Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah petunjuk Nabi ﷺ yang sangat berharga tentang sikap seorang muslim ketika terjadi fitnah (kekacauan, perselisihan, dan peperangan antar sesama muslim). Intinya, ketika fitnah terjadi, seorang mukmin diperintahkan untuk menjauh dan tidak ikut campur. Semakin ia menjauh dan tidak terlibat, semakin baik baginya. Jika bisa berlindung, maka berlindunglah. Ini adalah bentuk menjaga agama dan keselamatan diri dari kehancuran.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Fitan, Bab "Akan Terjadi Fitnah, Orang yang Duduk di Dalamnya Lebih Baik daripada yang Berdiri", no. 7082, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Lafadz haditsnya adalah sebagai berikut:
<p>سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ، فَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ</p>
Artinya: "Akan ada fitnah, orang yang duduk di dalamnya lebih baik daripada yang berdiri, dan yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Siapa yang menonjolkan diri untuk fitnah itu, maka fitnah itu akan menelannya. Maka siapa yang mendapatkan tempat perlindungan atau tempat berlindung, hendaklah ia berlindung dengannya."
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
<p>وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ</p>
(QS. Al-Anfal [8]: 25)
Artinya: "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya."
Ayat ini menunjukkan bahwa fitnah bisa melanda secara umum, dan seorang mukmin diperintahkan untuk berhati-hati serta menjauhkan diri dari sebab-sebab yang mendatangkan keburukan.
Penjelasan Ulama:
- Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Al-Fitan, menunjukkan bahwa ini adalah bagian dari tanda-tanda akhir zaman dan ujian besar bagi umat.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah dorongan untuk menjauhi fitnah dan tidak ikut serta di dalamnya, karena keterlibatan hanya akan menambah kerusakan. Beliau menukil perkataan Imam Al-Khathabi bahwa yang dimaksud adalah fitnah yang terjadi di antara sesama muslim, di mana tidak jelas pihak yang benar dan salah, sehingga sikap terbaik adalah menahan diri.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (karena hadits semakna juga diriwayatkan Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini memerintahkan untuk menjauh dari fitnah dan tidak mencarinya. Jika seseorang tidak mampu mengubah kemungkaran, maka ia diperintahkan untuk mengasingkan diri demi menjaga agamanya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan tingkatan-tingkatan dalam menghadapi fitnah:
- Orang yang duduk lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari. Ini adalah gambaran bahwa semakin seseorang terlibat dan "bergerak" menuju fitnah, maka semakin besar keburukan yang akan menimpanya. Sebaliknya, semakin ia diam dan menjauh, semakin selamat ia. Ini bukan berarti kita tidak boleh membela kebenaran, tetapi ini adalah panduan khusus ketika fitnah telah terjadi dan keadaan menjadi kacau, di mana tidak ada pemimpin yang jelas dan kebenaran menjadi samar.
- "Man tasyorrofa laha tasytasyrifhu" - Siapa yang menonjolkan diri untuk fitnah, maka fitnah itu akan menelannya. Maksudnya, siapa yang justru mencari-cari fitnah, ingin tahu, atau bahkan ikut ambil bagian, maka ia akan menjadi korbannya. Fitnah itu seperti api; semakin didekati, semakin terbakar.
- "Faman wajada malja'an au ma'adzan falya'udz bih" - Maka siapa yang mendapatkan tempat perlindungan, hendaklah ia berlindung. Ini adalah perintah aktif untuk mencari keselamatan. Bentuk perlindungan bisa berupa:
- Mengasingkan diri ke tempat yang aman.
- Diam di rumah dan tidak keluar.
- Menutup pintu dan sibuk dengan ibadah.
- Menjaga lisan dan tidak ikut menyebarkan berita atau hasutan.
Sikap Para Ulama Salaf:
- Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang fitnah yang terjadi di zamannya, beliau menjawab dengan berpegang pada hadits ini dan memilih untuk diam serta tidak ikut campur dalam perselisihan politik yang terjadi antara para penguasa.
- Imam Al-Bukhari sendiri, ketika terjadi fitnah di zamannya, beliau memilih untuk mengasingkan diri dan tidak terlibat dalam keributan tersebut, sebagaimana yang dinukil oleh para ulama dalam biografinya.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini adalah obat penenang bagi seorang muslim di tengah kekacauan. Beliau menekankan bahwa sikap ini adalah untuk menjaga jiwa dan agama, bukan berarti lari dari tanggung jawab. Jika seorang muslim mampu memberikan manfaat dan menegakkan kebenaran tanpa terlibat dalam kerusakan, maka itu lebih utama. Namun, jika tidak mampu, maka menjauh adalah pilihan terbaik.
Pengecualian yang Penting:
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini berlaku untuk fitnah yang samar dan tidak jelas. Adapun jika ada pihak yang jelas zalim dan pihak yang jelas benar, maka seorang muslim wajib membela kebenaran sesuai kemampuannya. Namun, dalam kondisi fitnah yang memecah belah umat dan tidak jelas ujung pangkalnya, maka sikap 'uzlah (mengasingkan diri) adalah yang paling utama.
Story Telling
Ada sebuah kisah yang sangat masyhur dari sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu. Beliau bertanya kepada Nabi ﷺ tentang keburukan, lalu bertanya tentang kebaikan setelahnya. Di akhir pertanyaannya, beliau bertanya, "Wahai Rasulullah, jika kami hidup pada masa fitnah, apa yang engkau perintahkan?" Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Engkau harus berpegang pada jama'ah (persatuan) kaum muslimin dan imam (pemimpin) mereka." Hudzaifah bertanya lagi, "Bagaimana jika mereka tidak memiliki jama'ah dan tidak memiliki imam?" Maka Nabi ﷺ bersabda, "Maka jauhilah semua kelompok-kelompok itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon hingga ajal menjemputmu dalam keadaan seperti itu." (HR. Al-Bukhari no. 3606 dan Muslim no. 1847).
Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga diri dari fitnah. Bahkan Nabi ﷺ memerintahkan untuk "menggigit akar pohon" - sebuah kiasan untuk mengasingkan diri sepenuhnya - daripada terlibat dalam perpecahan yang menumpahkan darah sesama muslim. Ini adalah pelajaran berharga bahwa menjaga keutuhan iman dan keselamatan jiwa lebih utama daripada terjun dalam kekacauan yang tidak jelas arahnya.
Kesimpulan Praktis
Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan:
- Jauhi perdebatan dan perkelahian yang tidak bermanfaat, terutama yang berkaitan dengan perselisihan politik atau kelompok yang memecah belah umat.
- Jaga lisan dan jari dari menyebarkan berita bohong, hasutan, atau ujaran kebencian yang bisa memicu fitnah.
- Sibukkan diri dengan ibadah dan ketaatan di rumah. Ini adalah bentuk perlindungan terbaik.
- Jika mampu memberikan manfaat dengan cara yang benar dan tidak terlibat dalam kerusakan, maka lakukanlah. Namun jika tidak, maka menjauh adalah lebih utama.
- Perbanyak doa agar Allah selamatkan kita dari fitnah, sebagaimana doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.