Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah petunjuk penting dari Nabi ﷺ tentang cara menyikapi masa-masa fitnah dan perpecahan umat. Intinya, ketika terjadi kekacauan dan banyak kelompok yang menyesatkan, seorang Muslim diperintahkan untuk tetap berpegang pada jamaah (persatuan) kaum Muslimin beserta pemimpinnya. Namun, jika tidak ada jamaah dan pemimpin yang benar, maka ia harus mengasingkan diri dari semua kelompok yang sesat tersebut, meskipun harus menggigit akar pohon hingga datang kematian, asalkan ia selamat agamanya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Fitan, Bab "Kaifiyyah al-Amru Idza Lam Takun Jama'ah" (Bagaimana Jika Tidak Ada Jamaah), no. 7084, dari sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Ali 'Imran [3]: 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara."
Ayat ini menegaskan perintah untuk bersatu dan larangan bercerai-berai, yang sejalan dengan perintah Nabi ﷺ dalam hadits ini untuk tetap bersama jamaah.
Hadits terkait lainnya:
Hadits dari 'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemimpin) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habsyi. Sesungguhnya siapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk..." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
Kaitan dengan ulama:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa perintah untuk berpegang pada jamaah dan imam ini adalah dalam perkara kebaikan dan kebenaran. Jika pemimpin atau jamaah tersebut berada di atas kebenaran, maka wajib bersama mereka. Namun jika tidak ada, maka seorang Muslim harus menjaga agamanya dengan mengasingkan diri dari kebatilan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits tentang fitnah yang sangat penting. Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu dikenal sebagai sahabat yang banyak mengetahui tentang fitnah karena ia berani bertanya tentang keburukan, berbeda dengan kebanyakan sahabat yang bertanya tentang kebaikan. Ini menunjukkan kecerdasan dan kehati-hatian beliau dalam menjaga agama.
Poin-poin penting dalam hadits ini:
- Urutan fase kebaikan dan keburukan: Nabi ﷺ mengabarkan bahwa setelah kebaikan Islam yang dibawa beliau, akan muncul keburukan. Kemudian setelah keburukan itu akan muncul kebaikan, tetapi kebaikan itu "berasap" (dakhan), artinya tidak murni, ada campuran keburukan di dalamnya. Setelah kebaikan yang tidak murni itu, akan muncul keburukan yang lebih parah, yaitu munculnya para penyeru ke pintu neraka.
- Ciri-ciri penyeru ke pintu neraka: Mereka berasal dari kalangan umat ini sendiri ("dari kulit kita") dan berbicara dengan bahasa kita (Arab). Ini menunjukkan bahaya mereka, karena mereka tidak mudah dikenali sebagai orang luar. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengajak kepada kebid'ahan dan kesesatan, dengan dalih yang menipu.
- Perintah ketika terjadi fitnah: Ketika fitnah terjadi, perintah Nabi ﷺ adalah "berpeganglah pada jamaah kaum Muslimin dan imam mereka." Ini adalah perintah untuk tetap bersatu di bawah kepemimpinan yang sah, selama pemimpin tersebut masih menegakkan syariat Islam. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud jamaah di sini adalah para ulama dan orang-orang yang mengikuti kebenaran, atau pemimpin yang sah.
- Solusi ketika tidak ada jamaah dan imam: Jika keadaan sudah sangat kacau dan tidak ada lagi jamaah serta pemimpin yang benar, maka perintah Nabi ﷺ adalah mengasingkan diri dari semua kelompok yang ada, "meskipun engkau harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu." Ini adalah perintah untuk menjaga keselamatan agama di atas segalanya. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini adalah bentuk uzlah (pengasingan diri) yang diperbolehkan bahkan dianjurkan ketika fitnah memuncak dan tidak ada kelompok yang selamat untuk diikuti.
Perbedaan pendapat ulama:
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah uzlah (mengasingkan diri) lebih utama daripada berkumpul dengan manusia ketika terjadi fitnah. Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa uzlah lebih utama ketika fitnah terjadi, berdasarkan hadits ini. Sementara ulama lain berpendapat bahwa tetap berbaur dengan masyarakat untuk menegakkan kebaikan lebih utama jika seseorang mampu. Namun, dalam kondisi yang digambarkan hadits ini—yaitu ketika tidak ada jamaah dan imam yang benar—maka uzlah adalah perintah yang tegas.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika fitnah besar terjadi di akhir masa pemerintahan Utsman bin Affan dan setelahnya, banyak sahabat yang memilih untuk mengasingkan diri. Di antaranya adalah Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Beliau mengasingkan diri di 'Aqiq (sebuah lembah di dekat Madinah) dan tidak ikut campur dalam peperangan antara kaum Muslimin. Beliau lebih memilih menjaga agamanya daripada terlibat dalam pertumpahan darah sesama Muslim. Ini adalah contoh nyata dari pengamalan hadits ini, di mana ketika tidak ada jamaah yang jelas di atas kebenaran, seorang sahabat memilih untuk menyendiri demi menjaga keselamatan agama dan nyawanya.
Kesimpulan Praktis
- Bersungguh-sungguh mencari ilmu agar bisa membedakan antara yang benar dan yang batil, serta mengenali ciri-ciri penyeru kesesatan.
- Berpegang teguh pada jamaah kaum Muslimin dan pemimpinnya selama mereka berada di atas kebenaran dan menegakkan syariat Islam.
- Menjauhi perpecahan dan perselisihan yang tidak berdasarkan dalil, karena itu adalah awal dari kehancuran.
- Jika fitnah memuncak dan tidak ada kelompok yang jelas di atas kebenaran, maka lebih utama untuk mengasingkan diri (uzlah) demi menjaga agama, sebagaimana perintah Nabi ﷺ.
- Selalu berdoa kepada Allah agar diberikan keteguhan hati di atas agama-Nya dan dijauhkan dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.