Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa ketaatan kepada Rasulullah ﷺ adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, dan ketaatan kepada pemimpin (ulil amri) yang sah adalah bagian dari ketaatan kepada Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan bahwa Islam mengatur hubungan antara rakyat dan pemimpin dengan sangat jelas, yaitu wajib taat selama pemimpin tersebut memerintahkan kebaikan dan tidak memerintahkan kemaksiatan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. An-Nisa' [4]: 59
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat dalam sesuatu hal, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnah) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
Hadits terkait:
Hadits yang sedang dibahas ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Ahkam (Hukum), Bab Perkataan Allah Ta'ala: "Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan Ulil Amri di antara kalian", nomor 7137, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Al-Bukhari (w. 256 H) menempatkan hadits ini dalam bab yang menjelaskan tafsir ayat tentang ketaatan kepada ulil amri, menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini sebagai penjelasan praktis dari ayat tersebut.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin adalah bagian dari ketaatan kepada Rasulullah ﷺ, selama pemimpin tersebut memerintahkan hal yang ma'ruf.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa makna penting:
1. Ketaatan kepada Rasulullah ﷺ adalah ketaatan kepada Allah
Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa Allah Ta'ala memerintahkan ketaatan kepada-Nya dan ketaatan kepada Rasul-Nya. Ketaatan kepada Rasulullah ﷺ tidak bisa dipisahkan dari ketaatan kepada Allah, karena Rasulullah ﷺ tidak pernah berbicara dari hawa nafsunya, melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya. Maka barang siapa menaati Rasulullah ﷺ, berarti ia telah menaati Allah.
2. Ketaatan kepada pemimpin adalah bagian dari ketaatan kepada Rasulullah ﷺ
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (w. 1376 H) dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa Allah memerintahkan ketaatan kepada ulil amri (pemimpin) setelah memerintahkan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemimpin adalah ketaatan yang bersifat mengikuti, bukan ketaatan yang berdiri sendiri. Artinya, kita taat kepada pemimpin karena Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk taat kepada mereka.
3. Batasan ketaatan kepada pemimpin
Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin hanyalah dalam hal yang ma'ruf (kebaikan), bukan dalam kemaksiatan. Ini berdasarkan hadits lain dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
4. Hikmah ketaatan kepada pemimpin
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin memiliki hikmah yang besar, yaitu:
- Menjaga persatuan umat
- Mencegah perpecahan dan kekacauan
- Memudahkan urusan masyarakat
- Menegakkan keadilan dan keamanan
5. Perbedaan pendapat tentang makna "amiri"
Sebagian ulama seperti Imam Al-Bukhari memahami "amiri" dalam hadits ini sebagai pemimpin yang diangkat oleh Rasulullah ﷺ untuk memimpin pasukan atau wilayah tertentu. Namun makna yang lebih umum, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, mencakup seluruh pemimpin umat Islam yang sah, baik itu khalifah, raja, presiden, atau pemimpin di bawahnya, selama mereka memerintah dengan keadilan dan tidak memerintahkan kemaksiatan.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang taat kepadaku, maka ia telah taat kepada Allah, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa yang taat kepada pemimpin yang aku angkat, maka ia telah taat kepadaku, dan barang siapa yang mendurhakai pemimpin tersebut, maka ia telah mendurhakai aku."
Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga ketertiban dan kepatuhan kepada pemimpin dalam Islam. Bahkan dalam kondisi yang sulit sekalipun, Islam mengajarkan untuk tetap menjaga persatuan dan tidak mudah memberontak, kecuali jika pemimpin memerintahkan kemaksiatan yang nyata.
Imam Al-Barbahari (w. 329 H) dalam kitabnya Syarhus Sunnah menegaskan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama'ah berpegang teguh untuk taat kepada pemimpin muslim, baik yang adil maupun yang dzalim, selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Ini adalah ajaran yang diwariskan dari para sahabat dan tabi'in.
Kesimpulan Praktis
- Taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kewajiban utama setiap muslim, dan ini adalah fondasi dari segala ketaatan.
- Taat kepada pemimpin adalah kewajiban syar'i selama pemimpin tersebut memerintahkan kebaikan dan tidak memerintahkan kemaksiatan.
- Jika terjadi perbedaan pendapat antara rakyat dan pemimpin, maka kembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah sebagai hakim terakhir.
- Jangan mudah memberontak kepada pemimpin, karena hal ini akan membawa kerusakan yang lebih besar. Yang diperintahkan adalah sabar dan nasihat yang baik.
- Doakan kebaikan untuk para pemimpin, karena kebaikan mereka adalah kebaikan bagi rakyatnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.