Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 7465 tentang Bab Tentang Kehendak dan Iradah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk berdebat dan mencari alasan, bahkan dalam hal ketaatan. Ketika Rasulullah ﷺ menegur Ali dan Fatimah karena tidak shalat malam, Ali memberikan alasan takdir, namun Nabi ﷺ tidak menerima alasan tersebut dan mengingatkan bahwa manusia seringkali terlalu banyak berdebat. Pelajarannya adalah kita tidak boleh menggunakan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan perintah Allah, melainkan harus bersegera beramal.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Kahf [18]: 54

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

Terjemahan: "Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur'an ini dengan berbagai macam perumpamaan, tetapi manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah."

Hadits:

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, Bab Tentang Kehendak dan Iradah (no. 7465), dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari (w. 256 H) meletakkan hadits ini dalam kitabnya sebagai bantahan terhadap golongan yang menggunakan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan berdebat dengan alasan takdir ketika diperintahkan beramal. Beliau menukil perkataan Imam Ath-Thabari (w. 310 H) bahwa makna "al-jadal" di sini adalah pembantahan yang batil, bukan diskusi ilmiah yang baik.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa jawaban Ali radhiyallahu 'anhu sebenarnya benar secara akidah, tetapi tidak tepat sebagai alasan untuk meninggalkan perintah. Beliau menekankan bahwa manusia wajib berusaha dan beramal, sementara takdir adalah urusan Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu dalil penting dalam memahami hubungan antara takdir dan usaha manusia. Mari kita lihat peristiwa yang terjadi:

  1. Teguran Lembut Nabi ﷺ: Suatu malam, Rasulullah ﷺ mendatangi rumah putrinya Fatimah dan menantunya Ali. Beliau melihat keduanya tidak melaksanakan shalat malam, lalu bertanya dengan penuh kasih, "Tidakkah kalian berdua shalat (malam)?" Ini adalah teguran yang sangat halus dari seorang ayah dan mertua yang penuh cinta.
  2. Jawaban Ali radhiyallahu 'anhu: Ali menjawab dengan sebuah pernyataan yang benar secara akidah, "Wahai Rasulullah, jiwa kami ada di tangan Allah. Jika Dia menghendaki untuk membangunkan kami, niscaya Dia akan membangunkan kami." Maksud Ali adalah bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, termasuk bangun atau tidaknya mereka untuk shalat malam.
  3. Reaksi Nabi ﷺ: Mendengar jawaban itu, Rasulullah ﷺ tidak membantah secara langsung. Beliau pergi begitu saja. Namun, ketika beranjak pergi, beliau memukul pahanya (sebagai tanda heran atau untuk menarik perhatian) dan membaca firman Allah, "Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah."

Apa yang bisa kita pahami dari sini?

Para ulama, seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dan Syaikh al-Utsaimin, menjelaskan bahwa jawaban Ali radhiyallahu 'anhu sebenarnya benar. Tidak ada yang terjadi di alam semesta ini kecuali atas izin dan kehendak Allah. Namun, masalahnya adalah penggunaan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan perintah. Inilah yang disebut "jadal" atau bantahan yang tercela.

Seolah-olah Ali berkata, "Jika Allah tidak menghendaki kami bangun, kami tidak akan bangun." Ini adalah alasan yang pasif. Padahal, Allah telah memerintahkan mereka untuk berusaha bangun, misalnya dengan memasang alarm atau saling membangunkan. Takdir Allah tidak boleh dijadikan sebagai "hujjah" (alasan) untuk meninggalkan kewajiban. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk beramal, dan setelah itu kita bertawakkal kepada Allah.

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam kitabnya Syifa' al-'Alil menjelaskan bahwa manusia memiliki dua jenis jadal (perdebatan):

  • Jadal Mahmud (Terpuji): Debat untuk menegakkan kebenaran dan membantah kebatilan, seperti yang dilakukan para nabi.
  • Jadal Madzmum (Tercela): Debat untuk menolak kebenaran atau mencari alasan untuk tidak beramal, seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik dan orang-orang yang malas beribadah.

Jawaban Ali radhiyallahu 'anhu termasuk dalam kategori yang kedua, meskipun niatnya tidak buruk. Karena itu, Nabi ﷺ mengingatkannya dengan ayat Al-Qur'an.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd dan Ibnu Abi Dunya dalam Al-Ikhlas, dari Mujahid bin Jabr (w. 104 H), seorang tabi'in besar dan murid Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:

> "Iblis berkata kepada Tuhannya: 'Wahai Tuhanku, Engkau telah menciptakan Adam dan aku tidak akan mampu menggoda anaknya selama mereka hidup di dunia.' Allah berfirman: 'Dengan kemuliaan-Ku, jika mereka memohon ampun kepada-Ku, pasti Aku akan mengampuni mereka.' Iblis berkata: 'Kalau begitu, aku akan membuat mereka lalai sehingga mereka tidak memohon ampun.'"

Kisah ini menunjukkan bahwa setan sangat memahami kelemahan manusia, yaitu suka menunda-nunda dan mencari alasan. Salah satu alasan terbesar yang ditanamkan setan adalah alasan takdir. "Ah, kalau Allah mau, pasti saya akan shalat." "Kalau sudah jodoh, pasti datang." "Rezeki sudah diatur." Semua pernyataan ini benar secara konsep, tetapi salah jika digunakan untuk meninggalkan perintah Allah.

Hikmah: Jangan biarkan setan memperdaya kita dengan alasan takdir. Beramallah sekarang juga, karena takdir adalah rahasia Allah yang tidak kita ketahui. Usaha kita adalah kewajiban, hasilnya adalah urusan Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan jadikan takdir sebagai alasan untuk malas beribadah. Takdir adalah ilmu Allah, sedangkan kita diperintahkan untuk beramal sesuai kemampuan.
  2. Segera laksanakan perintah Allah tanpa banyak alasan. Jika ada teguran untuk berbuat baik, jangan berdebat, tetapi segera laksanakan.
  3. Jauhi sikap "jadal" (banyak membantah) dalam urusan agama. Debat yang baik adalah untuk mencari kebenaran, bukan untuk mencari pembenaran diri.
  4. Berusahalah dengan sungguh-sungguh, lalu bertawakkal kepada Allah. Jangan pasrah tanpa usaha, karena pasrah yang benar adalah setelah berusaha maksimal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.