Penjelasan Hadits Bukhari No. 7411 tentang Sifat tangan Allah yang penuh dan tidak berkurang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil terpenting dalam menetapkan sifat Tangan bagi Allah ﷻ, tanpa menanyakan bagaimana bentuknya (tanpa takyiif), tanpa menyerupakannya dengan makhluk (tanpa tamtsiil), dan tanpa menolaknya (tanpa ta'thiil). Hadits ini juga mengajarkan kita tentang kebesaran kekuasaan Allah dalam memberi rezeki, yang tidak pernah berkurang sedikit pun, serta penetapan sifat Arsy dan Mizan (timbangan) bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya. Kita wajib mengimani semua ini sebagaimana datangnya, dengan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab "Perkataan Allah Ta'ala: لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَىَّ" (yaitu firman-Nya: "untuk yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku"), no. 7411, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks Hadits (dengan harakat):

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "يَدُ اللَّهِ مَلأَى لاَ يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ، سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ" وَقَالَ: "أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ" وَقَالَ: "عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَبِيَدِهِ الأُخْرَى الْمِيزَانُ يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ".

Makna Ringkas: Tangan Allah itu penuh dan tidak berkurang karena nafkah (pemberian). Ia terus memberi siang dan malam. Sejak menciptakan langit dan bumi, pemberian-Nya tidak mengurangi apa yang ada di sisi-Nya. Arsy-Nya berada di atas air, dan di tangan-Nya yang lain terdapat timbangan (mizan) yang Dia turunkan dan naikkan.

Dalil dari Al-Qur'an yang terkait:

Firman Allah ﷻ:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura [42]: 11)

Ayat ini menjadi prinsip dasar dalam menetapkan sifat-sifat Allah, termasuk sifat Tangan, yaitu menetapkan maknanya tanpa menyerupakan dengan makhluk.

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah dari kalangan salaf, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya, memahami hadits ini dengan menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana adanya tanpa ta'thiil (penolakan), tamtsiil (penyerupaan), takyiif (penanyaan bentuk), dan tahriif (pengubahan makna).

1. Penetapan Sifat Tangan bagi Allah

Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ menetapkan sifat Tangan bagi Allah dengan menyebut "يَدُ اللَّهِ" (Tangan Allah) dan "وَبِيَدِهِ الأُخْرَى" (dan di Tangan-Nya yang lain). Ini menunjukkan bahwa Allah memiliki dua Tangan, sebagaimana disebutkan dalam ayat lain:

لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

"untuk yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku" (QS. Shad [38]: 75)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata tentang hadits-hadits sifat, "Kami mengimaninya dan membenarkannya, tanpa menanyakan bagaimana dan tanpa memaknainya dengan makna lain. Kami tidak menolak sesuatu pun dari hadits-hadits ini. Kami beriman bahwa Allah memiliki Tangan, namun kami tidak mengatakan bagaimana bentuknya dan tidak mengatakan bahwa itu seperti tangan makhluk."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa menetapkan sifat Tangan bagi Allah adalah wajib, karena Allah dan Rasul-Nya telah menetapkannya. Namun, kita tidak boleh menanyakan "bagaimana" bentuknya, karena itu termasuk perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah.

2. Makna "Tangan Allah Penuh dan Tidak Berkurang"

Ungkapan "لاَ يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ" artinya tidak berkurang dan tidak habis karena pemberian. Ini menunjukkan kesempurnaan kekayaan dan kekuasaan Allah. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa sifat ini menunjukkan bahwa Allah Maha Kaya dan pemberian-Nya tidak pernah berhenti. Ini adalah kabar gembira bagi hamba-Nya bahwa rezeki Allah tidak akan habis, sehingga kita tidak perlu khawatir atau bakhil dalam berinfak di jalan-Nya.

3. Penetapan Sifat Arsy di Atas Air

Sabda beliau "عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ" (Arsy-Nya di atas air) menetapkan bahwa Allah memiliki Arsy yang berada di atas air. Ini sesuai dengan firman Allah:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

"Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arsy-Nya di atas air." (QS. Hud [11]: 7)

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab At-Tauhid untuk menegaskan bahwa menetapkan sifat-sifat ini adalah bagian dari tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam nama dan sifat-Nya.

4. Penetapan Sifat Mizan (Timbangan) di Tangan Allah

Sabda beliau "وَبِيَدِهِ الأُخْرَى الْمِيزَانُ يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ" (dan di Tangan-Nya yang lain adalah timbangan, Dia menurunkan dan menaikkan) menetapkan bahwa Allah memiliki timbangan yang digunakan untuk mengangkat dan menurunkan derajat hamba-hamba-Nya. Ini berkaitan dengan keadilan Allah dalam memberi rezeki dan dalam hisab pada hari kiamat.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa penetapan sifat-sifat ini adalah wajib, dan kita tidak boleh menolaknya dengan alasan akal yang dangkal. Karena akal yang sehat justru menerima berita dari Allah dan Rasul-Nya.

5. Sikap yang Benar terhadap Hadits Sifat

Para ulama salaf, seperti Imam Malik bin Anas ketika ditanya tentang "istawa" (bersemayam), beliau menjawab, "Al-istiwā' (bersemayam) itu diketahui maknanya, tata caranya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Ini adalah prinsip yang sama untuk semua sifat Allah, termasuk sifat Tangan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menegaskan bahwa cara yang benar dalam menghadapi hadits-hadits sifat adalah dengan mengimani lafazhnya, menetapkan maknanya sesuai dengan keagungan Allah, dan menyerahkan hakikat bentuknya kepada Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang lelaki bertanya kepada Imam Malik bin Anas tentang firman Allah "الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى" (Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy). Imam Malik menundukkan kepalanya sejenak, kemudian berkata, "Al-istiwā' (bersemayam) itu diketahui maknanya, tata caranya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Kemudian beliau memerintahkan agar lelaki itu dikeluarkan dari majelisnya.

Kisah ini menunjukkan adab para ulama salaf dalam menghadapi ayat dan hadits sifat. Mereka tidak menolak, tidak menyerupakan, tidak menanyakan bentuk, dan tidak mengubah makna. Mereka cukup mengimani dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah. Inilah jalan keselamatan yang diajarkan oleh para imam Ahlus Sunnah.

Kesimpulan Praktis

  1. Imani hadits ini secara utuh tanpa mengurangi atau menambah, karena itu bagian dari iman kepada Allah dan nama-nama serta sifat-sifat-Nya.
  2. Tetapkan sifat Tangan bagi Allah dengan dua Tangan, tanpa menanyakan bentuknya dan tanpa menyerupakannya dengan tangan makhluk.
  3. Yakinlah bahwa pemberian Allah tidak pernah berkurang, sehingga kita tidak bakhil dalam berinfak dan bersedekah.
  4. Tetapkan sifat Arsy di atas air dan sifat Mizan (timbangan) di tangan Allah, sebagai bagian dari keimanan kepada berita-berita ghaib.
  5. Jangan bertanya "bagaimana" tentang sifat-sifat Allah, karena itu bukan dari metode salaf dan bisa menjerumuskan pada kesesatan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?