Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menetapkan sifat “jari” bagi Allah sebagai sifat khabariyah yang wajib diimani tanpa menyerupakan dengan makhluk (tamtsīl), tanpa mempertanyakan caranya (takyīf), dan tanpa mengubah maknanya (taḥrīf). Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam membenarkan pernyataan seorang Yahudi tentang Allah memegang langit, bumi, gunung, pohon, dan seluruh makhluk dengan satu jari kemudian berfirman, “Aku adalah Raja.” Beliau tersenyum tanda heran sekaligus membenarkan, lalu membaca firman Allah yang mencela orang yang tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur’an
Allah Ta’ālā berfirman:
<p dir="rtl" style="text-align: right;">{وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ}</p>
(QS. Al-An‘ām [6]: 91, potongan awal ayat)
Terjemahan: “Mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan-Nya ketika mereka berkata, ‘Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.’”
Ayat ini dibacakan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam setelah mendengar pernyataan Yahudi tersebut.
Hadits
Hadits riwayat Shahih al-Bukhārī no. 7414 dari ‘Abdullāh bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu. Lafal lengkapnya:
<p dir="rtl" style="text-align: right;">حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، سَمِعَ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ، عَنْ سُفْيَانَ، حَدَّثَنِي مَنْصُورٌ وَسُلَيْمَانُ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَبِيدَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ يَهُودِيًّا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ وَالأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالْجِبَالَ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالْخَلاَئِقَ عَلَى إِصْبَعٍ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ. فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ ثُمَّ قَرَأَ {وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ}. قَالَ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ وَزَادَ فِيهِ فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ: فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ تَعَجُّبًا وَتَصْدِيقًا لَهُ.</p>
“Seorang Yahudi datang kepada Nabi dan berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah memegang langit-langit pada satu jari, bumi-bumi pada satu jari, gunung-gunung pada satu jari, pepohonan pada satu jari, dan seluruh makhluk pada satu jari, kemudian Dia berfirman, “Akulah Raja.”’ Maka Rasulullah tersenyum hingga tampak gigi gerahamnya, lalu membaca, ‘{وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ}.’”
Perawi ‘Abdullāh bin Mas‘ūd menambahkan: “Rasulullah tersenyum sebagai tanda heran dan membenarkan (perkataan Yahudi itu).”
Kaitan dengan ulama
- Imam al-Bukhārī (w. 256 H) meletakkan hadits ini dalam Kitāb at-Tauhīd, Bāb Qaulillāhi ta‘ālā “limā khalaqtu bi yadayy” (karena Allah berfirman “dengan kedua tangan-Ku”). Ini menunjukkan bahwa beliau memahami adanya penetapan sifat yad (tangan) dan ashābi‘ (jari-jari) bagi Allah.
- Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī (w. 852 H) dalam Fatḥ al-Bārī (13/384, cet. Dār al-Fikr) menjelaskan: “Hadits ini termasuk dalam berita tentang sifat-sifat Allah yang wajib diimani dengan keyakinan bahwa sifat tersebut sesuai dengan keagungan-Nya. Nabi membenarkan perkataan Yahudi karena sesuai dengan apa yang ada dalam kitab suci mereka.”
- Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam Majmū‘ al-Fatāwā (6/19) menegaskan bahwa hadits-hadits tentang jari Allah ditetapkan tanpa tamtsīl (penyerupaan) dan takyīf (penentuan cara).
- Imām Aḥmad bin Ḥanbal (w. 241 H) termasuk ulama yang meriwayatkan dan mengimani sifat ini tanpa takwil, sebagaimana disebutkan dalam Kitāb as-Sunnah karya ‘Abdullāh bin Aḥmad.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits
Hadits ini mengabarkan bahwa Allah memiliki jari-jari (bentuk jamak dari iṣba‘). Penyebutan “satu jari” bukan berarti hanya satu jari, melainkan menggambarkan kemudahan Allah dalam menguasai seluruh alam; Dia cukup dengan satu jari untuk memegang semuanya. Ulama Ahlus Sunnah menetapkan bahwa Allah memiliki jari-jari yang nyata (ḥaqīqī) namun tidak menyerupai jari makhluk.
Bagaimana ulama dalam daftar memahami hadits ini?
- Imām an-Nawawī (w. 676 H) dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim (5/38) ketika mensyarah hadits serupa (riwayat Muslim no. 2786) menyatakan: “Mengimani jari-jari Allah adalah wajib, dan inilah keyakinan Ahlus Sunnah. Hadits ini shahih, dan kami mengimani lahiriahnya tanpa takwil, karena apa yang datang dari sisi Allah dan Rasul-Nya adalah benar. Kami tidak menanyakan ‘bagaimana’ karena akal tidak mampu menjangkaunya.”
- Ibnu Katsīr (w. 774 H) dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (3/306, cet. Dār Ṭayyibah) ketika menafsirkan ayat QS. Al-An‘ām [6]: 91 menjelaskan bahwa ayat tersebut dicela oleh Allah karena mereka (Yahudi) tidak mengagungkan Allah dengan semestinya, padahal mereka mengetahui banyak tentang sifat-sifat Allah.
- Syaikh ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī (w. 1376 H) dalam Tafsīr as-Sa‘dī (1/271) menegaskan: “Makna ayat itu adalah mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan, karena mereka mengingkari kerasulan Muhammad padahal mereka mengetahui kebenarannya. Hadits ini menjadi dalil bahwa Allah memiliki jari-jari yang nyata, dan kaum Yahudi menerima hal itu dari Taurat.”
- Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar melanjutkan di Fatḥ al-Bārī: “Tersenyumnya Nabi menunjukkan kebenaran berita itu, karena beliau tidak tersenyum pada kebatilan. ‘Ta‘ajjub’ di sini dalam bentuk kekaguman terhadap keluasan ilmu dan kuasa Allah, bukan ta‘ajjub karena keraguan.”
Perbedaan pendapat
Kaum Mu‘tazilah dan Jahmiyyah menolak sifat jari dan mentakwilkan “jari” sebagai kekuasaan atau kenikmatan. Namun Ahlus Sunnah menolak takwil semacam itu, karena menyelisihi zhāhir nash. Al-Imām Aḥmad bin Ḥanbal meriwayatkan dalam Kitāb as-Sunnah (no. 109) dari ‘Abdullāh bin Aḥmad: “Aku bertanya kepada ayahku tentang hadits ini, beliau berkata: ‘Kami beriman dengannya dan membenarkannya, tanpa takyīf dan tamtsīl.’”
Aplikasi dalam akidah
Hadits ini termasuk dalam pembahasan al-asmā’ waṣ-ṣifāt. Seseorang wajib:
- Menetapkan sifat jari bagi Allah sebagai sifat yang hakiki.
- Tidak menyerupakan dengan jari makhluk.
- Tidak menanyakan “bagaimana” bentuknya.
- Tidak mengubah maknanya menjadi “kuasa” atau lainnya.
Story Telling
Kisah
‘Abdullāh bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu meriwayatkan: Suatu hari, seorang Yahudi yang memiliki pengetahuan tentang Taurat dan sifat-sifat Allah yang disebutkan di dalamnya datang kepada Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Dengan nada penuh keyakinan ia berkata, “Wahai Muhammad, sungguh Allah memegang langit pada satu jari, bumi pada satu jari, gunung pada satu jari, pepohonan pada satu jari, dan seluruh makhluk pada satu jari. Kemudian Dia berfirman, ‘Aku adalah Raja!’”
Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mendengar dan tersenyum. Senyumnya begitu lebar hingga tampak gigi gerahamnya. Beliau tidak membantah, bahkan membenarkan. Lalu beliau membaca firman Allah yang mengecam orang-orang yang tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan.
Hikmah
- Seorang Yahudi yang belum beriman kepada Muhammad masih menyimpan sisa-sisa ilmu dari nabi-nabi Bani Israil. Mereka tahu kebesaran Allah, namun mereka menolak kerasulan Muhammad.
- Nabi mengajarkan kita untuk menerima kebenaran dari mana pun datangnya, meskipun dari seorang yang bukan muslim. Beliau membenarkan pernyataan Yahudi karena sesuai dengan wahyu.
- Membenarkan sifat-sifat Allah bukanlah hal yang aneh, justru itu adalah bentuk pengagungan kepada Allah.
(Sumber: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Fatḥ al-Bārī – Ibnu Ḥajar)
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada sifat jari Allah adalah bagian dari iman kepada Allah dan nama-nama serta sifat-Nya.
- Jangan menyerupakan sifat Allah dengan makhluk, karena Allah berfirman: *“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya