Penjelasan Hadits Bukhari No. 7510 tentang Syafaat Nabi Muhammad di hari kiamat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah hadits tentang syafaat agung (asy-syafa'atul 'udzma) yang Allah khususkan untuk Nabi Muhammad ﷺ pada hari kiamat. Hadits ini menjelaskan bahwa manusia pada hari kiamat akan meminta syafaat kepada para nabi secara berurutan—Adam, Ibrahim, Musa, dan Isa—namun mereka semua menolak karena kedudukan tersebut hanya milik Nabi Muhammad ﷺ. Beliau akan meminta izin kepada Allah, sujud, memuji-Nya, lalu memohon syafaat untuk umatnya. Hadits ini juga menegaskan bahwa orang yang beriman walaupun sebesar biji sawi akan dikeluarkan dari neraka, dan bahwa syafaat terakhir adalah untuk orang yang mengucapkan "Laa ilaaha illallah".

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab "Pembicaraan Tuhan Yang Maha Tinggi Pada Hari Kiamat Bersama Para Nabi dan Selain Mereka", no. 7510. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab "Adna Ahlinnar 'Adzaban", no. 193, dari jalur Ma'bad bin Hilal Al-'Anazi dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Adapun dalil dari Al-Qur'an yang berkaitan dengan syafaat, Allah berfirman:

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ

"Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas." (QS. Ad-Dhuha [93]: 5)

Ayat ini ditafsirkan oleh para ulama—sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya—bahwa di antara karunia yang Allah berikan kepada Nabi ﷺ adalah syafaat yang membuat beliau ridha, yaitu syafaat agung pada hari kiamat.

Juga firman Allah:

عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

"Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra' [17]: 79)

Ibnu Katsir dan para ulama tafsir menjelaskan bahwa al-maqam al-mahmud (tempat terpuji) adalah syafaat agung yang diberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ pada hari kiamat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits terpenting tentang syafaat. Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting darinya:

1. Keutamaan Nabi Muhammad ﷺ dan Syafaat Agung

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa syafaat agung ini khusus untuk Nabi Muhammad ﷺ. Para nabi lain—Adam, Ibrahim, Musa, dan Isa—semuanya berkata "لست لها" (aku tidak layak untuk itu) karena kedudukan ini adalah hak istimewa Nabi Muhammad ﷺ. Ini menunjukkan keutamaan beliau di atas seluruh makhluk.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah menjelaskan bahwa syafaat ini disebut asy-syafa'atul 'udzma karena mencakup seluruh manusia, dan hanya Nabi Muhammad ﷺ yang diberi kedudukan ini.

2. Makna "لست لها" (Aku tidak layak untuk itu)

Para ulama menjelaskan bahwa para nabi yang dimintai syafaat merasa tidak layak karena kedudukan ini memang khusus untuk Nabi Muhammad ﷺ. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penolakan para nabi ini bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka tahu bahwa kedudukan ini telah ditetapkan untuk Nabi Muhammad ﷺ.

3. Urutan Para Nabi yang Dimintai Syafaat

Hadits ini menyebutkan urutan: Adam, Ibrahim, Musa, lalu Isa. Para ulama menjelaskan hikmah urutan ini:

  • Adam: karena beliau adalah bapak manusia, namun beliau menyebut dosanya (memakan buah terlarang) sebagai alasan tidak layak
  • Ibrahim: karena beliau adalah khalilurrahman (kekasih Allah), namun beliau juga tidak layak
  • Musa: karena beliau adalah kalimullah (orang yang diajak bicara Allah), namun beliau juga tidak layak
  • Isa: karena beliau adalah ruhullah wa kalimatuh, namun beliau juga tidak layak

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa penyebutan gelar-gelar mulia ini menunjukkan bahwa meskipun mereka memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, syafaat agung tetap khusus untuk Nabi Muhammad ﷺ.

4. Pujian yang Diilhamkan kepada Nabi ﷺ

Nabi ﷺ bersabda: "Allah mengilhami aku pujian-pujian yang aku memuji-Nya dengannya, yang tidak hadir padaku sekarang." Ini menunjukkan bahwa pada hari kiamat, Allah akan mengajarkan kepada Nabi ﷺ pujian-pujian khusus yang belum beliau ketahui di dunia. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam At-Takhwif min An-Nar menjelaskan bahwa ini adalah bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada Nabi ﷺ.

5. Syafaat untuk Umat yang Beriman Walaupun Sebesar Biji Sawi

Hadits ini menyebutkan tiga tingkatan pengeluaran dari neraka:

  • Pertama: orang yang hatinya ada iman seberat sya'irah (biji jelai)
  • Kedua: orang yang hatinya ada iman seberat dzarrah (atom) atau khardalah (biji sawi)
  • Ketiga: orang yang hatinya ada iman seberat adna adna adna mitsqali habbati khardal (paling rendah dari seberat biji sawi)

Ini menunjukkan bahwa iman sekecil apa pun akan menyelamatkan seseorang dari kekekalan di neraka. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab At-Tauhid menyebutkan hadits ini sebagai dalil bahwa tauhid dan iman adalah sebab selamat dari neraka.

6. Syafaat Terakhir untuk Ahli Tauhid

Pada permohonan keempat, Nabi ﷺ meminta izin untuk orang yang mengucapkan "Laa ilaaha illallah". Allah menjawab: "Demi kemuliaan-Ku, keagungan-Ku, kebesaran-Ku, dan kekuasaan-Ku, sungguh Aku akan mengeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah."

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab At-Tauhid karena di dalamnya terdapat penetapan sifat-sifat Allah: 'izzah (kemuliaan), jalal (keagungan), kibriya' (kebesaran), dan 'azhamah (kekuasaan). Ini adalah sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya, dan kita menetapkannya tanpa menanyakan bagaimana caranya.

7. Pelajaran tentang Adab Berdoa dan Meminta kepada Allah

Nabi ﷺ dalam hadits ini memulai dengan memuji Allah, lalu sujud, baru kemudian meminta. Ini mengajarkan adab berdoa: memulai dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, kemudian baru menyampaikan permintaan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ma'bad bin Hilal Al-'Anazi berkata: "Kami berkumpul, sekelompok orang dari Basrah, lalu kami pergi menemui Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Kami membawa Tsabit Al-Bunnani untuk bertanya kepada Anas tentang hadits syafaat. Ternyata Anas sedang berada di istananya, dan kami mendapatinya sedang shalat Dhuha. Kami meminta izin, dan dia mengizinkan kami sementara dia duduk di atas tempat tidurnya."

Kemudian Tsabit bertanya, dan Anas menceritakan hadits ini. Setelah keluar dari rumah Anas, Ma'bad berkata kepada teman-temannya: "Bagaimana kalau kita menemui Al-Hasan Al-Bashri yang sedang bersembunyi di rumah Abu Khalifah, lalu kita ceritakan hadits ini kepadanya?"

Mereka pun menemui Al-Hasan. Setelah mendengar hadits tersebut, Al-Hasan berkata: "Anas telah menceritakan hadits ini kepadaku dua puluh tahun yang lalu ketika dia masih muda. Aku tidak tahu apakah dia lupa atau dia tidak ingin kalian bersandar pada apa yang dia katakan."

Mereka berkata: "Wahai Abu Sa'id, ceritakanlah kepada kami." Al-Hasan tersenyum dan berkata: "Manusia diciptakan dalam keadaan tergesa-gesa. Aku tidak menyebutkannya kecuali aku ingin menceritakannya kepada kalian. Anas menceritakan kepadaku sebagaimana dia menceritakan kepada kalian, dan dia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda: 'Kemudian aku kembali untuk keempat kalinya, aku memuji-Nya dengan pujian itu, lalu aku sujud kepada-Nya. Dikatakan kepadaku: Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, bicaralah engkau akan didengar, mintalah engkau akan diberi, dan berikanlah syafaat niscaya syafaatmu diterima. Aku berkata: Wahai Tuhanku, izinkanlah aku memberikan syafaat bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah. Allah berfirman: Demi kemuliaan-Ku, keagungan-Ku, kebesaran-Ku, dan kekuasaan-Ku, sungguh Aku akan mengeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah.'"

Kisah ini menunjukkan semangat para sahabat dan tabi'in dalam menjaga dan menyampaikan hadits-hadits Nabi ﷺ. Mereka berusaha keras untuk mendapatkan hadits ini, bahkan berjalan jauh dari Basrah ke Madinah hanya untuk mendengar satu hadits tentang syafaat.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa syafaat agung adalah milik Nabi Muhammad ﷺ—ini adalah keutamaan yang Allah khususkan untuk beliau, dan kita harus meyakininya sebagai bagian dari iman kepada hari akhir.
  2. Perbanyak mengucapkan "Laa ilaaha illallah" dengan ikhlas—karena hadits ini menegaskan bahwa orang yang mengucapkannya dengan iman di hatinya akan dikeluarkan dari neraka.
  3. Jangan meremehkan amal kebaikan sekecil apa pun—karena iman seberat biji sawi pun bisa menjadi sebab selamat dari neraka.
  4. Pelajari adab berdoa dari Nabi ﷺ—mulailah dengan memuji Allah, lalu sujud atau merendahkan diri, baru kemudian menyampaikan permintaan.
  5. Tetapkan sifat-sifat Allah yang disebut dalam hadits—seperti 'izzah, jalal, kibriya', dan 'azhamah—tanpa menanyakan bagaimana caranya, sebagaimana pemahaman ulama Ahlus Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?