Penjelasan Hadits Bukhari No. 7261 tentang Keutamaan Az-Zubair sebagai hawari Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar Az-Zubair bin al-'Awwam رضي الله عنه, karena beliau tiga kali bersegera memenuhi panggilan Nabi ﷺ pada Perang Khandaq, sehingga Nabi ﷺ menyebutnya sebagai hawari (pembantu setia) beliau. Ini juga menunjukkan betapa mulianya sifat cepat tanggap dan berkorban dalam membela agama. Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah pujian khusus, bukan pengkultusan, dan tetap dalam batas syariat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Berita Ahad (Akhbar al-Ahad), dari sahabat Jabir bin Abdullah رضي الله عنه.

Teks hadits yang disebutkan memuat sabda Nabi ﷺ:

لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيٌّ وَحَوَارِيِّ الزُّبَيْرُ

Terjemahan: "Setiap nabi memiliki hawari (pembantu setia), dan hawari-ku adalah Az-Zubair."

Hadits ini juga memiliki makna yang dikuatkan oleh ayat tentang kesiapan berkorban dan berjihad, di antaranya:

QS. Al-Baqarah [2]: 216

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Terjemahan: "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Ayat ini menunjukkan bahwa kesiapan berkorban dalam jihad adalah perkara yang dipuji, dan Allah mengetahui hikmah di baliknya. Ibn Katsir dan As-Sa'di menjelaskan bahwa kewajiban jihad dan kesiapan berkorban adalah bentuk ketaatan yang tinggi, dan Allah tidak membebani di luar kemampuan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan tiga hal utama:

Pertama: Keutamaan Az-Zubair bin al-'Awwam رضي الله عنه.

Nabi ﷺ memanggil pasukan untuk membawa berita tentang musuh pada Perang Khandaq (yang juga disebut Perang Ahzab). Az-Zubair bersegera menjawab panggilan itu tiga kali berturut-turut. Ini menunjukkan keberanian, kesetiaan, dan kesiapan berkorban yang luar biasa. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa pengulangan panggilan dan jawaban Az-Zubair menunjukkan kesungguhan dan kesiapan beliau yang luar biasa, sehingga Nabi ﷺ memberi gelar hawari.

Kedua: Makna hawari.

Hawari berarti pembantu setia, sahabat dekat, atau orang yang selalu siap membela. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hawari adalah orang yang selalu bersama nabi dalam kebaikan, membela dan menolongnya. Nabi ﷺ menyebut Az-Zubair sebagai hawari-nya, yang menunjukkan kedudukan beliau yang sangat tinggi di sisi Nabi ﷺ.

Ketiga: Catatan sanad dan riwayat.

Dalam teks hadits disebutkan bahwa Sufyan bin 'Uyainah (salah satu ulama dalam daftar) mendengar hadits ini dari Ibnu al-Munkadir (Muhammad bin al-Munkadir, seorang tabi'in). Ada percakapan antara Ayyub (as-Sakhtiyani) dan Sufyan tentang riwayat ini, dan Sufyan menegaskan bahwa beliau menghafalnya sebagaimana beliau duduk, yaitu pada hari Khandaq. Sufyan ats-Tsauri (juga dalam daftar) menyebut "hari Quraizhah", tetapi Sufyan bin 'Uyainah menegaskan bahwa itu adalah hari yang sama (Khandaq), dan beliau tersenyum. Ini menunjukkan bahwa para ulama daftar saling mengoreksi dengan adab dan ilmu.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama menyebut Perang Khandaq dan Perang Quraizhah terjadi pada waktu yang berdekatan, sehingga sebagian perawi menyebut salah satunya. Namun yang jelas, hadits ini shahih dan menunjukkan keutamaan Az-Zubair. Ibnu Hajar dan an-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini shahih dan tidak ada pertentangan yang merusak maknanya.

Story Telling

Dikisahkan bahwa pada Perang Khandaq, kaum muslimin dalam keadaan sulit: musuh mengepung Madinah, cuaca dingin, dan makanan terbatas. Nabi ﷺ membutuhkan seseorang yang berani membawa berita tentang keadaan musuh. Beliau memanggil, dan Az-Zubair bin al-'Awwam رضي الله عنه langsung bangkit menjawab. Beliau memanggil lagi, Az-Zubair kembali menjawab. Ketiga kalinya, Az-Zubair tetap menjawab. Melihat kesetiaan dan keberanian itu, Nabi ﷺ bersabda, "Setiap nabi memiliki hawari, dan hawari-ku adalah Az-Zubair." Imam al-Bukhari meriwayatkan kisah ini dalam Shahih-nya, dan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa ini adalah bentuk pujian Nabi ﷺ kepada sahabat yang mulia. Hikmahnya: kesiapan berkorban dan cepat tanggap dalam kebaikan adalah sifat yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Teladani kesiapan Az-Zubair dalam menjawab panggilan kebaikan, terutama dalam membela agama dan membantu sesama.
  2. Pahami makna hawari sebagai pembantu setia dalam kebaikan, bukan pengkultusan terhadap manusia.
  3. Hormati para sahabat dan keutamaan mereka sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih.
  4. Belajar adab ulama seperti Sufyan bin 'Uyainah dan Sufyan ats-Tsauri dalam mengoreksi riwayat dengan ilmu dan lembut.
  5. Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?