Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang ketetapan Allah (qadar) yang menyeluruh. Allah telah menuliskan di Lauhul Mahfuzh seluruh makhluk yang akan diciptakan-Nya sampai Hari Kiamat. Karena itu, usaha manusia seperti 'azl (mengeluarkan mani di luar rahim) untuk mencegah kehamilan tidak akan mengubah ketetapan Allah. Jika Allah menghendaki adanya anak, maka anak itu akan tetap lahir. Hadits ini juga menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta (Al-Khaliq) bagi setiap jiwa yang ada.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Hadid [57]: 22
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak (juga) yang menimpa dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."
QS. Al-Mulk [67]: 14
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan)? Dan Dialah Yang Maha Halus, Maha Mengetahui."
2. Hadits Terkait:
Hadits yang sedang kita bahas ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 7409), dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, Bab "Perkataan Allah: Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa" (QS. Al-Hasyr [59]: 24). Ini menunjukkan bahwa hadits ini adalah dalil tentang sifat rububiyyah Allah sebagai satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa seluruh makhluk telah ditulis takdirnya, dan tidak ada seorang pun yang bisa mengubah ketetapan Allah.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu, dan pengetahuan-Nya meliputi seluruh ciptaan-Nya. Tidak ada satu jiwa pun yang luput dari penciptaan dan pengetahuan Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki dua bagian penting:
Bagian Pertama: Kisah 'Azl di Perang Bani Al-Mustaliq
Pada saat Perang Bani Al-Mustaliq, para sahabat mendapatkan tawanan wanita. Mereka ingin berhubungan dengan tawanan tersebut, tetapi khawatir jika terjadi kehamilan. Maka mereka bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hukum 'azl (mengeluarkan mani di luar rahim untuk mencegah kehamilan).
Nabi ﷺ menjawab: "Tidak ada yang menghalangi kalian untuk tidak melakukannya, karena Allah telah menulis siapa yang akan diciptakan sampai Hari Kiamat."
Makna sabda Nabi ﷺ ini adalah: 'azl tidak akan menghalangi terjadinya kehamilan jika Allah telah menetapkan anak itu akan lahir. Karena Allah telah menuliskan di Lauhul Mahfuzh seluruh jiwa yang akan diciptakan-Nya. Jika Allah menghendaki adanya anak dari hubungan tersebut, maka anak itu akan tetap lahir meskipun dilakukan 'azl. Sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki, maka tidak akan ada anak meskipun tidak dilakukan 'azl.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya 'azl, karena Nabi ﷺ tidak melarangnya secara tegas. Namun, para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya:
- Imam Ahmad bin Hanbal dan sebagian ulama membolehkan 'azl dengan izin istri, karena istri memiliki hak untuk mendapatkan keturunan.
- Imam Asy-Syafi'i dan Imam Abu Hanifah juga membolehkan 'azl, tetapi dengan syarat izin dari istri.
- Pendapat yang lebih kuat menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin adalah bahwa 'azl hukumnya boleh secara asal, tetapi makruh jika dilakukan tanpa kebutuhan, karena hal itu mengurangi hak istri untuk mendapatkan keturunan.
Bagian Kedua: Penegasan bahwa Allah adalah Pencipta Setiap Jiwa
Dalam riwayat kedua yang disebutkan dalam hadits ini, Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada jiwa yang diciptakan kecuali Allah adalah Penciptanya."
Ini adalah penegasan tentang keesaan Allah dalam penciptaan (Tauhid Rububiyyah). Tidak ada pencipta selain Allah. Manusia hanya menjadi sebab, tetapi hakikat penciptaan adalah milik Allah semata.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa Allah menciptakan seluruh makhluk, termasuk manusia, dan Dia mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi. Tidak ada satu pun yang luput dari ilmu dan ketetapan-Nya.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab-kitab tauhidnya menjelaskan bahwa keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta adalah bagian dari Tauhid Rububiyyah yang harus diimani oleh setiap muslim. Namun, tauhid rububiyyah saja tidak cukup; harus disertai dengan Tauhid Uluhiyyah (mengesakan Allah dalam ibadah).
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang takdir. Beliau menjawab dengan tenang: "Takdir adalah rahasia Allah yang tidak boleh dibahas secara mendalam. Kita wajib mengimani bahwa Allah telah menulis segala sesuatu, dan kita tetap harus berusaha serta beramal."
Kemudian beliau membacakan firman Allah:
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
"Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, dan merekalah yang akan ditanya." (QS. Al-Anbiya' [21]: 23)
Kisah ini mengajarkan kita bahwa dalam masalah takdir, kita tidak boleh berdebat secara berlebihan. Tugas kita adalah beriman, berusaha, dan berserah diri kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada takdir adalah bagian dari rukun iman. Kita wajib meyakini bahwa Allah telah menuliskan segala sesuatu di Lauhul Mahfuzh.
- Usaha manusia tidak mengubah ketetapan Allah. Kita tetap harus berusaha, tetapi hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah.
- 'Azl hukumnya boleh menurut jumhur ulama, tetapi sebaiknya dengan izin istri dan tidak dilakukan tanpa kebutuhan.
- Allah adalah satu-satunya Pencipta. Tidak ada yang bisa menciptakan atau menghalangi ciptaan Allah.
- Jangan berdebat tentang takdir secara berlebihan. Cukup imani dan amalkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.