Penjelasan Hadits Bukhari No. 7418 tentang Awal penciptaan alam dan Arsy di atas air

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil terpenting tentang sifat 'Uluww (ketinggian) Allah dan keberadaan Arsy di atas air sebelum penciptaan langit dan bumi. Hadits ini juga mengajarkan adab para sahabat dalam menuntut ilmu, yaitu mereka datang untuk bertanya tentang pokok-pokok agama, bukan untuk meminta harta. Inti hadits ini menegaskan bahwa Allah itu ada tanpa permulaan, dan Arsy-Nya sudah ada di atas air sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab: "وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ" (Dan Arsy-Nya berada di atas air, dan Dialah Rabb Arsy yang agung), no. 7418, dari sahabat Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. Hud [11]: 7

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

"Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arsy-Nya di atas air."

Penjelasan ulama:

  • Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini dan hadits di atas menunjukkan bahwa Arsy Allah telah ada sebelum penciptaan langit dan bumi, dan Arsy tersebut berada di atas air.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ini menunjukkan kekuasaan Allah yang mutlak dan bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu sebelum menciptakannya.

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Penetapan Sifat 'Uluww (Ketinggian) Allah

Hadits ini menegaskan bahwa Allah berada di atas Arsy-Nya. Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama salaf lainnya menetapkan sifat ini tanpa menanyakan "bagaimana" (bi la kaif). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa penetapan Arsy di atas air menunjukkan bahwa Allah berada di atas makhluk-Nya, dan ini adalah keyakinan yang disepakati oleh para sahabat dan tabi'in.

2. Keberadaan Allah Sebelum Segala Sesuatu

Sabda Nabi ﷺ: "كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَىْءٌ قَبْلَهُ" (Ada Allah dan tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya) menegaskan bahwa Allah itu Qadim (tidak berpermulaan). Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab At-Tauhid untuk menetapkan keesaan Allah dalam sifat-Nya.

3. Arsy di Atas Air

Para ulama menjelaskan bahwa air yang disebutkan dalam hadits ini adalah air yang Allah ciptakan sebagai tempat Arsy-Nya. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Fath al-Bari (syarahnya terhadap Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa ini menunjukkan kebesaran Allah yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia.

4. Adab Menuntut Ilmu dari Penduduk Yaman

Kedatangan orang-orang Yaman dengan ucapan: "جِئْنَاكَ لِنَتَفَقَّهَ فِي الدِّينِ" (Kami datang kepadamu untuk belajar agama) menunjukkan bahwa tujuan utama menuntut ilmu adalah memahami agama, bukan mencari keuntungan duniawi. Ini sejalan dengan perkataan Imam Az-Zuhri: "Ilmu itu tidak akan diperoleh kecuali dengan bersungguh-sungguh dan meninggalkan kesenangan dunia."

5. Penulisan Takdir di Lauh Mahfuzh

Sabda Nabi ﷺ: "وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَىْءٍ" (dan menuliskan segala sesuatu dalam kitab) menunjukkan bahwa Allah telah menulis takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh sebelum menciptakan langit dan bumi. Imam Al-Barbahari dalam Syarh as-Sunnah menjelaskan bahwa beriman kepada takdir adalah bagian dari rukun iman.

Story Telling

Ada pelajaran indah dari kisah Imran bin Hushain dalam hadits ini. Beliau sangat menyesal karena harus meninggalkan majelis Nabi ﷺ untuk mengejar untanya yang lari. Beliau berkata: "Demi Allah, saya berharap unta betina itu pergi dan saya tidak meninggalkan (pertemuan)."

Ini menunjukkan kecintaan para sahabat terhadap majelis ilmu. Mereka lebih memilih kehilangan harta daripada kehilangan satu momen pun bersama Nabi ﷺ. Imam Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata: "Seandainya dunia ini seluruhnya bisa hilang, tetapi engkau tetap berpegang pada agama, maka itu lebih baik bagimu daripada dunia dan seisinya."

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa Allah ada tanpa permulaan dan tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Nya.
  2. Tetapkan keyakinan bahwa Allah berada di atas Arsy-Nya sesuai dengan kebesaran-Nya, tanpa menanyakan bagaimana caranya.
  3. Berimanlah kepada takdir bahwa Allah telah menulis segala sesuatu di Lauh Mahfuzh.
  4. Utamakan menuntut ilmu agama di atas kepentingan duniawi, sebagaimana semangat para sahabat.
  5. Jadikan majelis ilmu sebagai perkara yang paling berharga, jangan sia-siakan kesempatan untuk belajar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?