Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 7507 tentang Allah selalu mengampuni hamba yang beristighfar

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi setiap muslim yang berbuat dosa. Hadits ini mengajarkan bahwa pintu taubat selalu terbuka selama seseorang jujur mengakui dosanya di hadapan Allah dan memohon ampunan-Nya. Allah Yang Maha Pengampun akan mengampuni hamba-Nya setiap kali ia bertaubat, betapapun banyaknya dosa yang telah diperbuat, selama ia tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Az-Zumar [39]: 53

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"

Hadits terkait:

Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab Perkataan Allah Ta'ala: "Mereka ingin mengubah perkataan Allah" (QS. Al-Fath [48]: 15), no. 7507, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab At-Taubah, Bab "Fadhl Isti'far" (Keutamaan Istighfar), no. 2758.

Kaitan dengan ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan istighfar dan taubat, serta bahwa Allah mengampuni hamba-Nya setiap kali ia bertaubat dengan tulus. Beliau menukil bahwa makna "فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ" (maka hendaklah ia berbuat apa yang ia kehendaki) adalah selama ia terus bertaubat setiap kali berbuat dosa, maka Allah akan terus mengampuninya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang luasnya rahmat dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mari kita pahami poin-poin pentingnya:

1. Makna "فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ" (Maka hendaklah ia berbuat apa yang ia kehendaki)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ungkapan ini adalah kabar gembira, bukan perintah untuk berbuat dosa. Maknanya: selama ia bertaubat setiap kali berbuat dosa, maka Allah akan mengampuninya. Ini adalah dorongan agar hamba tidak berputus asa dari rahmat Allah, bukan izin untuk terus-menerus berbuat dosa dengan sengaja.

2. Syarat Taubat yang Diterima

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa taubat yang diterima memiliki syarat-syarat:

  • Menyesali dosa yang telah diperbuat
  • Berhenti dari perbuatan dosa tersebut
  • Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi
  • Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka harus mengembalikan hak tersebut

Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa taubat yang sejati adalah taubat yang lahir dari kesadaran akan kebesaran Allah dan rasa takut akan siksa-Nya, bukan sekadar ucapan di lisan.

3. Pengakuan Dosa di Hadapan Allah

Dalam hadits ini, hamba tersebut berkata: "رَبِّ أَذْنَبْتُ" (Ya Tuhanku, aku telah berdosa). Ini menunjukkan bahwa mengakui dosa di hadapan Allah adalah bagian dari taubat. Namun perlu dipahami, pengakuan ini dilakukan dalam doa dan munajat kepada Allah, bukan dengan mengumbar dosa di hadapan manusia. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Semua umatku dimaafkan kecuali orang yang berbuat dosa secara terang-terangan."

4. Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

Imam As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. Az-Zumar [39]: 53 adalah ayat yang paling luas memberikan harapan bagi para pelaku dosa. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni Allah selama hamba bertaubat dengan tulus sebelum datangnya kematian.

5. Peringatan dari Sisi Lain

Meskipun hadits ini memberikan kabar gembira, para ulama juga mengingatkan bahwa seseorang tidak boleh menjadikan rahmat Allah sebagai alasan untuk terus berbuat dosa. Imam Ibnul Qayyim berkata: "Orang yang berputus asa dari rahmat Allah adalah orang yang kufur, dan orang yang merasa aman dari makar Allah juga orang yang kufur. Yang benar adalah berada di antara keduanya: berharap rahmat Allah dan takut akan siksa-Nya."

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri: "Wahai Abu Sa'id, aku telah banyak berbuat dosa, apakah taubatku diterima?" Maka Al-Hasan menjawab: "Apakah engkau tidak membaca firman Allah: 'Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas...' (QS. Az-Zumar: 53)?" Laki-laki itu berkata: "Ya, aku membacanya." Al-Hasan berkata: "Maka Allah telah menjamin pengampunan bagi mereka yang bertaubat. Janganlah engkau berputus asa, karena Allah lebih senang menerima taubat hamba-Nya daripada seorang musafir yang kehilangan untanya di padang pasir yang luas lalu menemukannya kembali."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para salaf memberikan harapan kepada orang-orang yang berdosa, namun tetap mengajak mereka untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh, bukan untuk terus berbuat dosa.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah — betapapun banyaknya dosa yang telah kita perbuat, pintu taubat selalu terbuka selama kita masih hidup.
  2. Perbanyak istighfar dan taubat — jadikan istighfar sebagai kebiasaan harian, karena Nabi ﷺ sendiri beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari.
  3. Jangan menjadikan rahmat Allah sebagai alasan untuk berbuat dosa — hadits ini adalah kabar gembira bagi yang bertaubat, bukan izin untuk bermaksiat.
  4. Tutup dosa-dosa kita — jangan mengumbar dosa di hadapan manusia; cukup akui di hadapan Allah dalam doa dan munajat.
  5. Perbaiki kualitas taubat — taubat yang diterima adalah yang disertai penyesalan, berhenti dari dosa, dan tekad tidak mengulangi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.