Penjelasan Hadits Bukhari No. 7440 tentang Syafaat Nabi Muhammad di Hari Kiamat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang syafaat terbesar (syafaat al-‘uzhmā) di Hari Kiamat. Kaum mukminin yang lama tertahan di padang mahsyar mencari pemberi syafaat, namun para nabi terdahulu (Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa) semuanya menyebut kekurangan diri mereka dan mengarahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Beliau ﷺ kemudian memohon izin kepada Allah, bersujud, memuji-Nya, lalu diberi izin memberi syafaat hingga tiga kali, mengeluarkan orang-orang beriman dari neraka. Hadits ini juga menetapkan adanya ru’yah (melihat Allah) di akhirat dan menegaskan derajat maqām maḥmūd bagi Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an terkait:

Firman Allah tentang wajah-wajah yang berseri dan memandang Rabbnya:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ ۞ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, kepada Rabbnya mereka memandang.” (QS. Al-Qiyāmah [75]: 22–23)

Firman Allah tentang maqām maḥmūd:

عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

“Mudah-mudahan Rabbmu membangkitkanmu ke kedudukan yang terpuji.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 79)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, Bab makna firman Allah “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, memandang kepada Rabbnya.” Sanad: Hajjāj bin Minḥāl ← Hammām bin Yaḥyā ← Qatādah ← Anas bin Mālik رضي الله عنه.

Hadits senada juga diriwayatkan Imam Muslim dari Anas bin Malik tentang syafaat, dan Imam Al-Bukhari juga meriwayatkannya di beberapa tempat lain dalam Shahih-nya.

Penjelasan Rinci

1. Makna umum hadits

Hadits ini termasuk hadits-hadits tentang syafaat al-‘uzhmā (syafaat terbesar) yang khusus dimiliki Nabi Muhammad ﷺ. Para ulama yang tercantum dalam rujukan kami — seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bārī, Imam an-Nawawi dalam Syarḥ Muslim, Ibnu Rajab al-Ḥanbalī dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, serta Ibnu Katsīr dalam tafsirnya — menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa pokok aqidah:

  • Ru’yah (melihat Allah) di akhirat bagi orang beriman, sebagaimana ditunjukkan oleh judul bab Al-Bukhari dan ayat QS. Al-Qiyāmah: 22–23.
  • Syafaat Nabi ﷺ yang berulang tiga kali untuk mengeluarkan orang beriman dari neraka.
  • Maqām maḥmūd sebagai kedudukan khusus Nabi ﷺ yang dijanjikan Allah.

2. Bagaimana para ulama memahami hadits ini

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, bab tentang ru’yah. Ini menunjukkan bahwa beliau ingin menetapkan bahwa kaum mukmin akan melihat Allah di akhirat — sebuah keyakinan Ahlus Sunnah yang beliau tegaskan dengan dalil ayat dan hadits.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fatḥ al-Bārī menjelaskan bahwa penolakan para nabi terdahulu untuk memberi syafaat bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka menyadari kedudukan Allah yang agung dan merasa tidak layak, serta karena mereka menyebut kekurangan diri mereka sebagai bentuk tawadhu’ dan adab kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa syafaat terbesar hanya khusus bagi Nabi Muhammad ﷺ.

Ibnu Katsīr dalam tafsirnya tentang QS. Al-Isrā’: 79 menjelaskan bahwa maqām maḥmūd adalah kedudukan syafaat terbesar yang akan diberikan Allah kepada Nabi ﷺ di Hari Kiamat, di mana seluruh manusia — bahkan para nabi — akan memuji kedudukan beliau.

Ibnu Rajab al-Ḥanbalī dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam menekankan bahwa hadits ini mengajarkan pentingnya tawadhu’ dan tidak merasa aman dari dosa, sebagaimana para nabi sendiri menyebut kekurangan mereka.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘dī dalam tafsirnya Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān menjelaskan bahwa melihat Allah adalah kenikmatan tertinggi bagi penghuni surga, dan bahwa syafaat Nabi ﷺ adalah bentuk rahmat Allah yang paling besar bagi umat manusia.

3. Perbedaan pendapat di antara ulama

Para ulama dalam daftar kami sepakat tentang:

  • Kepastian ru’yah bagi orang beriman di akhirat.
  • Kepastian syafaat Nabi ﷺ.
  • Kepastian maqām maḥmūd.

Perbedaan hanya terjadi pada rincian teknis, misalnya apakah ru’yah terjadi sebelum atau sesudah hisab, dan berapa lama jarak waktu antara syafaat-syafaat tersebut. Namun inti aqidahnya sama, dan yang paling kuat adalah pendapat yang menetapkan ru’yah bagi orang beriman berdasarkan dalil-dalil yang shahih, sebagaimana ditegaskan Imam Ahmad bin Hanbal, Imam asy-Syafi‘i, dan Imam Malik dalam riwayat-riwayat yang shahih dari mereka.

4. Makna “ditahan oleh al-Qur’an”

Ungkapan “ḥabasahul-Qur’ān” (ditahan oleh al-Qur’an) dalam hadits ini dijelaskan oleh Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi sebagai orang-orang yang secara hukum ditetapkan kekal di neraka karena kekafiran mereka, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat tentang kekalnya orang kafir di neraka. Ini menunjukkan bahwa syafaat Nabi ﷺ tidak mencakup orang kafir yang telah ditetapkan kekal dalam neraka.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik رضي الله عنه, bahwa suatu ketika Nabi ﷺ menceritakan kepada para sahabat tentang peristiwa besar di Hari Kiamat. Para sahabat mendengarkan dengan penuh perhatian, dan hati mereka bergetar membayangkan betapa lama manusia tertahan di padang mahsyar.

Nabi ﷺ menceritakan bagaimana manusia akan mencari pemberi syafaat. Mereka mendatangi Adam, bapak seluruh manusia, yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, tempatkan di surga-Nya, dan para malaikat bersujud kepadanya. Namun Adam berkata dengan penuh tawadhu’: “Aku tidak pantas untuk itu,” dan beliau mengingat dosanya memakan buah pohon yang dilarang.

Mereka lalu mendatangi Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa — para nabi mulia yang masing-masing memiliki keutamaan besar. Namun semuanya menyebut kekurangan diri mereka dan mengarahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Ketika mereka mendatangi Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku akan meminta izin kepada Rabbku.” Beliau masuk, melihat Allah, lalu bersujud dan dibiarkan dalam sujud selama Allah menghendaki. Kemudian Allah berfirman: “Angkatlah kepalamu, wahai Muhammad. Berbicaralah, niscaya didengar. Mintalah, niscaya diberi. Berilah syafaat, niscaya diterima.”

Nabi ﷺ memuji Allah dengan pujian yang Allah ajarkan, lalu diberi batasan orang-orang yang akan beliau keluarkan dari neraka. Beliau keluar, memanggil mereka, dan memasukkan mereka ke surga. Beliau kembali lagi, sujud, memuji, dan diberi syafaat lagi — hingga tiga kali. Hingga akhirnya tidak ada yang tersisa di neraka kecuali mereka yang ditahan oleh al-Qur’an, yaitu orang-orang kafir yang kekal di dalamnya.

Kemudian Nabi ﷺ membaca firman Allah: “Mudah-mudahan Rabbmu membangkitkanmu ke maqām maḥmūd.” Dan beliau bersabda: “Itulah maqām maḥmūd yang dijanjikan kepada nabi kalian.”

Hikmah: Kisah ini mengajarkan kepada kita tentang besarnya kedudukan Nabi Muhammad ﷺ, pentingnya tawadhu’ dan menyadari kekurangan diri, serta harapan besar bagi umat beriman akan syafaat beliau di Hari Kiamat. (Sumber: Shahih Al-Bukhari, Kitab Tauhid, no. 7440; Shahih Muslim, Kitab Iman, bab syafaat.)

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah akan ru’yah — bahwa orang beriman akan melihat Allah di akhirat sebagai kenikmatan tertinggi, sebagaimana ditetapkan dalam QS. Al-Qiyāmah: 22–23 dan hadits ini.
  2. Berpeganglah pada aqidah Ahlus Sunnah tentang syafaat Nabi ﷺ dan maqām maḥmūd, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Bukhari, Ibnu Hajar, Imam an-Nawawi, Ibnu Katsīr, dan Ibnu Rajab.
  3. Teladani tawadhu’ para nabi — mereka semua menyebut kekurangan diri mereka. Maka hendaknya kita tidak merasa aman dari dosa dan senantiasa bertaubat.
  4. Perbanyak amal shalih dan doa agar termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaat Nabi ﷺ, karena syafaat beliau tidak diberikan kepada orang kafir yang kekal di neraka.
  5. Renungkanlah Hari Kiamat — betapa lama manusia tertahan, dan betapa besar kebutuhan kita kepada rahmat Allah dan syafaat Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?