Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6929 tentang Memaafkan kaum yang menyakiti karena kebodohan mereka

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang akhlak mulia para nabi, yaitu sifat pemaaf dan kasih sayang yang luar biasa kepada kaumnya, meskipun mereka telah menyakiti dan melukai. Sikap ini adalah teladan tertinggi dalam kesabaran dan doa kebaikan untuk orang-orang yang berbuat jahat, dengan alasan ketidaktahuan mereka. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin hendaknya tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan doa ampunan dan kebaikan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-A'raf [7]: 199

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Terjemahan: "Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Pembunuhan Murtad dan Penentang, no. 6929, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jihad wa As-Siyar, Bab Ghazwah Tabuk, no. 1792.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (12/256) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa agungnya akhlak para nabi dalam memaafkan dan berdoa untuk kaumnya. Beliau juga menyebutkan bahwa nabi yang dimaksud dalam hadits ini adalah Nabi Muhammad ﷺ sendiri, atau bisa juga nabi lainnya. Namun, inti pelajarannya adalah tentang sifat pemaaf yang luar biasa.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat mulia, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Beliau berkata, "Seolah-olah aku melihat Nabi ﷺ menceritakan tentang seorang nabi dari para nabi yang kaumnya memukulnya hingga berdarah, lalu nabi itu mengusap darah dari wajahnya sambil berdoa, 'Ya Tuhanku, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.'"

Para ulama, seperti Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (12/144), menjelaskan bahwa doa ini adalah puncak dari akhlak yang mulia. Seorang nabi yang dizalimi, dipukul, dan dilukai, bukannya melaknat atau meminta kebinasaan bagi kaumnya, melainkan memohonkan ampunan untuk mereka. Alasannya adalah "innahum laa ya'lamun" (sesungguhnya mereka tidak mengetahui). Ini menunjukkan bahwa kebodohan dan ketidaktahuan adalah alasan yang bisa meringankan dosa seseorang, meskipun perbuatannya sangat keji.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa (10/42) menekankan bahwa doa ini adalah bentuk shabr al-jamil (kesabaran yang indah) dan al-'afw (memaafkan) yang diajarkan oleh Allah kepada para nabi-Nya. Beliau juga mengaitkannya dengan firman Allah dalam QS. Al-A'raf [7]: 199 yang memerintahkan untuk memaafkan dan berpaling dari orang-orang bodoh.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim (3/420) saat menafsirkan ayat tentang sifat pemaaf, menyebutkan bahwa hadits ini adalah contoh nyata dari akhlak para nabi. Beliau juga menegaskan bahwa doa ini adalah doa yang paling sering dipanjatkan oleh Nabi Muhammad ﷺ ketika menghadapi gangguan dari kaum musyrikin Quraisy.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman (1/291) menjelaskan bahwa doa ini mengajarkan kita untuk selalu berprasangka baik kepada orang lain, yaitu dengan menganggap bahwa kejahatan yang mereka lakukan mungkin disebabkan oleh kebodohan dan ketidaktahuan mereka terhadap kebenaran. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk mendoakan mereka agar diberi petunjuk dan diampuni.

Story Telling

Kisah ini sangat erat kaitannya dengan peristiwa Thaif. Ketika Nabi Muhammad ﷺ pergi ke Thaif untuk berdakwah, beliau bukan saja ditolak, tetapi juga dilempari batu oleh penduduk Thaif hingga beliau berlumuran darah. Malaikat Jibril datang menawarkan untuk menjatuhkan gunung kepada mereka, namun Nabi ﷺ menolak dan justru berdoa, "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari hadits Aisyah dan Ibnu Mas'ud). Inilah akhlak agung yang diajarkan oleh hadits ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Teladani akhlak para nabi: Bersikaplah pemaaf dan kasih sayang, terutama kepada orang yang menyakiti kita.
  2. Doakan kebaikan untuk orang yang berbuat jahat: Jangan balas kejahatan dengan doa keburukan, tetapi doakan mereka agar diberi petunjuk dan diampuni.
  3. Sadari faktor ketidaktahuan: Anggaplah bahwa kejahatan orang lain mungkin disebabkan oleh kebodohan mereka, sehingga kita lebih mudah memaafkan.
  4. Kuatkan kesabaran: Hadits ini mengajarkan bahwa kesabaran dan doa adalah senjata orang beriman dalam menghadapi cobaan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.