Penjelasan Hadits Bukhari No. 6986 tentang Mimpi baik dari Allah, mimpi buruk dari setan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa mimpi yang baik (ar-ru'ya ash-shalihah) berasal dari Allah sebagai kabar gembira, sedangkan mimpi buruk (al-hulm) berasal dari setan sebagai gangguan. Ketika seseorang mengalami mimpi buruk, Nabi ﷺ mengajarkan tiga langkah: berlindung kepada Allah, meludah ringan ke sebelah kiri, dan tidak menghiraukannya — maka mimpi itu tidak akan membahayakannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Shahih Al-Bukhari no. 6986, Kitab Tafsir, Bab Mimpi yang Baik adalah Sebagian dari Kenabian. Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنَ اللَّهِ، وَالْحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا حَلَمَ فَلْيَتَعَوَّذْ مِنْهُ وَلْيَبْصُقْ عَنْ شِمَالِهِ، فَإِنَّهَا لَا تَضُرُّهُ

Terjemahan: "Mimpi yang baik adalah dari Allah, dan mimpi buruk adalah dari setan. Maka jika dia bermimpi buruk, hendaklah dia berlindung kepada Allah darinya dan meludah ke sebelah kirinya, karena mimpi buruk itu tidak akan membahayakannya."

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan — QS. Yusuf [12]: 100:

وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي

Terjemahan: "Dan sesungguhnya Dia telah berbuat baik kepadaku ketika Dia mengeluarkanku dari penjara dan ketika Dia mendatangkan kamu dari pelosok desa, setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa setan memang berupaya menimbulkan kerusakan dan permusuhan, termasuk melalui bisikan dan gangguan dalam tidur.

Hadits pendukung — Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda bahwa mimpi buruk berasal dari setan, maka hendaklah ia meludah ke kiri tiga kali dan berlindung kepada Allah dari setan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa meludah di sini adalah meludah ringan (nafkh) tanpa air liur, sebagai bentuk penghinaan terhadap setan.

Penjelasan Rinci

Makna ar-ru'ya dan al-hulm. Para ulama membedakan antara ar-ru'ya (mimpi baik) dan al-hulm (mimpi buruk). Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ar-ru'ya adalah apa yang dilihat dalam tidur berupa sesuatu yang baik dan menyenangkan, sedangkan al-hulm adalah mimpi yang buruk dan menakutkan. Nabi ﷺ dalam hadits ini menegaskan bahwa mimpi baik berasal dari Allah, sementara mimpi buruk berasal dari setan.

Mimpi baik sebagai bagian dari kenabian. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tafsir, Bab "Mimpi yang Baik adalah Sebagian dari Kenabian." Ini merujuk pada hadits lain yang shahih, di mana Nabi ﷺ bersabda: الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ — "Mimpi yang baik adalah satu dari empat puluh enam bagian kenabian." Ibnu Hajar menjelaskan bahwa mimpi baik disebut bagian dari kenabian karena ia merupakan kabar gembira dari Allah dan mengandung petunjuk, sebagaimana wahyu yang diterima para nabi. Namun ini bukan berarti orang yang bermimpi baik menjadi nabi, melainkan bahwa mimpi baik adalah sisa dari kenabian setelah wahyu terputus.

Mimpi buruk dari setan. Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa setan memang diberi kemampuan untuk menampakkan sesuatu dalam tidur manusia agar ia bersedih dan gelisah. Setan tidak mampu menyerupai para nabi dalam mimpi, tetapi ia bisa menampilkan gambaran-gambaran buruk yang menakutkan. Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan cara menangkalnya.

Tiga langkah menangkal mimpi buruk. Pertama, berlindung kepada Allah (ta'awwudz) dari setan dan keburukan mimpi tersebut. Kedua, meludah ringan ke sebelah kiri — Imam an-Nawawi menjelaskan ini adalah meludah dengan sedikit udara (nafkh) disertai sedikit air liur, bukan meludah penuh. Ketiga, tidak menghiraukan dan tidak menceritakannya kepada orang lain. Dalam hadits lain yang shahih, Nabi ﷺ melarang menceritakan mimpi buruk kepada siapa pun, karena menceritakannya bisa membuatnya semakin membekas dan menimbulkan kecemasan.

Mengapa tidak membahayakan? Nabi ﷺ menjamin bahwa dengan melakukan langkah-langkah tersebut, mimpi buruk tidak akan membahayakan. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ini adalah bentuk perlindungan Allah melalui dzikir dan tawakkal. Setan tidak memiliki kekuatan nyata kecuali sebatas bisikan dan rasa takut yang ditimbulkan; ketika seorang hamba berlindung kepada Allah, maka perlindungan Allah lebih kuat dari gangguan setan.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama daftar. Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar sepakat bahwa perintah meludah ke kiri bersifat ta'abbudi (ibadah) yang tujuannya menghinakan setan, bukan karena meludah itu sendiri memiliki kekuatan. Ibnul Qayyim menambahkan bahwa hikmahnya adalah menunjukkan bahwa setan itu hina dan rendah. Tidak ada perbedaan mendasar di antara mereka dalam memahami hadits ini.

Story Telling

Abu Qatadah al-Anshari radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang mulia, seorang penunggang kuda pemberani di medan perang. Suatu ketika ia meriwayatkan hadits ini kepada murid-muridnya, yaitu Abu Salamah bin Abdurrahman dan Abdullah bin Abi Qatadah. Perawi hadits ini, Abdullah bin Yahya bin Abi Katsir, disebutkan oleh Imam Al-Bukhari bahwa ia bertemu dengannya di Yamamah dan memujinya dengan kebaikan — menunjukkan betapa Al-Bukhari sangat teliti dalam memastikan kejujuran dan keandalan perawi.

Hikmahnya: para sahabat sangat menjaga penyampaian hadits Nabi ﷺ dengan sanad yang terpercaya, dan mereka tidak menambah atau mengurangi. Ini mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan ilmu agama.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa mimpi baik adalah kabar gembira dari Allah — syukuri dan jangan sombong karenanya.
  2. Jika bermimpi buruk, jangan panik. Lakukan tiga hal: berlindung kepada Allah (membaca ta'awwudz), meludah ringan ke kiri, dan jangan ceritakan kepada orang lain.
  3. Jangan percaya ramalan mimpi atau menafsirkan mimpi dengan cara yang tidak diajarkan Nabi ﷺ.
  4. Perbanyak dzikir sebelum tidur, karena itu benteng dari gangguan setan.
  5. Jangan menganggap mimpi sebagai sumber hukum — mimpi hanya kabar gembira atau peringatan, bukan dalil syariat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?