Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan seorang Ahli Kitab yang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang bagaimana Allah memegang langit, bumi, dan seluruh makhluk dengan jari-Nya. Nabi ﷺ membenarkan hal itu dan tersenyum hingga terlihat gigi gerahamnya, kemudian membaca firman Allah: "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya." Hadits ini menetapkan sifat Allah memiliki jari, namun kita tidak boleh menanyakan "bagaimana" bentuknya, karena Allah tidak menyerupai makhluk-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-An'am [6]: 91
وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖٓ اِذْ قَالُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ عَلٰى بَشَرٍ مِّنْ شَيْءٍ ۗ
"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, ketika mereka berkata: 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.'"
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, Bab "Perkataan Allah Ta'ala لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَىَّ" (karena apa yang Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku), no. 7415, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Sifat Qiyamah, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, dengan lafaz yang menyebutkan bahwa Allah melipat langit dan bumi dengan tangan-Nya.
Kaitan dengan ulama:
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, yang menunjukkan bahwa hadits ini berkaitan dengan penetapan sifat-sifat Allah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitab Syarh Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah menjelaskan bahwa hadits ini menetapkan sifat jari bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menanyakan bagaimana bentuknya.
Penjelasan Rinci
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Penetapan Sifat Jari bagi Allah
Hadits ini menetapkan bahwa Allah memiliki jari, sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi: "Sesungguhnya seluruh langit dan bumi berada dalam genggaman Ar-Rahman seperti genggaman salah seorang kalian terhadap biji kurma." Namun para ulama menegaskan bahwa kita menetapkan sifat ini tanpa menanyakan "bagaimana" bentuknya, karena Allah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura [42]: 11)
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: "Kami menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya, dan kami tidak menanyakan bagaimana bentuknya, dan kami tidak menolaknya."
2. Makna "Jari" dalam Hadits
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa jari dalam hadits ini adalah sifat yang hakiki bagi Allah, bukan kiasan atau majaz. Namun kita tidak mengetahui hakikatnya, karena akal manusia tidak mampu menjangkau hakikat sifat-sifat Allah. Yang wajib kita lakukan adalah mengimani dan menetapkannya sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan.
3. Tersenyumnya Nabi ﷺ
Nabi ﷺ tersenyum karena orang Ahli Kitab tersebut menyebutkan sesuatu yang benar dan sesuai dengan apa yang Allah kabarkan dalam Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ senang ketika ada orang yang menyebutkan kebenaran, meskipun dari kalangan Ahli Kitab.
4. Makna Ayat yang Dibaca Nabi ﷺ
Nabi ﷺ membaca ayat: وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ (Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya). Ini karena orang-orang musyrik dan sebagian Ahli Kitab tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang layak bagi-Nya, seperti ketika mereka mengingkari wahyu dan menolak sifat-sifat Allah yang agung.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya adalah dengan mengimani semua sifat kesempurnaan-Nya, mensucikan-Nya dari segala kekurangan, dan tidak menyerupakan-Nya dengan makhluk.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika hadits ini sampai kepada para sahabat, mereka sangat berhati-hati dalam memahami sifat-sifat Allah. Suatu hari, Imam Malik bin Anas ditanya oleh seseorang: "Wahai Abu Abdillah, Allah berfirman: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (Ar-Rahman bersemayam di atas Arsy). Bagaimana cara bersemayam-Nya?"
Imam Malik menundukkan kepalanya sejenak, kemudian berkata: "Bersemayam itu sudah diketahui maknanya, cara bersemayamnya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Kemudian beliau memerintahkan orang itu untuk keluar dari majelisnya.
Kisah ini menunjukkan sikap para ulama salaf dalam menghadapi ayat-ayat dan hadits-hadits sifat: menetapkan makna yang benar, menyerahkan hakikatnya kepada Allah, dan tidak memperdalam pertanyaan tentang "bagaimana".
Kesimpulan Praktis
- Tetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits, termasuk sifat jari, tanpa menanyakan bagaimana bentuknya.
- Jangan menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, karena Allah berfirman bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.
- Jangan menolak sifat-sifat Allah dengan alasan akal, karena akal manusia terbatas dan tidak mampu menjangkau hakikat Allah.
- Jangan memperdalam pertanyaan tentang "bagaimana" bentuk sifat-sifat Allah, karena ini adalah pintu kesesatan.
- Teladani sikap Nabi ﷺ yang senang ketika ada orang menyebutkan kebenaran, meskipun dari kalangan non-muslim.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.