Penjelasan Hadits Shahih Al-Bukhari No. 7384
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tentang dua hal besar: (1) Neraka akan terus meminta tambahan penghuni sampai Allah meletakkan "Kaki-Nya" di atasnya, lalu neraka merasa cukup dan tunduk; (2) Surga akan terus memiliki ruang kosong sampai Allah menciptakan makhluk baru untuk mengisinya. Hadits ini termasuk hadits tentang sifat-sifat Allah (sifat khabariyyah) yang wajib kita imani apa adanya tanpa menyerupakan dengan makhluk, sebagaimana dipahami para ulama Ahlus Sunnah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Firman Allah tentang neraka yang meminta tambahan:
يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ
"Pada hari ketika Kami berkata kepada Jahannam: 'Apakah engkau sudah penuh?' Dan ia berkata: 'Apakah masih ada tambahan?'" (QS. Qaf [50]: 30)
Firman Allah tentang sifat 'Izzah dan Hikmah:
وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Baqarah [2]: 129, dan banyak ayat lainnya)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه, melalui jalur Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan).
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan Imam Al-Bukhari meriwayatkannya di beberapa tempat dalam kitabnya.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk pembahasan tentang sifat "al-Qadam" (Kaki) bagi Allah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas hadits serupa dan menegaskan kewajiban mengimani sifat-sifat Allah tanpa tahrif (mengubah), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan).
- Ibn Taymiyyah dalam berbagai kitabnya seperti Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa sifat-sifat khabariyyah diimani apa adanya sesuai keagungan Allah.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah dan kitab lainnya membahas hikmah di balik hadits ini.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan makna ayat QS. Qaf: 30 yang berkaitan erat dengan hadits ini.
Penjelasan Rinci
1. Kedudukan Hadits Ini dalam Bab Tauhid
Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, bab tentang firman Allah "وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ". Ini menunjukkan bahwa beliau ingin menegaskan bahwa hadits ini berbicara tentang keagungan Allah, kekuasaan-Nya yang mutlak, dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya.
2. Makna "Meletakkan Kaki" (القدم)
Para ulama Ahlus Sunnah berbeda dalam memahami kata "القدم" (al-qadam) dalam hadits ini:
Pendapat pertama: Sebagian ulama memahami "al-qadam" di sini secara hakiki sebagai sifat Allah yang tidak kita ketahui hakikatnya. Ini adalah pendekatan tafwidh (menyerahkan makna sepenuhnya kepada Allah) yang dipegang oleh banyak ulama salaf.
Pendapat kedua: Sebagian ulama seperti Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa sebagian ulama memaknai "al-qadam" di sini sebagai "orang-orang yang telah Allah tetapkan masuk neraka" (yakni qadam bermakna "yang didahulukan" atau "yang telah ditetapkan"). Namun Ibn Hajar sendiri menyatakan bahwa pendapat yang lebih kuat adalah mengimani sifat ini apa adanya tanpa takyif.
Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan: "Ahlus Sunnah mengimani sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadits, tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menolak, dan tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya."
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim berkata: "Ini termasuk hadits-hadits sifat yang wajib kita imani, dan kita tidak membahas bagaimana hakikatnya."
3. Makna "Neraka Meminta Tambahan"
Neraka sebagai makhluk Allah memiliki kemampuan "berbicara" sebagaimana disebutkan dalam QS. Qaf: 30. Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (perawi hadits ini) menjelaskan bahwa neraka terus meminta tambahan karena luasnya dan karena banyaknya orang yang masuk ke dalamnya.
Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa neraka akan terus berkata "هَلْ مِنْ مَزِيدٍ" (apakah masih ada tambahan?) sebagai bentuk permintaan kepada Allah, sampai Allah meletakkan Kaki-Nya di atasnya, maka neraka akan merasa cukup dan tunduk.
4. Makna "Qad! Qad!" (Cukup! Cukup!)
Ucapan neraka "قَدْ قَدْ" adalah ungkapan bahwa neraka telah merasa cukup dan puas. Ini menunjukkan bahwa neraka adalah makhluk yang tunduk kepada perintah Allah. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa ini menunjukkan kekuasaan Allah yang mutlak atas seluruh makhluk-Nya.
5. Surga yang Terus Memiliki Ruang Kosong
Bagian akhir hadits menjelaskan bahwa surga akan terus memiliki ruang kosong sampai Allah menciptakan makhluk baru untuk mengisinya. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah menjelaskan bahwa ini menunjukkan luasnya surga dan kemurahan Allah yang tidak terbatas.
Syeikh as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menciptakan makhluk baru untuk mengisi surga adalah bentuk karunia dan kemurahan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
6. Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama
Di antara ulama dalam daftar, terdapat perbedaan dalam memahami "al-qadam":
- Ibn Hajar al-Asqalani menyebutkan beberapa pendapat dan cenderung pada pendapat yang mengimani sifat ini tanpa takyif.
- Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim menegaskan kewajiban mengimani sifat khabariyyah apa adanya.
- Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ini termasuk hadits sifat yang tidak boleh dibahas hakikatnya.
Pendapat yang paling kuat adalah pendapat Ahlus Sunnah yang mengimani sifat ini apa adanya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menolak, dan tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama yang tercantum dalam daftar.
Story Telling
Kisah Qatadah bin Di'amah as-Sadusi dan Hadits Ini
Qatadah bin Di'amah as-Sadusi adalah seorang Tabi'in yang buta sejak kecil, namun Allah memberinya kecerdasan luar biasa dalam ilmu hadits dan tafsir. Beliau meriwayatkan hadits ini dari Anas bin Malik رضي الله عنه, sahabat Nabi ﷺ yang mulia.
Suatu ketika, Qatadah ditanya tentang makna hadits ini. Beliau menjawab dengan penuh adab: "Kami mengimani apa yang Allah dan Rasul-Nya kabarkan, dan kami tidak menanyakan bagaimana hakikatnya. Yang wajib bagi kita adalah membenarkan dan tunduk."
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang hadits-hadits sifat seperti ini. Beliau menjawab: "Kami mengimani dan membenarkannya, dan kami tidak menolak sedikit pun darinya."
Hikmah: Para salafus shalih memahami bahwa akal manusia terbatas, sedangkan wahyu Allah melampaui batas akal. Mereka mengimani sifat-sifat Allah dengan penuh tunduk dan tidak membahas hakikatnya, karena itu adalah urusan Allah.
Kesimpulan Praktis
- Imankan sifat-sifat Allah apa adanya — termasuk sifat "al-qadam" dalam hadits ini — tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menolak, dan tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya.
- Yakinlah bahwa neraka dan surga adalah makhluk Allah yang tunduk kepada perintah-Nya. Neraka akan merasa cukup ketika Allah meletakkan Kaki-Nya, dan surga akan terus memiliki ruang kosong sampai Allah menciptakan makhluk baru untuk mengisinya.
- Renungkanlah keagungan Allah — betapa besar kekuasaan-Nya atas neraka dan surga, dan betapa luas kemurahan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
- Jauhi perdebatan tentang hakikat sifat Allah — karena ini adalah urusan yang melampaui akal manusia. Cukup bagi kita mengimani dan membenarkan.
- Berdoalah kepada Allah agar termasuk orang-orang yang masuk surga dan merasakan luasnya karunia-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.