Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa mimpi Nabi ﷺ adalah wahyu yang benar, dan bahwa susu dalam mimpi beliau ditakwilkan sebagai ilmu. Pemberian sisa susu kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu menunjukkan keutamaan Umar dalam ilmu agama, khususnya dalam memahami dan menegakkan kebenaran. Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah isyarat tentang luasnya ilmu Umar dan keberkahan kepemimpinannya yang tegak di atas ilmu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab Mengartikan Mimpi, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أُتِيتُ بِقَدَحِ لَبَنٍ فَشَرِبْتُ مِنْهُ، ثُمَّ أَعْطَيْتُ فَضْلِي عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ». قَالُوا: فَمَا أَوَّلْتَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الْعِلْمَ».
Terjemahan: "Ketika saya tidur, saya didatangi dengan sebuah cangkir berisi susu, lalu saya meminumnya, kemudian saya memberikan sisanya kepada Umar bin Al-Khattab." Mereka bertanya, "Apa takwilnya, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ilmu."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan ilmu dan kedudukan orang berilmu:
QS. Az-Zumar [39]: 9
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُو الْأَلْبَابِ
Terjemahan: "Katakanlah, 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran."
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu dan ahli ilmu, dan bahwa Allah membedakan antara orang berilmu dengan yang tidak.
Penjelasan Rinci
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tafsir, bab tentang mengartikan mimpi, yang menunjukkan bahwa beliau memandang hadits ini sebagai bagian dari penjelasan tentang kaidah takwil mimpi.
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan beberapa poin penting:
- Mimpi para nabi adalah wahyu — Mimpi Nabi ﷺ bukan mimpi biasa, tetapi bagian dari wahyu yang benar dan pasti terjadi. Ini sesuai dengan hadits lain bahwa mimpi para nabi adalah wahyu.
- Susu sebagai simbol ilmu — Para ulama menjelaskan bahwa susu ditakwilkan sebagai ilmu karena susu adalah makanan yang murni, mudah dicerna, dan memberi kekuatan — sebagaimana ilmu yang murni memberi kekuatan bagi hati dan akal. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam I'lam al-Muwaqqi'in menyebutkan bahwa susu melambangkan ilmu karena keduanya sama-sama memberi kehidupan dan cahaya.
- Keutamaan Umar bin Al-Khattab — Pemberian sisa susu kepada Umar menunjukkan bahwa Umar akan mendapatkan bagian besar dari ilmu Nabi ﷺ. Ini terbukti dalam sejarah, di mana Umar radhiyallahu 'anhu dikenal sebagai salah satu sahabat yang paling dalam ilmunya, paling kuat pemahamannya, dan banyak fatwanya menjadi rujukan.
- Sisa (fadhlu) — Sebagian ulama menjelaskan bahwa "sisa" di sini menunjukkan bahwa Umar mendapatkan ilmu yang melimpah setelah Nabi ﷺ, yaitu ilmu yang beliau wariskan kepada para sahabat, dan Umar adalah salah satu yang paling banyak mengambilnya.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa mimpi ini adalah isyarat tentang kekhalifahan Umar dan keadilannya yang tegak di atas ilmu. Ilmu yang dimaksud bukan hanya ilmu agama, tetapi juga kemampuan memimpin dan memutuskan perkara dengan benar.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa ilmu adalah sebaik-baik pemberian, dan bahwa orang yang diberi ilmu oleh Allah adalah orang yang mendapatkan bagian besar dari kebaikan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa mimpi Nabi ﷺ tentang susu dan pemberian kepada Umar adalah kabar gembira tentang luasnya ilmu Umar dan keberkahan umat Islam melalui kepemimpinannya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling sering bermusyawarah dengan Nabi ﷺ dan paling banyak bertanya tentang makna ayat-ayat Al-Qur'an. Ketika Nabi ﷺ wafat, Umar menjadi salah satu rujukan utama dalam fatwa dan hukum.
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, adalah putra Umar sendiri. Beliau mendengar langsung dari Nabi ﷺ tentang mimpi ini, dan ini menunjukkan betapa beliau memperhatikan keutamaan ayahnya dalam ilmu.
Dalam sebuah riwayat, Abdullah bin Umar pernah ditanya tentang suatu masalah, dan beliau menjawab dengan jawaban yang menunjukkan kedalaman ilmunya — warisan dari ayahnya, Umar, yang ilmunya adalah bagian dari takwil mimpi Nabi ﷺ ini.
Kesimpulan Praktis
- Mimpi para nabi adalah wahyu — kita meyakini bahwa mimpi Nabi ﷺ adalah benar dan bagian dari kenabian.
- Ilmu adalah sebaik-baik pemberian — susu yang ditakwilkan sebagai ilmu menunjukkan bahwa ilmu adalah makanan bagi ruh dan akal.
- Keutamaan Umar bin Al-Khattab — hadits ini adalah salah satu dalil keutamaan Umar dalam ilmu dan kepemimpinan.
- Kita dianjurkan mencintai ilmu — sebagaimana Umar mengambil bagian besar dari ilmu Nabi ﷺ, kita pun hendaknya bersemangat menuntut ilmu agama.
- Mimpi yang baik adalah kabar gembira — jika seseorang bermimpi baik, hendaknya ia memuji Allah dan tidak menceritakannya kecuali kepada orang yang dicintai.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.