Penjelasan Hadits Bukhari No. 7089 tentang Larangan banyak bertanya yang memberatkan dan fitnah pertanyaan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab dalam bertanya kepada Nabi ﷺ: jangan mendesak dan memperbanyak pertanyaan yang tidak bermanfaat, karena bisa menimbulkan kesulitan dan fitnah. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa beliau akan menjawab semua yang ditanyakan, lalu para sahabat menangis karena takut pertanyaan mereka membuka aib atau kesulitan. Umar radhiyallahu 'anhu memberi teladan dengan menyatakan keridhaan kepada Allah, Islam, dan Rasul-Nya serta berlindung dari fitnah. Hadits ini juga menunjukkan bahwa surga dan neraka ditampilkan kepada Nabi ﷺ pada hari itu.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat yang dikaitkan oleh Qatadah bin Di'amah as-Sadusi dengan hadits ini:

QS. Al-Ma'idah [5]: 101

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu bertanya tentang hal-hal yang jika dijelaskan kepadamu akan menyusahkan kamu."

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Fitnah, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dan di dalamnya Qatadah bin Di'amah as-Sadusi menyebutkan kaitan dengan ayat di atas. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini dalam bab memohon perlindungan dari fitnah, dan Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (ketika membahas hadits semakna) menegaskan larangan memperbanyak pertanyaan yang tidak dibutuhkan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:

Pertama, adab bertanya. Anas radhiyallahu 'anhu berkata bahwa orang-orang bertanya kepada Nabi ﷺ "hingga ahfauhu bil mas'alah", yakni sampai membuat beliau kesal atau mendesak beliau dengan pertanyaan. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa kata "ahfauhu" bermakna memaksa dan memperbanyak pertanyaan hingga memberatkan. Ini menunjukkan bahwa bertanya dalam agama haruslah dengan adab, niat mencari ilmu, dan tidak bertujuan menguji atau menyulitkan.

Kedua, Nabi ﷺ naik mimbar dan berkata: "Kalian tidak akan bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku akan menjelaskan kepada kalian." Para sahabat kemudian menangis dan menutupi kepala mereka, karena mereka sadar bahwa pertanyaan yang berlebihan bisa membuka hal-hal yang menyulitkan. Ini sebagaimana makna ayat yang disebut Qatadah: jangan bertanya tentang hal-hal yang jika dijelaskan akan menyusahkan kalian.

Ketiga, kisah seorang lelaki yang biasa dipanggil kepada selain ayahnya ketika bertengkar. Ia bertanya: "Siapa ayahku?" Nabi ﷺ menjawab: "Ayahmu Hudzaifah." Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menjawab dengan kebenaran, dan bahwa nasab harus dikembalikan kepada yang benar. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat pelajaran bahwa seorang imam atau pemimpin boleh menjawab pertanyaan yang muncul, namun umat hendaknya tidak memperbanyak pertanyaan yang tidak perlu.

Keempat, sikap Umar radhiyallahu 'anhu yang berdiri dan berkata: "Kami ridha kepada Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai Rasul kami, dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan fitnah." Ini adalah teladan dalam menutup pintu pertanyaan yang berlebihan dengan menyatakan keridhaan dan berlindung dari fitnah. Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Umar memahami bahwa pertanyaan yang berlebihan bisa menjadi fitnah, sehingga beliau mencontohkan sikap tawakal dan ridha.

Kelima, Nabi ﷺ bersabda: "Aku belum pernah melihat kebaikan dan keburukan seperti pada hari ini. Sesungguhnya surga dan neraka ditampilkan di depanku hingga aku melihat keduanya di depan dinding itu." Ini menunjukkan bahwa pada hari itu Nabi ﷺ diberi penyingkapan tentang surga dan neraka, sebagai peringatan bagi umat agar bersiap untuk akhirat. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa penyingkapan surga dan neraka kepada Nabi ﷺ adalah bagian dari mukjizat dan peringatan.

Qatadah bin Di'amah as-Sadusi menyebutkan bahwa hadits ini biasa disebutkan ketika membahas ayat QS. Al-Ma'idah [5]: 101, yang melarang bertanya tentang hal-hal yang jika dijelaskan akan menyusahkan. Ini menunjukkan pemahaman Qatadah bahwa hadits ini adalah contoh nyata dari larangan tersebut.

Story Telling

Dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, suatu hari orang-orang bertanya kepada Nabi ﷺ dengan pertanyaan yang banyak dan mendesak. Mereka terus bertanya hingga membuat beliau kesal. Maka Nabi ﷺ naik ke mimbar dan berkata, "Kalian tidak akan bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku akan menjelaskannya kepada kalian." Mendengar itu, para sahabat menangis dan menutupi kepala mereka dengan pakaian, karena mereka takut pertanyaan mereka akan membuka sesuatu yang menyulitkan.

Kemudian seorang lelaki yang biasa dipanggil kepada selain ayahnya ketika bertengkar berdiri dan bertanya, "Wahai Nabi Allah, siapa ayahku?" Nabi ﷺ menjawab, "Ayahmu Hudzaifah." Lalu Umar radhiyallahu 'anhu berdiri dan berkata, "Kami ridha kepada Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai Rasul kami, dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan fitnah." Nabi ﷺ kemudian bersabda, "Aku belum pernah melihat kebaikan dan keburukan seperti pada hari ini. Sesungguhnya surga dan neraka ditampilkan di depanku hingga aku melihat keduanya di depan dinding itu."

Qatadah bin Di'amah as-Sadusi menyebutkan bahwa hadits ini biasa disebutkan ketika membahas ayat: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu bertanya tentang hal-hal yang jika dijelaskan kepadamu akan menyusahkan kamu." (QS. Al-Ma'idah [5]: 101). Hikmahnya: bertanyalah dengan adab, niat mencari ilmu, dan jangan mendesak atau memperbanyak pertanyaan yang tidak bermanfaat, karena bisa menimbulkan fitnah dan kesulitan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bertanyalah dalam agama dengan adab, niat mencari ilmu, dan tidak mendesak atau memperbanyak pertanyaan yang tidak bermanfaat.
  2. Hindari pertanyaan yang bertujuan menguji, menyulitkan, atau membuka aib, karena bisa menimbulkan fitnah.
  3. Teladani sikap Umar radhiyallahu 'anhu: menyatakan keridhaan kepada Allah, Islam, dan Rasul-Nya, serta berlindung dari fitnah.
  4. Ingatlah bahwa surga dan neraka adalah nyata; persiapkan diri dengan amal saleh.
  5. Kembalikan nasab kepada yang benar dan jangan memanggil seseorang kepada selain ayahnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?