Penjelasan Hadits Bukhari No. 6926 tentang Balasan salam kepada Ahli Kitab dengan wa alaikum

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab dan hikmah dalam menghadapi penghinaan terselubung dari Ahli Kitab. Seorang Yahudi mengucapkan "As-Sāmu 'alaika" (kematian/racun atasmu) dengan maksud menyakiti Nabi ﷺ, namun Nabi ﷺ tidak membalas dengan keburukan, melainkan menjawab dengan "Wa 'alaika" (dan atasmu juga). Nabi ﷺ juga melarang para sahabat membunuhnya, dan mengajarkan cara menjawab salam Ahli Kitab dengan ucapan "Wa 'alaikum."

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pada Kitab "Istitabatul Murtaddin" (Penetapan Taubat Orang Murtad), Bab tentang celaan seorang dhimmi atau lainnya kepada Nabi ﷺ.

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan adab menjawab ucapan buruk:

QS. Al-Furqan [25]: 63

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan salam."

QS. Al-Muzzammil [73]: 10

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik."

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat-ayat ini mengajarkan kepada kaum mukminin untuk bersabar dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, terutama dalam dakwah.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara bahasa dan istilah:

Kata "As-Sāmu 'alaika" (السَّامُ عَلَيْكَ) berasal dari kata "as-sām" yang berarti kematian atau racun. Orang Yahudi ini bermain kata dengan ucapan "As-Salāmu 'alaika" (semoga keselamatan atasmu) — salam yang biasa diucapkan kaum Muslimin — dengan menggantinya menjadi "As-Sāmu 'alaika" (semoga kematian/racun atasmu). Ini adalah bentuk penghinaan terselubung.

Pemahaman para ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:

  1. Larangan membalas keburukan dengan keburukan. Nabi ﷺ hanya menjawab "Wa 'alaika" (dan atasmu juga), tidak menjawab dengan "As-Sāmu 'alaika" secara penuh. Ini menunjukkan akhlak mulia Nabi ﷺ.
  2. Tidak boleh membunuh hanya karena ucapan celaan. Ketika para sahabat bertanya apakah boleh membunuh Yahudi tersebut, Nabi ﷺ melarangnya. Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini berlaku ketika seorang dhimmi (non-Muslim yang terikat perjanjian damai) mengucapkan celaan secara terselubung, bukan terang-terangan. Adapun jika mencela secara terang-terangan, maka hukumnya berbeda menurut kesepakatan ulama.
  3. Cara menjawab salam Ahli Kitab. Nabi ﷺ mengajarkan agar menjawab dengan "Wa 'alaikum" saja, tanpa menambahkan "wa rahmatullah" atau "wa barakatuh". Ini berdasarkan hadits lain yang juga diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berpendapat bahwa jika seorang Yahudi atau Nasrani mengucapkan "As-Sāmu 'alaika" secara jelas, maka boleh dijawab dengan "As-Sāmu 'alaika" juga. Namun jika ucapannya samar (tidak jelas apakah "as-salām" atau "as-sām"), maka dijawab dengan "Wa 'alaika" saja. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya "Ahkam Ahlidz-Dzimmah."

Adapun Imam An-Nawawi rahimahullah dan jumhur ulama berpendapat bahwa jawaban yang paling utama adalah "Wa 'alaikum" dalam segala keadaan, berdasarkan zhahir hadits ini. Pendapat ini yang paling kuat dari segi dalil, karena Nabi ﷺ sendiri menjawab dengan "Wa 'alaika" meskipun beliau tahu maksud buruk Yahudi tersebut.

Kaitan dengan bab yang dibawakan Imam Al-Bukhari:

Imam Al-Bukhari rahimahullah meletakkan hadits ini dalam bab tentang penetapan taubat orang murtad dan orang yang menentang. Ini menunjukkan bahwa Imam Al-Bukhari ingin menegaskan bahwa meskipun seorang dhimmi mencela Nabi ﷺ, tidak serta-merta boleh dibunuh tanpa proses yang benar. Ini adalah bentuk keadilan dan kasih sayang dalam Islam.

Story Telling

Dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — pelayan Nabi ﷺ yang setia — bahwa suatu hari seorang Yahudi melintas di hadapan Rasulullah ﷺ. Dengan nada mengejek, ia mengucapkan "As-Sāmu 'alaika" (semoga kematian atasmu). Nabi ﷺ yang mendengar ucapan itu tidak marah, tidak membentak, dan tidak memerintahkan hukuman. Beliau hanya menjawab dengan tenang, "Wa 'alaika" (dan atasmu juga).

Para sahabat yang mendengar percakapan itu langsung tersulut emosinya. Mereka tahu bahwa Yahudi itu telah menghina Nabi ﷺ. Dengan penuh semangat membela Rasulullah ﷺ, mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kita tidak membunuhnya?"

Namun Nabi ﷺ yang penuh kasih sayang dan hikmah menjawab dengan lembut, "Tidak. Jika Ahli Kitab memberi salam kepada kalian, katakanlah: 'Wa 'alaikum.'"

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan kisah ini sebagai pelajaran bagi umat Islam setelahnya: bahwa akhlak Nabi ﷺ adalah akhlak yang paling mulia, bahkan dalam menghadapi penghinaan sekalipun. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya "Jami'ul Ulum wal Hikam" menyebutkan bahwa sabar dalam menghadapi gangguan adalah salah satu tanda kesempurnaan iman.

Kesimpulan Praktis

  1. Jawablah salam Ahli Kitab dengan "Wa 'alaikum" saja — tidak perlu menambahkan rahmat atau berkah, berdasarkan hadits ini.
  2. Jangan membalas keburukan dengan keburukan — Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk bersabar dan tidak terprovokasi oleh penghinaan.
  3. Jangan mudah menghukumi orang lain — para sahabat ingin membunuh Yahudi itu, tetapi Nabi ﷺ melarangnya. Ini menunjukkan bahwa keputusan hukum harus berdasarkan syariat, bukan emosi.
  4. Teladani akhlak Nabi ﷺ — dalam menghadapi celaan, beliau tetap tenang, lembut, dan tidak membalas dengan kasar.
  5. Jaga adab dalam berinteraksi dengan non-Muslim — Islam mengajarkan kita untuk berbuat baik dan adil kepada mereka yang tidak memerangi kita, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mumtahanah [60]: 8.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?