Penjelasan Hadits Bukhari No. 678 tentang Abu Bakar memimpin shalat saat Nabi sakit

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang paling berilmu dan paling utama dalam agama lebih berhak memimpin shalat dan urusan kaum muslimin. Rasulullah ﷺ tetap memerintahkan Abu Bakr radhiyallahu 'anhu mengimami shalat meski Aisyah radhiyallahu 'anha menyampaikan kekhawatiran, karena kelembutan hati Abu Bakr bukanlah penghalang, bahkan tanda keutamaan. Para ulama memahami hadits ini sebagai dalil kuat tentang keutamaan Abu Bakr dan isyarat kepemimpinan beliau setelah Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Adzan, Bab "Ahli Ilmu dan Keutamaan Lebih Berhak Memimpin", dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits (potongan penting):

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ، عَنْ زَائِدَةَ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ مَرِضَ النَّبِيُّ ﷺ فَاشْتَدَّ مَرَضُهُ فَقَالَ ‏"‏ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ ‏"‏

"Rasulullah ﷺ sakit dan sakitnya semakin parah, lalu beliau bersabda: 'Suruhlah Abu Bakr untuk memimpin shalat manusia.'"

Dan sabda beliau:

فَإِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ

"Sesungguhnya kalian adalah para sahabat Yusuf."

Ayat yang berkaitan dengan keutamaan orang berilmu:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

QS. Al-Mujadilah [58]: 11

"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah mengangkat derajat ahli ilmu di atas orang beriman secara umum, karena ilmu membimbing kepada amal dan kebenaran.

Penjelasan Rinci

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab khusus tentang keutamaan ahli ilmu dalam memimpin, menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini sebagai dalil bahwa yang lebih berilmu dan lebih utama berhak menjadi imam dan pemimpin.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan beberapa poin penting:

  1. Isyarat kepemimpinan Abu Bakr: Perintah Nabi ﷺ agar Abu Bakr mengimami shalat saat beliau sakit menjelang wafat merupakan isyarat kuat bahwa Abu Bakr adalah orang yang paling berhak menggantikan beliau memimpin umat. Karena shalat adalah urusan agama yang paling utama, maka siapa yang diutamakan dalam shalat, lebih utama dalam urusan kepemimpinan duniawi.
  2. Kelembutan hati bukan celaan: Ucapan Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Abu Bakr "rajulun raqiq" (orang yang lembut hatinya) bukanlah bentuk penolakan, melainkan kekhawatiran seorang putri terhadap ayahnya. Namun Nabi ﷺ menegaskan perintahnya, menunjukkan bahwa kelembutan dan rasa takut kepada Allah justru bagian dari keutamaan seorang imam.
  3. Makna "sahabat Yusuf": Sabda Nabi ﷺ "kalian adalah sahabat-sahabat Yusuf" adalah isyarat halus bahwa Aisyah dan yang bersamanya mengulangi permintaan seperti yang dilakukan para wanita dalam kisah Yusuf yang berusaha mengubah keputusan. Ini bukan tuduhan, tetapi teguran lembut agar tidak menghalangi perintah beliau.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil ijma' ulama bahwa imam shalat hendaknya orang yang paling faqih dan paling utama, bukan sekadar yang paling fasih bacaannya.

Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa peristiwa ini termasuk dalil-dalil kenabian dan isyarat kekhalifahan Abu Bakr yang dipahami para sahabat. Bahkan Abdullah bin al-Mubarak dan Sufyan ats-Tsauri menyebutkan bahwa tidak ada perselisihan di kalangan salaf tentang keutamaan Abu Bakr setelah Nabi ﷺ.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran bahwa pemimpin shalat adalah cerminan pemimpin umat, dan bahwa keutamaan ilmu serta ketakwaan adalah ukuran kepemimpinan.

Story Telling

Dikisahkan bahwa ketika sakit Nabi ﷺ semakin berat, beliau memerintahkan Abu Bakr memimpin shalat. Aisyah radhiyallahu 'anha, karena kasih sayangnya kepada ayahnya, khawatir Abu Bakr tidak mampu menahan tangisnya saat berdiri di tempat Nabi ﷺ. Namun Nabi ﷺ mengulangi perintahnya tiga kali, lalu bersabda dengan lembut namun tegas: "Sesungguhnya kalian adalah para sahabat Yusuf."

Akhirnya Abu Bakr pun memimpin shalat kaum muslimin di hadapan Nabi ﷺ yang masih hidup. Peristiwa ini menjadi salah satu momen paling bersejarah, karena dari sinilah para sahabat memahami bahwa Abu Bakr adalah orang yang paling berhak memimpin umat setelah Nabi ﷺ wafat. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa peristiwa ini menjadi dasar kesepakatan sahabat dalam memilih Abu Bakr sebagai khalifah pertama.

Hikmahnya: kelembutan hati, rasa takut kepada Allah, dan ilmu yang mendalam adalah tanda kepemimpinan yang benar, bukan kekuatan fisik atau ambisi jabatan.

Kesimpulan Praktis

  1. Utamakan ahli ilmu dalam memimpin shalat dan urusan umat — imam shalat hendaknya yang paling faqih dan paling bertakwa.
  2. Kelembutan hati bukan kelemahan — justru tanda keimanan yang dalam dan keutamaan di sisi Allah.
  3. Hormati keputusan pemimpin selama tidak melanggar syariat — para sahabat menerima perintah Nabi ﷺ meski ada kekhawatiran awal.
  4. Belajar dari adab Aisyah — menyampaikan kekhawatiran dengan cara yang sopan, dan menerima teguran dengan lapang dada.
  5. Kenali keutamaan para sahabat — khususnya Abu Bakr sebagai orang yang paling utama setelah Nabi ﷺ, sebagaimana dipahami para ulama Ahlus Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?