Penjelasan Hadits Bukhari No. 6927 tentang Balasan lembut terhadap ucapan buruk orang kafir

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita adab mulia dalam membalas keburukan, yaitu dengan tetap bersikap lembut dan tidak berlebihan dalam merespons. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala hal, termasuk saat kita diperlakukan buruk. Beliau tidak membalas ucapan Yahudi yang mendoakan kematian dengan doa yang lebih keras, melainkan cukup dengan jawaban yang tegas namun tetap santun, "Wa 'alaikum" (dan atas kalian juga).

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Shahih Al-Bukhari, Kitab: Buku tentang penetapan kembali orang-orang yang murtad dan menentang serta memerangi mereka, Bab: Bab jika seorang dhimmi dan lainnya mencela Nabi ﷺ dan tidak menyatakan seperti ucapan 'as-sam 'alaika, No. 6927, dari Aisyah radhiyallahu 'anha.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

QS. Fushshilat [41]: 34

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia."

Penjelasan Ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mendoakan keburukan bagi orang yang memulai keburukan, namun dengan kadar yang setimpal, tidak berlebihan. Beliau juga menukil perkataan Imam Al-Khaththabi bahwa makna "Wa 'alaikum" dalam konteks ini adalah doa balasan yang setimpal, karena orang Yahudi mengucapkan "as-sam" (kematian) yang merupakan doa buruk, maka Nabi ﷺ membalas dengan doa yang juga buruk bagi mereka, namun tidak melebihi kadar ucapan mereka.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Makna Ucapan Yahudi "As-Samu 'Alaika"

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi menggunakan kata "as-sam" yang artinya kematian, sebagai bentuk doa buruk yang mereka sembunyikan. Mereka mengucapkannya dengan lafal yang mirip dengan "as-salam" (keselamatan) agar terkesan seperti salam, padahal maksudnya adalah doa kematian.

2. Jawaban Nabi ﷺ yang Lembut

Nabi ﷺ menjawab dengan "Wa 'alaikum" (dan atas kalian juga). Ini adalah jawaban yang sangat tepat karena:

  • Beliau tidak mengucapkan "wa 'alaikumus salam" (dan atas kalian keselamatan) karena itu akan menjadi doa kebaikan bagi mereka
  • Beliau juga tidak membalas dengan doa yang lebih buruk dari ucapan mereka
  • Jawaban "Wa 'alaikum" bisa berarti doa balasan yang setimpal, atau bisa juga berarti "ucapan kalian akan kembali kepada kalian"

3. Pelajaran tentang Kelembutan

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa kelembutan Nabi ﷺ di sini bukan berarti membiarkan kebatilan, tetapi memilih cara yang paling bijaksana dalam merespons. Beliau tidak marah dan tidak membalas dengan ucapan yang lebih keras, karena itu justru akan memperkeruh suasana.

4. Sikap Aisyah radhiyallahu 'anha

Aisyah merasa keberatan karena ia mendengar langsung ucapan buruk orang Yahudi tersebut. Namun Nabi ﷺ mengajarkannya bahwa meskipun kita berhak membalas, tetap ada cara yang lebih utama, yaitu dengan tidak berlebihan. Ini menunjukkan bahwa dalam membela agama, kita tetap harus menjaga adab dan tidak terpancing emosi.

5. Hukum Membalas Ucapan Buruk

Para ulama menjelaskan bahwa jika seseorang mengucapkan salam dengan lafal yang menyimpang seperti ini, maka kita boleh membalas dengan "wa 'alaikum" saja, tidak perlu menambahkan "warahmatullah" atau doa kebaikan lainnya. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama lainnya.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan bahwa seorang sahabat pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang bagaimana cara membalas orang yang berbuat buruk kepada kita. Nabi ﷺ bersabda: "Jika seseorang mencela kamu dengan sesuatu yang ia ketahui ada pada dirimu, maka janganlah kamu membalas dengan sesuatu yang kamu ketahui tidak ada pada dirimu. Maka pahala kebaikan itu untukmu dan dosa celaan itu untuknya." (HR. Abu Dawud, dari Anas bin Malik)

Kisah ini menunjukkan bahwa sikap terbaik dalam menghadapi keburukan adalah tidak membalas dengan keburukan yang lebih besar, karena itu hanya akan menimbulkan permusuhan yang berkepanjangan. Sebaliknya, dengan bersikap lembut dan bijaksana, kita bisa memadamkan api permusuhan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersikap lembut dalam segala urusan, termasuk saat menghadapi orang yang berbuat buruk kepada kita, karena Allah mencintai kelembutan.
  2. Jangan membalas keburukan dengan keburukan yang lebih besar, tetapi balaslah dengan kadar yang setimpal atau lebih utama lagi dengan kebaikan.
  3. Jika ada orang yang mengucapkan salam dengan lafal yang menyimpang, cukup jawab dengan "wa 'alaikum" tanpa menambahkan doa kebaikan.
  4. Tetap tegas dalam membela kebenaran, namun dengan cara yang santun dan tidak emosional.
  5. Jadikan kelembutan sebagai karakter utama dalam berdakwah dan bermuamalah, sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?