Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa gerhana matahari di zaman Nabi ﷺ. Saat shalat gerhana, beliau diperlihatkan surga dan berusaha mengambil setandan buah anggur darinya, lalu beliau mundur. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ diberi kemampuan melihat hal-hal gaib saat shalat, dan surga itu benar-benar nyata. Hadits ini juga menjadi dalil disyariatkannya shalat gerhana dan bahwa pandangan mata tidak membatalkan shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Qamar [54]: 54
وَلَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ
Terjemahan: "Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar."
QS. An-Najm [53]: 13-15
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ ١٣ عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ ١٤ عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ ١٥
Terjemahan: "Dan sungguh, dia telah melihat (Jibril) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Adzan, Bab Mengangkat Pandangan kepada Imam dalam Shalat, dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما, melalui jalur Imam Malik bin Anas → Zaid bin Aslam → Atha' bin Yasar → Ibnu Abbas.
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab tentang mengangkat pandangan kepada imam dalam shalat, yang menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini sebagai dalil bahwa melihat sesuatu di luar shalat (seperti melihat surga) tidak membatalkan shalat.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini menjelaskan beberapa hal penting:
- Terjadinya gerhana matahari di masa Nabi ﷺ — Ini adalah peristiwa nyata yang disaksikan para sahabat.
- Shalat gerhana disyariatkan — Nabi ﷺ langsung melaksanakan shalat ketika gerhana terjadi.
- Nabi ﷺ diperlihatkan surga saat shalat — Ini menunjukkan bahwa Allah memperlihatkan hal-hal gaib kepada Nabi-Nya, bahkan di tengah shalat.
- Nabi ﷺ berusaha mengambil setandan buah dari surga — Ini menunjukkan bahwa surga itu nyata dan berisi kenikmatan yang bisa dilihat dan disentuh.
- Kalimat "تَكَعْكَعْتَ" — Para ulama menjelaskan maknanya adalah mundur atau bergerak ke belakang. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mundur karena beliau melihat sesuatu yang menakjubkan.
Pemahaman ulama:
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan:
- Bolehnya mengangkat pandangan dalam shalat jika tidak sengaja dan tidak terus-menerus.
- Nabi ﷺ melihat surga dengan mata kepala, bukan hanya mata hati.
- Surga adalah makhluk yang sudah ada dan nyata.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan mukjizat Nabi ﷺ dan bahwa beliau diberi kemampuan melihat alam gaib. Beliau juga menjelaskan bahwa gerakan kecil dalam shalat seperti mundur tidak membatalkan shalat.
Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Nabi ﷺ benar-benar melihat surga dan neraka pada beberapa kesempatan, termasuk saat shalat gerhana dan saat Isra' Mi'raj. Ini adalah bagian dari keyakinan Ahlus Sunnah bahwa surga dan neraka sudah diciptakan dan ada sekarang.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadiyul Arwah menjelaskan bahwa ruh Nabi ﷺ dan para syuhada bisa melihat surga, dan bahwa surga itu kekal dan tidak akan binasa.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif menyebutkan bahwa peristiwa gerhana adalah momen untuk merenungkan kebesaran Allah dan mengingat akhirat.
Perbedaan pendapat:
Para ulama berbeda pendapat tentang apakah Nabi ﷺ melihat surga dengan mata kepala atau mata hati. Jumhur ulama (mayoritas) seperti Ibnu Hajar dan An-Nawawi berpendapat bahwa beliau melihat dengan mata kepala berdasarkan zhahir hadits. Sebagian ulama lain berpendapat bisa jadi dengan mata hati. Namun yang paling kuat adalah pendapat jumhur karena hadits menyebutkan "تَنَاوَلُ" (mencoba mengambil) yang menunjukkan tindakan fisik.
Story Telling
Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما, seorang sahabat muda yang sangat cerdas dan banyak meriwayatkan hadits, menceritakan peristiwa ini. Beliau adalah sepupu Nabi ﷺ dan dikenal sebagai "Turjumanul Qur'an" (penerjemah Al-Qur'an) karena kedalaman ilmunya.
Suatu hari, matahari tiba-tiba gelap. Orang-orang panik. Nabi ﷺ segera mengumpulkan mereka dan shalat. Dalam shalat yang panjang itu, para sahabat memperhatikan bahwa Nabi ﷺ seperti mencoba meraih sesuatu di depannya, lalu mundur beberapa langkah.
Setelah shalat, para sahabat bertanya tentang apa yang mereka lihat. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa beliau diperlihatkan surga, dan beliau melihat setandan buah anggur yang sangat indah. Beliau ingin mengambilnya untuk menunjukkan kepada para sahabat, tetapi jika beliau mengambilnya, maka buah itu akan tetap ada sampai dunia berakhir — sebagai bukti nyata surga. Namun Allah tidak menghendaki itu, sehingga beliau mundur.
Ibnu Abbas رضي الله عنهما meriwayatkan kisah ini kepada murid-muridnya, termasuk Atha' bin Yasar, yang kemudian menyampaikannya kepada Zaid bin Aslam, lalu kepada Imam Malik, dan akhirnya sampai kepada Imam Al-Bukhari. Inilah salah satu contoh bagaimana hadits terjaga melalui rantai periwayatan yang terpercaya.
Kesimpulan Praktis
- Shalat gerhana adalah sunnah yang ditekankan — Ketika terjadi gerhana matahari atau bulan, hendaklah segera shalat dan berdzikir kepada Allah.
- Surga itu nyata dan sudah ada — Kita wajib meyakini bahwa surga dan neraka adalah makhluk yang sudah diciptakan dan akan kekal.
- Gerakan kecil dalam shalat tidak membatalkan — Jika seseorang bergerak karena lupa atau karena sesuatu yang darurat, shalatnya tetap sah.
- Merenungkan akhirat — Peristiwa ini mengingatkan kita untuk selalu mengingat surga dan neraka, dan berusaha menjadi penghuni surga dengan amal saleh.
- Mengikuti pemahaman para ulama — Kita memahami hadits ini sebagaimana dipahami oleh Ibnu Hajar, An-Nawawi, Ibnu Katsir, dan ulama Ahlus Sunnah lainnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.