Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini dengan tegas mencela orang yang bermuka dua (dzul wajhain), yaitu orang yang menampakkan sikap dan perkataan yang berbeda kepada orang yang berbeda demi kepentingan atau kedudukan duniawi. Ini adalah akhlak yang sangat buruk dan termasuk sifat munafik. Islam memerintahkan kita untuk senantiasa jujur, konsisten, dan lurus dalam perkataan serta perbuatan, baik kepada penguasa maupun kepada orang lain.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini adalah sabda Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hukum, Bab "Hal yang Diharamkan dari Puji-pujian Sultan", nomor 7179.
Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ عِرَاكٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: "إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ، الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ".
Terjemahan: "Sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah orang yang memiliki dua wajah, yang datang kepada sebagian orang dengan satu wajah dan kepada sebagian yang lain dengan wajah yang lain."
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya. Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, seperti Imam Al-Bukhari yang mencantumkannya dalam bab tentang larangan memuji penguasa secara berlebihan, menunjukkan bahwa bahaya sifat ini sangat besar, terutama dalam konteks hubungan dengan pemimpin. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa orang yang bermuka dua ini adalah orang yang menemui seseorang dengan perkataan yang menyenangkan hatinya, lalu menemui orang lain dengan perkataan yang berbeda untuk merusak hubungan atau mencari muka.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dzul wajhain (pemilik dua wajah) dalam hadits ini adalah orang yang menampakkan satu sikap kepada satu kelompok dan sikap yang berbeda kepada kelompok lain. Sifat ini sangat tercela karena mengandung unsur kebohongan, kemunafikan, dan pengkhianatan.
Pemahaman Ulama:
- Imam Al-Khattabi (walaupun tidak dalam daftar, penjelasannya diwakili oleh ulama lain) dan para pensyarah hadits seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa celaan ini bersifat umum, mencakup semua orang yang bersikap dua muka dalam urusan dunia. Namun, jika seseorang bersikap baik kepada semua orang dengan tujuan menyebarkan kebaikan atau mencegah keburukan, maka itu tidak termasuk dalam celaan ini.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menukil perkataan Imam Al-Qurthubi bahwa orang yang bermuka dua adalah orang yang menemui seseorang dengan perkataan yang menyenangkan hatinya, lalu menemui orang lain dengan perkataan yang berbeda untuk merusak hubungan atau mencari muka. Ini adalah perbuatan yang diharamkan karena mengandung unsur penipuan dan pengkhianatan.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini adalah peringatan keras terhadap sifat munafik dalam pergaulan. Beliau menegaskan bahwa seorang mukmin haruslah shadiq (jujur) dan mustaqim (lurus), tidak seperti bunglon yang berubah warna sesuai tempatnya. Sifat ini akan menghilangkan kepercayaan orang lain dan merusak ukhuwah Islamiyah.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa seorang mukmin itu sederhana dan jujur dalam segala urusannya. Dia tidak menyanjung seseorang secara berlebihan di hadapannya, lalu mencacinya di belakangnya.
Penerapan dalam Konteks Sultan (Pemimpin):
Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam bab "Hal yang Diharamkan dari Puji-pujian Sultan". Ini memberikan pelajaran penting bahwa di antara bentuk bermuka dua yang paling buruk adalah ketika berhadapan dengan penguasa atau pemimpin. Seseorang bisa saja memuji pemimpin secara berlebihan di hadapannya demi mendapatkan jabatan atau harta, tetapi di belakangnya dia mencela dan membencinya. Sikap ini sangat dilarang. Yang diperintahkan adalah menasihati pemimpin dengan cara yang baik, jujur, dan tidak mencari muka, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, "Agama adalah nasihat" (HR. Muslim).
Story Telling
Ada kisah yang sangat terkenal tentang seorang sahabat yang tidak bermuka dua, yaitu Abdullah bin Rawahah radhiyallahu 'anhu. Ketika terjadi Perang Mu'tah, beliau adalah salah satu dari tiga panglima yang ditunjuk oleh Rasulullah ﷺ. Ketika pasukan Muslimin menghadapi pasukan Romawi yang jauh lebih besar jumlahnya, sebagian pasukan merasa gentar.
Melihat hal ini, Abdullah bin Rawahah berusaha menguatkan hati para pasukan. Beliau berkata dengan penuh kejujuran dan keberanian, "Wahai kaumku, demi Allah, apa yang kalian takutkan? Kalian tidaklah berperang melainkan untuk salah satu dari dua hal yang baik: kemenangan atau syahadah (mati syahid). Keduanya adalah kebaikan." Beliau tidak menipu pasukannya dengan mengatakan bahwa kemenangan sudah pasti, tetapi beliau memberikan semangat dengan kebenaran yang hakiki. Beliau adalah sosok yang lurus, tidak bermuka dua, dan akhirnya beliau gugur sebagai syahid di medan perang.
Kisah ini menunjukkan bahwa seorang mukmin yang sejati adalah orang yang jujur dan konsisten, bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Beliau tidak menjilat atau menipu untuk menyenangkan orang lain, tetapi tetap teguh di atas kebenaran.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi Sifat Bermuka Dua: Hindari berbicara atau bersikap berbeda kepada orang yang berbeda hanya untuk mencari keuntungan duniawi. Jadilah pribadi yang konsisten dan jujur.
- Jujur dalam Pergaulan: Jadikan kejujuran sebagai prinsip utama dalam berinteraksi dengan siapa pun, baik teman, keluarga, maupun pemimpin.
- Nasihati Pemimpin dengan Baik: Jika memiliki kritik atau saran untuk pemimpin, sampaikan dengan cara yang baik dan jujur, bukan dengan pujian berlebihan di depannya dan celaan di belakangnya.
- Introspeksi Diri: Periksa hati dan lisan kita, apakah kita termasuk orang yang suka mencari muka dengan cara yang tercela. Jika ya, segera bertaubat dan perbaiki diri.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.