Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits riwayat Al-Bukhari ini mengisahkan dialog antara Kaisar Heraklius dan Abu Sufyan (sebelum masuk Islam). Heraklius, atas dasar logika dan pengetahuan kitab sebelumnya, mengakui kebenaran kenabian Muhammad ﷺ melalui ciri-ciri yang ia tanyakan. Hadits ini menjadi bukti kerasulan Nabi yang diakui oleh pemimpin besar non-Muslim, serta menunjukkan bahwa sifat-sifat Nabi dan ajaran Islam selaras dengan tanda-tanda kenabian yang disebutkan dalam Taurat dan Injil.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits riwayat Shahih Al-Bukhari nomor 7, dari Abdullah bin Abbas dari Abu Sufyan. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1773). Penjelasan ulama antara lain:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari (1/31-34) menguraikan bahwa hadits ini adalah salah satu mukjizat Nabi -ṣallallahu ‘alaihi wa sallam- karena pengakuan Heraklius meskipun ia belum beriman.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (12/107) menekankan bahwa Heraklius bertanya tentang nasab, tidak ada pendahulu, tidak ada raja dari nenek moyang, pengikut orang lemah, tidak pernah berdusta sebelumnya, tidak pernah berkhianat, dan ajaran tauhid yang murni. Semua itu adalah sifat-sifat nabi sejati.
- Imam al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam “Kitab Bad’ al-Wahyi” sebagai penguat bahwa wahyu dan kenabian Muhammad -ṣallallahu ‘alaihi wa sallam- benar.
Ayat yang terkait:
Allah berfirman (tentang tanda-tanda kenabian di kitab sebelumnya):
{الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ}
(QS. Al-A’raf [7]: 157)
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (nama dan sifatnya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka.”
Penjelasan Rinci
Hadits ini memuat dialog antara Heraklius (Kaisar Romawi Timur) dengan Abu Sufyan yang saat itu masih musyrik dan memusuhi Nabi ﷺ. Heraklius mengajukan serangkaian pertanyaan yang mencerminkan indikator-indikator kenabian yang diajarkan dalam kitab suci sebelumnya.
Pertanyaan dan hikmahnya:
- Nasab: Heraklius bertanya tentang nasab Nabi. Abu Sufyan menjawab beliau berasal dari kaum Quraisy yang terhormat. Heraklius berkata: “Para rasul diutus dari kalangan kaumnya yang mulia.” (Ini sesuai dengan sunnatullah bahwa rasul diutus dari tengah kaumnya yang dikenal jujur.)
- Apakah ada yang pernah mengaku nabi sebelumnya? Abu Sufyan menjawab tidak. Heraklius mengatakan: “Jika ada orang sebelumnya yang mengatakan hal serupa, maka bisa jadi ia meniru.” Kenabian Muhammad -ṣallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak didahului oleh pengakuan serupa dari orang Arab.
- Apakah ada raja dari leluhurnya? Tidak. Heraklius berkata: “Jika ia berasal dari keluarga raja, ia mungkin ingin merebut kembali kerajaan.” Kesimpulan: Muhammad tidak terdorong ambisi duniawi.
- Siapa pengikutnya? Abu Sufyan menjawab: orang-orang lemah dan miskin. Heraklius berkata: “Merekalah yang pertama mengikuti para rasul.” (Karena orang-orang yang tidak sombong lebih mudah menerima kebenaran.)
- Apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang? Bertambah. Heraklius: “Demikianlah iman, akan sempurna.”
- Apakah ada yang murtad karena benci? Tidak. Heraklius: “Itu bukti iman telah masuk ke dalam hati.”
- Pernahkah ia berdusta sebelum kenabian? Tidak. Heraklius: “Jika ia tidak berdusta kepada manusia, ia tidak akan berdusta kepada Allah.”
- Apakah ia berkhianat? Tidak. Heraklius: “Para rasul tidak berkhianat.”
- Apa yang ia ajarkan? Ibadah kepada Allah semata, shalat, kejujuran, menjaga kehormatan, dan silaturahmi. Heraklius: “Ajaran inilah yang benar.”
Setelah itu, Heraklius membaca surat Nabi ﷺ dan mengakui bahwa jika semua itu benar, maka Muhammad akan menguasai wilayah tempat Heraklius berdiri. Namun, karena takut kehilangan tahta, ia tidak masuk Islam.
Pelajaran besar:
- Sifat-sifat kenabian bisa diketahui melalui akal dan logika yang jernih, meskipun tanpa iman.
- Kejujuran, akhlak mulia, dan kesesuaian ajaran dengan fitrah adalah bukti kebenaran.
- Ulama Ahlus Sunnah seperti Ibnu Hajar, An-Nawawi, dan Ibnu Katsir (dalam Al-Bidayah wan Nihayah) menekankan bahwa hadits ini menjadi dalil akan kenabian Muhammad -ṣallallahu ‘alaihi wa sallam- dari sudut pandang sejarah dan nalar.
Story Telling
Kisah ini mengajarkan kita sikap adil dalam mencari kebenaran, seperti yang dilakukan Heraklius meskipun akhirnya ia lebih memilih kekuasaan dunia. Abu Sufyan sendiri kemudian masuk Islam setelah penaklukan Makkah. Dalam riwayat lain, ketika menjadi gubernur di Najran, ia sempat ragu saat shalat, tetapi tetap teguh setelah diingatkan. Hikmahnya: kebenaran pasti akan nampak jelas bagi siapa pun yang jujur mencarinya.
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini memperkuat keyakinan kita bahwa Nabi Muhammad ﷺ benar-benar utusan Allah, karena ciri-ciri kenabiannya terbukti secara rasional dan historis.
- Kita harus mempelajari sirah dan tanda-tanda kenabian agar iman semakin kokoh.
- Hendaknya kita bersikap seperti Heraklius dalam mencari kebenaran (adil dan teliti), namun jangan seperti dia yang meninggalkannya karena kepentingan dunia.
- Ajarkan sifat-sifat Nabi ini kepada keluarga dan masyarakat sebagai dakwah bil hikmah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.