Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tetap menunjuk Abu Bakar radhiyallahu 'anhu untuk memimpin shalat meskipun Aisyah radhiyallahu 'anha mengkhawatirkan tangis Abu Bakar yang bisa mengganggu jamaah. Nabi ﷺ menegaskan perintahnya dan menegur dengan lembut sikap Aisyah dan Hafsa yang menyerupai "para wanita Yusuf" dalam hal mendesak. Hadits ini juga menjadi dalil tentang bolehnya menangis dalam shalat dan keutamaan Abu Bakar sebagai imam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adzan, Bab "Jika Imam Menangis dalam Shalat", dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
Teks hadits yang disebutkan sudah lengkap berharakat. Terjemahan ringkasnya: Nabi ﷺ memerintahkan agar Abu Bakar memimpin shalat, lalu Aisyah dan Hafsa berusaha meminta agar Umar yang menggantikan, namun Nabi ﷺ menegaskan perintahnya kepada Abu Bakar.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan teguran kepada istri-istri Nabi ﷺ:
QS. Al-Ahzab [33]: 32
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا
Terjemahan: "Wahai istri-istri Nabi, kamu tidaklah seperti perempuan-perempuan yang lain jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik."
Ayat ini menunjukkan kedudukan istri-istri Nabi ﷺ yang mulia namun tetap mendapat teguran ketika keliru, sebagaimana dalam hadits ini.
Penjelasan Rinci
Hadits ini dipahami oleh para ulama dalam beberapa aspek penting:
Pertama: Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa penunjukan Abu Bakar sebagai imam shalat oleh Nabi ﷺ dalam sakitnya yang terakhir merupakan isyarat kuat dari Nabi ﷺ tentang kepemimpinan Abu Bakar setelah beliau wafat. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil utama atas kekhalifahan Abu Bakar, karena Nabi ﷺ ridha menjadikannya imam dalam urusan agama, maka tentu lebih ridha untuk urusan dunia.
Kedua: Bolehnya menangis dalam shalat.
Judul bab yang dipilih Imam Al-Bukhari menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini sebagai dalil bahwa menangis dalam shalat tidak membatalkan shalat, selama tidak sampai mengeluarkan suara yang berlebihan atau mengganggu. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa tangis Abu Bakar adalah karena kekhusyukan dan rasa takut kepada Allah, bukan karena hal yang sia-sia.
Ketiga: Teguran Nabi ﷺ kepada Aisyah dan Hafsa.
Ucapan Nabi ﷺ "إِنَّكُنَّ لأَنْتُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ" (sesungguhnya kalian adalah teman-teman Yusuf) adalah teguran halus yang menyerupai kisah wanita-wanita yang mendesak Nabi Yusuf 'alaihissalam. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini bukan celaan berat, melainkan teguran karena mereka mendesak dalam urusan yang sudah diputuskan Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa istri-istri Nabi ﷺ pun bisa keliru, namun Nabi ﷺ tetap mendidik dengan lembut.
Keempat: Adab dalam bermusyawarah dan taat kepada keputusan imam.
Hadits ini mengajarkan bahwa ketika pemimpin sudah memutuskan, hendaknya tidak terus mendesak dengan alasan pribadi, meskipun alasannya tampak baik. Aisyah mengkhawatirkan tangis Abu Bakar, namun Nabi ﷺ lebih mengetahui kemaslahatan yang lebih besar.
Story Telling
Aisyah radhiyallahu 'anha adalah wanita yang sangat mencintai Nabi ﷺ dan ayahnya, Abu Bakar. Dalam sakit Nabi ﷺ yang terakhir, beliau memerintahkan agar Abu Bakar memimpin shalat. Aisyah tahu betul bahwa ayahnya adalah orang yang sangat lembut hatinya; jika membaca Al-Qur'an, tangisnya sering kali tidak bisa ditahan. Aisyah khawatir jamaah tidak bisa mendengar bacaan imam karena tangis Abu Bakar. Ia pun berusaha agar Umar bin al-Khaththab yang memimpin, karena Umar dikenal tegas dan suaranya lantang.
Aisyah menyampaikan usulnya, namun Nabi ﷺ tetap pada perintahnya. Aisyah lalu meminta Hafsa, istri Nabi ﷺ yang lain, untuk menyampaikan hal yang sama. Namun Nabi ﷺ menegur mereka dengan ucapan yang lembut namun tegas: "Diam, sesungguhnya kalian adalah teman-teman Yusuf. Katakan kepada Abu Bakar untuk memimpin shalat."
Hafsa kemudian berkata kepada Aisyah, "Aku tidak pernah mendapatkan kebaikan darimu." Ini menunjukkan bahwa meskipun mereka istri-istri Nabi ﷺ, mereka tetap manusia yang bisa salah dan saling menegur. Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan menjadi pelajaran berharga tentang adab, taat, dan keutamaan Abu Bakar.
Kesimpulan Praktis
- Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sahabat paling utama dan berhak menjadi khalifah setelah Nabi ﷺ.
- Menangis karena kekhusyukan dalam shalat tidak membatalkan shalat.
- Hendaknya seorang muslim taat kepada keputusan imam atau pemimpin dalam urusan yang sudah diputuskan, selama tidak melanggar syariat.
- Teguran hendaknya disampaikan dengan lembut, sebagaimana Nabi ﷺ menegur Aisyah dan Hafsa.
- Istri-istri Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang bisa keliru, namun mereka tetap mulia dan dicintai.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.