Penjelasan Hadits Bukhari No. 7442 tentang Doa tahajud memuji Allah dan memohon ampunan dosa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah doa indah yang diajarkan Nabi ﷺ dan beliau baca ketika shalat Tahajjud. Isinya adalah pujian kepada Allah, pengakuan akan kebenaran segala perkara gaib (surga, neraka, hari kiamat), penyerahan diri, tawakal, serta permohonan ampunan yang menyeluruh. Hadits ini juga mengajarkan kita tentang makna nama Allah Al-Qayyum (Yang Maha Mengurus/menjaga) dan An-Nur (Cahaya) bagi langit dan bumi.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, Bab "Perkataan Allah Ta'ala: Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri kepada Rabbnya" (no. 7442), dari sahabat mulia Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan kandungan hadits ini:

  1. QS. Al-Hadid [57]: 3
  • Text Arab:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

  • Makna: "Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhahir (Yang nyata), dan Yang Bathin (Yang tersembunyi); dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." Ayat ini menguatkan doa Nabi ﷺ bahwa Allah adalah An-Nur (Cahaya) langit dan bumi, yang maknanya adalah yang menampakkan dan menerangi segala sesuatu.
  1. QS. Thaha [20]: 111
  • Text Arab:

۞ وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ ۖ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا

  • Makna: "Dan tunduklah semua wajah (dengan merendah) kepada Allah Yang Maha Hidup, Maha Mengurus (Al-Qayyum). Dan sungguh rugi orang yang membawa kezaliman." Ayat ini berkaitan dengan nama Allah Al-Qayyum yang disebut dalam hadits.

Kaitan dengan Ulama:

Dalam riwayat ini, Imam Al-Bukhari menyebutkan perkataan Mujahid bin Jabr (ulama ahli tafsir dari kalangan tabi'in) bahwa Al-Qayyum maknanya adalah Al-Qa'im 'ala kulli syai' (Yang mengurus dan menjaga segala sesuatu). Ini menunjukkan bahwa para sahabat dan tabi'in sangat memperhatikan makna nama-nama Allah yang agung.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu doa terbaik yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Mari kita bedah maknanya dengan bimbingan para ulama:

  1. "ALLAHUMMA RABBANA LAKAL HAMD, ANTA QAYYIMUS SAMAAWAATI WAL ARDH" (Ya Allah, Tuhan kami, segala puji bagi-Mu, Engkau adalah Qayyim (Yang Mengurus) langit dan bumi).
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Al-Qayyum adalah Dzat yang Maha Mengurus seluruh makhluk-Nya dengan ilmu, kekuasaan, dan kebijaksanaan-Nya. Tidak ada satu pun urusan di langit dan bumi yang lepas dari pengurusan-Nya. Ini adalah pujian yang agung, mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Pengatur alam semesta.
  1. "ANTA NURUS SAMAAWAATI WAL ARDH" (Engkau adalah Cahaya langit dan bumi).
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil dari para ulama salaf bahwa makna Allah sebagai Nur adalah Dzat yang dengannya segala sesuatu menjadi terang dan jelas. Cahaya-Nya adalah petunjuk-Nya. Tanpa cahaya Allah, hati manusia akan gelap gulita dalam kesesatan. Ini bukan berarti Allah menyerupai cahaya yang kita lihat, tetapi ini adalah sifat kesempurnaan yang layak bagi-Nya.
  1. "ANTA AL-HAQQ, WA QAULUKAL HAQQ, WA WA'DUKAL HAQQ, WA LIQA'UKAL HAQQ, WAL JANNATU HAQQ, WAN NAARU HAQQ, WAS SAA'ATU HAQQ" (Engkau adalah Kebenaran, perkataan-Mu benar, janji-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar, surga itu benar, neraka itu benar, dan hari kiamat itu benar).
  • Ini adalah inti dari akidah Ahlus Sunnah. Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama lainnya menegaskan bahwa wajib mengimani semua berita yang datang dari Allah dan Rasul-Nya tentang perkara gaib. Doa ini menguatkan keyakinan kita bahwa segala sesuatu yang dikabarkan Allah adalah pasti benar, tidak ada keraguan sedikit pun.
  1. "ALLAHUMMA LAKA ASLAMTU, WA BIKA AAMANTU, WA 'ALAIKA TAWAKKALTU, WA ILAIKHA KHASAMTU, WA BIKA HAAKAMTU" (Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku mengadukan (lawan), dan dengan (hukum)-Mu aku berhakim).
  • Kalimat ini adalah manifestasi dari tauhid dan tawakal. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa tawakal adalah salah satu ibadah hati yang paling agung. Dengan berserah diri, beriman, dan bertawakal, seorang hamba melepaskan diri dari ketergantungan kepada makhluk dan hanya menggantungkan segala urusannya kepada Allah. "Kepada-Mu aku mengadukan lawan" artinya dalam segala perselisihan, kita kembalikan kepada hukum Allah, bukan hukum buatan manusia yang bertentangan dengan syariat.
  1. "FAGHFIR LI MA QADDAMTU WA MA AKHKHARTU, WA ASRARTU WA A'LANTU, WA MA ANTA A'LAMU BIHI MINNI" (Maka ampunilah aku atas dosa yang telah aku lakukan dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku nyatakan, dan apa yang Engkau lebih tahu daripadaku).
  • Ini adalah permohonan ampun yang sangat menyeluruh. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa ini mencakup semua jenis dosa. Bahkan "dosa yang akan datang" adalah bentuk kerendahan hati Nabi ﷺ, karena manusia tidak tahu apa yang akan diperbuatnya di masa depan. Ini mengajarkan kita untuk tidak pernah merasa aman dari tipu daya Allah dan selalu memohon ampunan.

Catatan Penting dari Imam Al-Bukhari:

Di akhir hadits, Imam Al-Bukhari menyebutkan bahwa Qais bin Sa'd dan Abu Az-Zubair meriwayatkan dari Thawus lafazh Qayyam (dengan huruf ya' yang ditasydid), sementara Mujahid menafsirkan Al-Qayyum sebagai Al-Qa'im (Yang Berdiri Sendiri dan Mengurus). Umar bin Khattab pernah membaca Al-Qayyam. Kedua lafazh ini adalah pujian yang agung bagi Allah. Ini menunjukkan bahwa para ulama sangat teliti dalam memahami dan menyampaikan lafazh-lafzh Al-Qur'an dan hadits.

Story Telling

Dari hadits ini, kita bisa mengambil pelajaran dari keteladanan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Beliau adalah sahabat muda yang sangat cerdas dan dijuluki Habrul Ummah (tinta umat). Beliau sangat perhatian untuk meriwayatkan doa-doa dan amalan-amalan Rasulullah ﷺ, terutama amalan di waktu malam.

Suatu ketika, Ibnu Abbas pernah bermalam di rumah bibinya, Maimunah radhiyallahu 'anha, yang merupakan istri Nabi ﷺ. Beliau ingin melihat bagaimana cara Nabi ﷺ shalat malam. Di tengah malam, Nabi ﷺ bangun, berwudhu, lalu shalat. Ibnu Abbas berdiri di samping beliau. Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ mengusap kepala Ibnu Abbas dan mendoakannya, "Ya Allah, ajarilah dia Al-Kitab (Al-Qur'an) dan hikmah."

Perhatian Ibnu Abbas terhadap detail ibadah Nabi ﷺ ini menunjukkan betapa pentingnya mempelajari dan menghafal doa-doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Doa yang beliau riwayatkan dalam hadits ini bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk direnungkan maknanya, dijadikan sebagai wirid di waktu tahajjud, dan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Menghafal dan membaca doa ini ketika shalat Tahajjud atau di waktu-waktu mustajab lainnya, karena ini adalah doa yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ.
  2. Merenungkan makna pujian kepada Allah dalam doa ini, seperti Al-Qayyum (Yang Mengurus) dan An-Nur (Cahaya), untuk menumbuhkan rasa cinta dan takjub kepada kebesaran Allah.
  3. Menguatkan keyakinan (akidah) terhadap semua perkara gaib yang dikabarkan Allah dan Rasul-Nya: surga, neraka, hari kiamat, dan pertemuan dengan-Nya.
  4. Mempraktikkan tawakal dalam kehidupan sehari-hari dengan berserah diri kepada Allah setelah berusaha, serta menjadikan hukum Allah sebagai hakim dalam setiap perselisihan.
  5. Memperbanyak istighfar dengan lafazh yang menyeluruh, mengakui dosa yang tampak maupun tersembunyi, dan memohon ampunan atas segala kekurangan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?