513 tentang Kebesaran Allah pada hari kiamat dan keesaan-Nya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang kebesaran dan keagungan Allah ﷻ pada Hari Kiamat, di mana seluruh langit, bumi, air, tanah, dan seluruh makhluk berada dalam genggaman-Nya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa berita tentang kebesaran Allah yang disampaikan oleh seorang pendeta Yahudi itu dibenarkan oleh Nabi ﷺ, bahkan beliau tersenyum kagum dan membacakan ayat Al-Qur'an yang menguatkan kebenaran berita tersebut. Ini adalah dalil penetapan sifat-sifat Allah sesuai dengan yang layak bagi-Nya, tanpa menanyakan "bagaimana" (tanpa takyif) dan tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk (tanpa tamtsil).

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang dibacakan Nabi ﷺ:

QS. Az-Zumar [39]: 67

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖ وَاْلْاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖ ۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."

2. Hadits terkait:

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari dalam Kitab Tauhid, Bab "Pembicaraan Tuhan Yang Maha Tinggi pada Hari Kiamat Bersama Para Nabi dan Selainnya", dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

3. Kaitan dengan ulama:

  • Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) memuat hadits ini dalam Shahih-nya sebagai dalil penetapan sifat "tangan" dan "jari" bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya.
  • Imam Ibnu Khuzaymah (wafat 311 H) dalam Kitab At-Tauhid menyebutkan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah dan menegaskan bahwa kaum muslimin wajib menetapkan apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (wafat 1421 H) dalam Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalil penetapan sifat "jari" bagi Allah, namun kita tidak mengetahui hakikatnya karena itu termasuk perkara ghaib.

Penjelasan Rinci

Makna Hadits

Hadits ini mengisahkan seorang pendeta Yahudi yang datang kepada Nabi ﷺ dan menyampaikan berita dari kitab Taurat bahwa pada Hari Kiamat, Allah akan meletakkan langit-langit di atas satu jari, bumi-bumi di atas satu jari, air dan tanah di atas satu jari, serta seluruh makhluk di atas satu jari. Kemudian Allah menggoyangkan mereka dan berfirman, "Akulah Raja! Akulah Raja!"

Yang menarik, Nabi ﷺ tidak mengingkari berita ini. Bahkan beliau tersenyum hingga tampak gigi gerahamnya karena kagum dan membenarkan berita tersebut. Kemudian beliau membacakan ayat dari Surah Az-Zumar yang menegaskan makna yang sama.

Pemahaman Ulama

1. Penetapan Sifat Allah tanpa Takyif dan Tamtsil

Para ulama Ahlus Sunnah dari kalangan salaf menjelaskan bahwa hadits ini menetapkan sifat "jari" bagi Allah ﷻ, namun kita tidak mengetahui bagaimana hakikatnya.

Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H) berkata: "Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya atau apa yang Rasul-Nya ﷺ sifatkan untuk-Nya. Tidak boleh melampaui Al-Qur'an dan hadits." (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah)

Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) ketika ditanya tentang istiwa (bersemayamnya Allah di atas 'Arsy), beliau menjawab: "Istiwa itu diketahui maknanya, cara (hakikatnya) tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Perkataan ini juga berlaku untuk seluruh sifat Allah, termasuk sifat "jari".

2. Makna "Aku adalah Raja"

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (wafat 795 H) dalam At-Takhwif min An-Nar menjelaskan bahwa firman Allah "Aku adalah Raja" pada Hari Kiamat adalah penegasan bahwa pada hari itu seluruh kerajaan dan kekuasaan makhluk lenyap. Tidak ada seorang pun yang mengaku raja atau memiliki kekuasaan. Semua tunduk dan hina di hadapan Allah.

3. Tersenyumnya Nabi ﷺ

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa senyum Nabi ﷺ di sini adalah ekspresi kekaguman terhadap kebenaran berita yang disampaikan pendeta Yahudi tersebut, sekaligus sebagai pengakuan bahwa berita itu sesuai dengan apa yang Allah firmankan dalam Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak dilihat dari siapa yang menyampaikannya, tetapi dari kesesuaiannya dengan wahyu.

4. Ayat "Wa ma qadarullah haqqa qadrih"

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (wafat 1376 H) dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah manusia tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Seandainya mereka benar-benar mengagungkan Allah, mereka tidak akan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Ayat ini juga menegaskan bahwa seluruh alam semesta berada dalam kekuasaan dan genggaman Allah pada Hari Kiamat.

Perbedaan Pendapat yang Perlu Diketahui

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah hadits-hadits sifat seperti ini harus dipahami secara tekstual atau ditakwilkan:

  • Ulama Salaf (termasuk Imam Ahmad, Imam Malik, Al-Bukhari, dan ulama lain dalam daftar) menetapkan sifat-sifat ini tanpa menanyakan bagaimana caranya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, dan tanpa menolak atau mengingkari.
  • Sebagian ulama khalaf (belakangan) menakwilkan kata "jari" dengan makna kekuasaan. Namun pendapat ini lemah karena bertentangan dengan zhahir nash.

Pendapat yang kuat adalah pendapat salaf: kita tetapkan apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan, kita imani tanpa bertanya "bagaimana", dan kita sucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah (wafat 150 H) pernah didatangi oleh seseorang yang bertanya tentang sifat-sifat Allah. Beliau menjawab dengan bijak: "Allah tidak boleh disifati dengan sifat-sifat makhluk. Barangsiapa menetapkan sifat bagi Allah dengan cara yang sama seperti sifat makhluk, maka dia telah kafir. Barangsiapa mengingkari sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya, maka dia juga telah kafir. Adapun orang yang menetapkan sifat-sifat itu sebagaimana yang Allah tetapkan tanpa menanyakan bagaimana caranya, maka dia berada di atas jalan yang lurus."

Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat berhati-hati dalam masalah sifat-sifat Allah. Mereka tidak berlebihan dalam menetapkan (sehingga menyerupakan Allah dengan makhluk) dan tidak pula mengingkari (sehingga menolak nash). Mereka berjalan di tengah-tengah sesuai petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah.

Kesimpulan Praktis

  1. Wajib mengimani bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang Dia tetapkan untuk diri-Nya dan yang ditetapkan oleh Rasul-Nya ﷺ, termasuk sifat "jari" dalam hadits ini, tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya.
  2. Menjauhi dua sikap ekstrem: jangan menyerupakan Allah dengan makhluk (tamtsil) dan jangan mengingkari atau menolak sifat-sifat yang telah ditetapkan (ta'thil).
  3. Mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, yaitu dengan tidak menyekutukan-Nya, tidak menyerupakan-Nya dengan makhluk, dan tidak mempertanyakan hal-hal yang tidak kita ketahui ilmunya.
  4. Menerima kebenaran dari siapa pun, sebagaimana Nabi ﷺ membenarkan berita pendeta Yahudi yang sesuai dengan wahyu, selama kebenaran itu bersumber dari Al-Qur'an dan hadits yang shahih.
  5. Bersyukur atas nikmat Islam yang mengajarkan kita untuk beriman kepada yang ghaib dengan penuh ketundukan, tanpa memaksakan akal untuk memahami hal-hal yang di luar jangkauannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?