Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan upaya sebagian istri Nabi ﷺ yang merasa cemburu (ghirah) ketika mengetahui Nabi ﷺ lebih lama tinggal di rumah Hafshah karena meminum madu yang dihadiahkan kepadanya. Mereka bersepakat membuat Nabi ﷺ merasa bahwa mulut beliau berbau tidak sedap, sehingga beliau berhenti meminum madu itu. Perbuatan ini termasuk tipu daya yang dicela, meskipun dilatarbelakangi cemburu. Hadits ini menjadi dalil haramnya tipu daya dalam rumah tangga, dan menunjukkan betapa Nabi ﷺ sangat menjaga kebersihan dan keharuman diri beliau.
Rujukan Ulama & Dalil
Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ
"Dan katakanlah, 'Wahai Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan.'" (QS. Al-Mu'minun [23]: 97)
Ayat ini menunjukkan bahwa bisikan yang mendorong kepada tipu daya dan permusuhan berasal dari setan, dan seorang mukmin diperintahkan berlindung darinya.
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tipu Daya (Kitab al-Hiyal), Bab Apa yang Diharamkan dari Tipu Daya Wanita terhadap Suami dan Istri-Istri yang Lain, no. 6972. Perawi jalannya: 'Ubaid bin Isma'il ← Abu Usamah ← Hisyam ← ayahnya (Urwah bin az-Zubair) ← 'Aisyah رضي الله عنها.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan al-hiyal (tipu daya) dalam rangka mengambil sesuatu yang bukan haknya atau menahan sesuatu dari pemiliknya, meskipun dalam konteks ini para istri Nabi ﷺ tidak bermaksud menzalimi, melainkan terdorong rasa cemburu.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa perbuatan para istri Nabi ﷺ ini adalah ijtihad yang keliru dari sisi kecemburuan, dan Nabi ﷺ tidak menyukainya, namun beliau tidak menghukum mereka karena mereka adalah para Ummahatul Mukminin yang dimaafkan.
Penjelasan Rinci
Latar belakang kisah:
Nabi ﷺ memiliki kebiasaan setelah shalat Ashar mengunjungi istri-istri beliau satu per satu. Suatu hari beliau masuk ke rumah Hafshah dan tinggal lebih lama dari biasanya. 'Aisyah رضي الله عنها menyelidiki sebabnya, dan diberitahu bahwa seorang wanita dari kaum Hafshah menghadiahkan 'ukkah (kantong kulit berisi madu), lalu Hafshah memberi Nabi ﷺ minum madu tersebut.
Rasa cemburu dan rencana:
'Aisyah رضي الله عنها merasa cemburu, lalu mengajak Sauda dan Safiyah untuk bersama-sama mengatakan kepada Nabi ﷺ bahwa mulut beliau berbau maghafir (getah pohon berbau tidak sedap). Mereka tahu bahwa Nabi ﷺ sangat tidak suka jika ada bau tidak sedap tercium dari diri beliau. Rencananya: ketika Nabi ﷺ mendekat, mereka bertanya apakah beliau makan maghafir. Beliau akan menjawab "tidak." Lalu mereka bertanya, "Lalu bau apa ini?" Beliau akan menjawab bahwa Hafshah memberinya minum madu. Kemudian mereka berkata, "Berarti lebahnya menghisap dari pohon 'urfuth" (pohon yang bunganya berbau tidak sedap, sehingga madunya pun berbau).
Pelaksanaan rencana:
Sauda رضي الله عنها hampir saja mengucapkan kalimat itu di depan pintu karena takut kepada 'Aisyah, tetapi akhirnya ia melakukannya. 'Aisyah dan Safiyah juga melakukan hal yang sama. Akibatnya, Nabi ﷺ berhenti meminum madu tersebut. Ketika Hafshah menawarkan lagi, beliau bersabda: "Tidak, aku tidak membutuhkannya." Sauda lalu berkata, "Subhanallah, kita telah mengharamkan madu itu dari beliau." 'Aisyah menimpali, "Diamlah!"
Pemahaman ulama:
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan beberapa poin penting:
- Hadits ini menunjukkan bahwa al-hiyal (tipu daya) yang bertujuan menahan seseorang dari sesuatu yang mubah adalah tercela, meskipun pelakunya memiliki alasan emosional seperti cemburu.
- Nabi ﷺ tidak marah secara terbuka kepada para istri beliau, tetapi beliau meninggalkan madu itu. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak menyukai perbuatan mereka, namun tetap memperlakukan mereka dengan lembut.
- Perbuatan para istri Nabi ﷺ ini tidak sampai pada tingkat dosa besar karena mereka adalah Ummahatul Mukminin yang telah dijamin ampunan, dan perbuatan itu murni didorong rasa cemburu yang wajar bagi seorang istri.
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ sangat menjaga kebersihan mulut dan tubuhnya, dan beliau tidak suka jika ada bau yang mengganggu orang lain. Ini menjadi pelajaran bagi umat Islam untuk menjaga kebersihan diri, terutama saat berinteraksi dengan orang lain.
Imam an-Nawawi menambahkan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seorang istri menyampaikan sesuatu kepada suami dengan cara yang tidak menyakitkan, namun tidak boleh sampai berdusta atau menipu. Dalam kasus ini, para istri Nabi ﷺ tidak berdusta secara langsung, tetapi mereka membuat suami merasa ada bau yang sebenarnya tidak ada — dan inilah yang dicela.
Pelajaran tentang kecemburuan:
Rasa cemburu (ghirah) pada dasarnya adalah sifat yang terpuji dalam Islam, sebagaimana Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah memiliki ghirah dan seorang mukmin juga memiliki ghirah. Namun, cemburu yang berlebihan hingga mendorong kepada tipu daya dan permainan kata-kata yang menyesatkan adalah tercela. Ibnul Qayyim dalam Raudhatul Muhibbin menjelaskan bahwa cemburu yang benar adalah yang menjaga kehormatan, bukan yang menzalimi atau menipu.
Story Telling
Dikisahkan bahwa setelah peristiwa ini, Nabi ﷺ berhenti meminum madu dari Hafshah. Ketika Hafshah menawarkan lagi dengan berkata, "Wahai Rasulullah, apakah saya boleh memberimu minum dari madu itu?" Beliau menjawab dengan lembut, "Tidak, aku tidak membutuhkannya."
Sauda رضي الله عنها, yang menyadari akibat perbuatan mereka, berkata dengan penyesalan, "Subhanallah! Kita telah mengharamkan madu itu dari beliau." Namun 'Aisyah رضي الله عنها, yang masih dalam suasana cemburu, berkata kepadanya, "Diamlah!"
Meskipun demikian, Nabi ﷺ tidak menceraikan mereka, tidak menghukum mereka, dan tidak membalas. Beliau hanya meninggalkan sesuatu yang mubah karena tidak ingin ada gangguan. Ini menunjukkan akhlak beliau yang agung, sebagaimana Allah memuji beliau dalam Al-Qur'an:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam [68]: 4)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa akhlak Nabi ﷺ yang agung mencakup kesabaran beliau dalam menghadapi gangguan, termasuk dari orang-orang terdekat, dan beliau tetap memperlakukan mereka dengan kasih sayang.
Kesimpulan Praktis
- Tipu daya dalam rumah tangga adalah tercela. Meskipun dilatarbelakangi cemburu, membuat suami atau istri merasa ada sesuatu yang tidak benar dengan cara menipu adalah perbuatan yang tidak diridhai Allah.
- Cemburu harus dikendalikan. Rasa cemburu adalah fitrah, tetapi harus dijaga agar tidak mendorong kepada dusta, tipu daya, atau permainan kata-kata yang menyesatkan.
- Jaga kebersihan dan keharuman diri. Nabi ﷺ sangat tidak suka jika ada bau tidak sedap pada diri beliau. Ini menjadi anjuran bagi kita untuk menjaga kebersihan mulut, badan, dan pakaian, terutama ketika berinteraksi dengan keluarga dan orang lain.
- Selesaikan masalah rumah tangga dengan komunikasi jujur. Jika ada ketidaknyamanan, sampaikan dengan cara yang baik dan jujur, bukan dengan tipu daya atau permainan kata-kata.
- Teladani kesabaran Nabi ﷺ. Beliau tidak membalas perbuatan para istri beliau dengan kemarahan, tetapi tetap memperlakukan mereka dengan lembut. Ini adalah contoh akhlak mulia dalam rumah tangga.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.