Penjelasan Hadits Bukhari No. 7437 tentang Melihat Allah pada hari kiamat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah hadits agung tentang rukyat (melihat Allah) di akhirat, yang merupakan puncak kenikmatan penghuni surga. Nabi ﷺ menegaskan bahwa kaum mukmin akan melihat Rabb mereka dengan jelas, seperti melihat bulan purnama dan matahari tanpa awan — tanpa kesulitan dan tanpa keraguan. Hadits ini juga menjelaskan peristiwa-peristiwa besar di Hari Kiamat: manusia mengikuti sesembahan mereka, datangnya Allah untuk memberi keputusan, syafa'at, jembatan (shirath), dan keluarnya orang-orang berdosa dari neraka karena tauhid. Hadits ini termasuk dalil pokok Ahlus Sunnah dalam menetapkan sifat rukyat dan sifat-sifat Allah yang lain.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang menjadi dasar bab ini:

Firman Allah Ta'ala:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ۝ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Terjemahan: "Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, kepada Rabbnya mereka melihat." (QS. Al-Qiyamah [75]: 22–23)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah dalil paling jelas bahwa kaum mukmin akan melihat Allah dengan mata kepala di akhirat. Demikian pula Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan para imam Ahlus Sunnah lainnya berhujjah dengan ayat ini.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dan juga disaksikan oleh Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu (sebagaimana disebutkan di akhir hadits). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan lafaz yang serupa.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, menunjukkan bahwa masalah rukyat adalah bagian dari tauhid.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan panjang lebar hadits ini dan menegaskan bahwa rukyat adalah keyakinan Ahlus Sunnah.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil yang sangat kuat dan disepakati oleh Ahlus Sunnah.
  • Ibnu Taymiyyah dan Ibnul Qayyim menjadikan hadits ini sebagai dasar penetapan rukyat dan sifat-sifat khabariyah lainnya.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan makna-makna hadits ini dalam kitab-kitabnya tentang tauhid dan akhirat.

Penjelasan Rinci

1. Penetapan Rukyat (Melihat Allah) di Akhirat

Para sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ: "Apakah kami akan melihat Rabb kami pada Hari Kiamat?" Pertanyaan ini menunjukkan kerinduan mereka kepada Allah. Nabi ﷺ menjawab dengan perumpamaan yang sangat jelas: melihat bulan purnama dan matahari tanpa awan — keduanya bisa dilihat dengan mata telanjang tanpa kesulitan.

Imam An-Nawawi menjelaskan: perumpamaan ini menunjukkan bahwa rukyat itu pasti terjadi, jelas, dan tanpa keraguan. Tidak ada yang menghalangi antara hamba dan Rabbnya kecuali dosa-dosa yang telah dihapus.

Ibnu Hajar menambahkan: hadits ini membantah kelompok yang menolak rukyat (seperti Mu'tazilah dan Jahmiyah), karena Nabi ﷺ menetapkannya dengan penegasan yang sangat kuat.

2. Manusia Mengikuti Sesembahan Mereka

Pada Hari Kiamat, Allah akan memerintahkan: "Siapa yang menyembah sesuatu, ikutilah!" Maka penyembah matahari mengikuti matahari, penyembah bulan mengikuti bulan, penyembah thaghut mengikuti thaghut mereka. Ini adalah bentuk kehinaan dan penyesalan bagi mereka.

Ibnul Qayyim dalam Hadi Al-Arwah menjelaskan: ini adalah keadilan Allah — siapa yang mencintai sesuatu lebih dari Allah, maka ia akan dikumpulkan bersama yang dicintainya, dan itu menjadi azab baginya.

3. Datangnya Allah untuk Memberi Keputusan

Allah datang kepada umat ini dalam wujud yang mereka kenal. Awalnya mereka ragu, lalu Allah menampakkan diri dalam bentuk yang mereka kenal, dan mereka mengenal-Nya serta mengikuti-Nya.

Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan: ini adalah sifat fi'liyah (sifat perbuatan) Allah — Dia datang, berbicara, dan menampakkan diri. Ahlus Sunnah menetapkan sifat ini tanpa tahrif (menyelewengkan makna), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan).

4. Syafa'at dan Shirath

Nabi ﷺ menyebutkan bahwa beliau dan umatnya adalah yang pertama melewati shirath. Para Rasul berdoa: "Allahumma sallim, sallim" (Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah). Ini menunjukkan kedudukan syafa'at dan kengerian Hari Kiamat.

5. Kait-kait Neraka dan Hukuman Sesuai Amal

Nabi ﷺ menggambarkan kait-kait neraka seperti duri sa'dan (sejenis tumbuhan berduri), tetapi ukurannya hanya Allah yang tahu. Kait-kait itu mencabut manusia sesuai amal mereka.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if Al-Ma'arif menjelaskan: ini menunjukkan bahwa hukuman itu sesuai kadar amal, dan rahmat Allah tetap ada bagi orang beriman.

6. Keluarnya Ahli Tauhid dari Neraka

Allah memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan dari neraka siapa saja yang tidak menyekutukan Allah dan bersaksi Laa ilaaha illallah. Mereka dikenali dengan bekas sujud di dahi, karena Allah mengharamkan neraka memakan bekas sujud.

Syaikh as-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan: ini adalah dalil bahwa tauhid adalah sebab utama keselamatan, dan syafa'at Nabi ﷺ serta rahmat Allah akan mengeluarkan mereka dari neraka.

7. Kisah Orang Terakhir Masuk Surga

Hadits ini menceritakan kisah panjang seorang laki-laki terakhir yang keluar dari neraka dan masuk surga. Ia berulang kali berjanji tidak meminta lagi, tetapi berulang kali meminta. Allah tetap mengabulkan, hingga Allah tertawa kepadanya dan memasukkannya ke surga.

Ibnu Hajar menjelaskan: ini menunjukkan luasnya rahmat Allah dan kelemahan manusia. Allah tidak bosan mengampuni hamba yang terus meminta, selama ia beriman.

Ibnul Qayyim dalam Hadi Al-Arwah menyebutkan: kisah ini adalah gambaran puncak rahmat — Allah tertawa karena hamba-Nya, dan tawa Allah adalah tanda keridhaan dan pemberian.

8. Perbedaan Riwayat Abu Hurairah dan Abu Sa'id

Di akhir hadits, Abu Hurairah menyebutkan: "Itu untukmu dan yang serupa dengannya." Sedangkan Abu Sa'id Al-Khudri menyebutkan: "Itu untukmu dan sepuluh kali lipatnya." Abu Hurairah mengakui bahwa ia hanya menghafal yang pertama, sedangkan Abu Sa'id bersaksi ia menghafal yang kedua.

Imam An-Nawawi menjelaskan: ini menunjukkan kejujuran para sahabat dalam meriwayatkan, dan tidak ada pertentangan — keduanya benar, dan tambahan dari Abu Sa'id adalah ziyadah tsiqah yang diterima.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang rukyat. Beliau menjawab dengan hadits ini dan berkata: "Kami menetapkannya sebagaimana datangnya, dan kami tidak menolaknya."

Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya menempatkan hadits ini di akhir kitab Tauhid, seolah-olah beliau ingin menutup kitab tauhid dengan puncak tauhid: melihat Allah di akhirat. Ini adalah pelajaran bahwa tauhid yang benar akan berbuah rukyat — siapa yang bertauhid dengan benar di dunia, akan melihat Allah dengan mata kepalanya di akhirat.

Ibnu Rajab menyebutkan dalam Fadhlu 'Ilmi As-Salaf bahwa Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata: "Jika engkau ingin melihat Allah di akhirat, maka janganlah engkau menyibukkan hatimu dengan selain-Nya di dunia."

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa rukyat itu benar — kaum mukmin akan melihat Allah di akhirat, dan ini adalah puncak kenikmatan surga.
  2. Jaga tauhid — karena tauhid adalah sebab utama keselamatan dan dikeluarkannya seseorang dari neraka.
  3. Perbanyak sujud — karena bekas sujud akan menjadi tanda pengenal di akhirat.
  4. Jangan putus asa dari rahmat Allah — kisah orang terakhir masuk surga menunjukkan luasnya rahmat Allah.
  5. Ikuti pemahaman salaf dalam menetapkan sifat-sifat Allah tanpa tahrif, ta'thil, takyif, dan tamtsil.
  6. Rindu kepada Allah — sebagaimana para sahabat bertanya tentang rukyat, hendaknya hati kita rindu bertemu dengan Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?