Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 676 tentang Kesibukan Nabi melayani keluarga sebelum shalat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan akhlak mulia Nabi ﷺ di rumah. Beliau tidak bersikap seperti raja yang dilayani, justru beliau sendiri yang membantu pekerjaan rumah tangga. Namun, ketika waktu shalat tiba, beliau segera meninggalkan semua aktivitas duniawi untuk pergi ke masjid menunaikan shalat berjamaah. Ini adalah teladan sempurna tentang keseimbangan antara tanggung jawab keluarga dan kewajiban kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

  • Shahih Al-Bukhari, Kitab Adzan, Bab: "Siapa yang dalam kebutuhan keluarganya lalu ditegakkan shalat dan ia keluar", no. 676.
  • Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat, Bab: "Keutamaan shalat berjamaah", no. 676 (dengan redaksi serupa).

Penjelasan Ulama:

  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (2/164) menjelaskan: "Makna mihnah ahl adalah pekerjaan yang dilakukan seseorang untuk keluarganya. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling tawadhu', dan paling ringan tangan dalam membantu keluarganya. Beliau tidak merasa besar diri untuk melakukan pekerjaan rumah, padahal beliau adalah pemimpin umat."
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (5/192) berkata: "Hadits ini menunjukkan sunnahnya membantu istri dan keluarga dalam pekerjaan rumah, karena itu termasuk akhlak para nabi dan orang-orang shalih. Ini juga menunjukkan bahwa shalat berjamaah di masjid adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan karena kesibukan duniawi."
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (2/345) menegaskan: "Hadits ini mengajarkan bahwa seorang suami hendaknya membantu istrinya di rumah, bukan hanya menyuruh dan memerintah. Namun ketika shalat tiba, semua pekerjaan harus dihentikan karena shalat adalah kewajiban yang paling utama."

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Aswad bin Yazid, seorang tabi'in besar, yang bertanya langsung kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha. Pertanyaan ini sangat penting karena menggambarkan kehidupan pribadi Nabi ﷺ di dalam rumah, sesuatu yang tidak banyak diketahui orang.

Pertama: Makna "Mihnah Ahl"

Kata mihnah (مِهْنَة) berarti pekerjaan atau pelayanan. Aisyah radhiyallahu 'anha menjelaskan bahwa Nabi ﷺ selalu sibuk melayani keluarganya. Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad (1/131) menjelaskan bahwa ini mencakup berbagai aktivitas seperti:

  • Membantu membersihkan rumah
  • Menambal sandal dan pakaian
  • Memerah susu kambing
  • Melayani kebutuhan istri-istrinya
  • Bahkan beliau sendiri yang menjahit pakaiannya

Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah teladan dalam kerendahan hati. Beliau tidak pernah merasa bahwa pekerjaan rumah adalah hal yang hina atau hanya tugas istri. Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seorang suami yang membantu istrinya, beliau menjawab: "Itulah akhlak para nabi dan orang-orang shalih."

Kedua: Sikap Ketika Shalat Tiba

Frasa fa idza hadharat ash-shalatu kharaja ila ash-shalah (فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ) menunjukkan beberapa pelajaran penting:

  1. Prioritas shalat: Meskipun sibuk membantu keluarga, ketika waktu shalat tiba, semua aktivitas duniawi dihentikan. Ini mengajarkan bahwa shalat adalah kewajiban yang tidak boleh ditunda atau ditinggalkan karena kesibukan.
  2. Shalat berjamaah: Kata kharaja (keluar) menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa (10/238) menegaskan bahwa ini adalah dalil kuat tentang kewajiban shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki.
  3. Keseimbangan hidup: Hadits ini mengajarkan keseimbangan antara hak keluarga dan hak Allah. Seorang muslim tidak boleh melalaikan keluarganya dengan alasan ibadah, dan juga tidak boleh melalaikan ibadah karena sibuk dengan keluarga.

Ketiga: Hikmah dari Sikap Nabi ﷺ

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (1/287) menjelaskan bahwa sikap Nabi ﷺ ini mengandung hikmah besar:

  • Mengajarkan tawadhu' (rendah hati) kepada umatnya
  • Menunjukkan bahwa kemuliaan bukan pada pekerjaan yang dilakukan, tetapi pada niat dan keikhlasan
  • Memberikan contoh nyata tentang bagaimana seorang pemimpin rumah tangga seharusnya bersikap
  • Menghilangkan anggapan bahwa pekerjaan rumah hanya untuk perempuan

Story Telling

Kisah dari Salafus Shalih:

Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri (seorang tabi'in besar), beliau berkata: "Aku pernah bertanya kepada seorang sahabat Nabi ﷺ tentang bagaimana sikap Nabi di rumahnya. Ia menjawab: 'Nabi ﷺ adalah orang yang paling baik akhlaknya. Beliau selalu tersenyum kepada keluarganya, membantu mereka, dan tidak pernah berkata 'uff' (kata kasar) kepada mereka. Jika ada pekerjaan, beliau ikut mengerjakannya. Dan jika waktu shalat tiba, beliau segera pergi ke masjid seolah-olah beliau tidak mengenal siapa pun di rumahnya.'" (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dengan sanad shahih)

Kisah ini mengajarkan bahwa keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat adalah ciri orang beriman. Nabi ﷺ adalah manusia yang paling sibuk dengan urusan umat, namun beliau tetap meluangkan waktu untuk membantu keluarganya. Namun ketika panggilan shalat datang, beliau tidak menunda-nunda.

Imam Sufyan ats-Tsauri berkata: "Jika engkau melihat seorang laki-laki yang rajin beribadah namun kasar terhadap keluarganya, maka ketahuilah bahwa ibadahnya belum sempurna. Karena Nabi ﷺ adalah orang yang paling banyak ibadahnya, namun juga paling baik akhlaknya terhadap keluarganya."

Kesimpulan Praktis

  1. Bantulah keluarga di rumah: Seorang suami hendaknya membantu istri dalam pekerjaan rumah, karena itu adalah akhlak Nabi ﷺ dan tanda keimanan yang sempurna.
  2. Utamakan shalat: Ketika waktu shalat tiba, tinggalkan semua aktivitas duniawi dan segera tunaikan shalat, terutama shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki.
  3. Jadilah teladan: Tunjukkan kepada keluarga bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara hak Allah dan hak sesama.
  4. Jangan sombong: Jangan merasa besar diri untuk melakukan pekerjaan rumah, karena Nabi ﷺ yang mulia pun melakukannya.
  5. Niatkan karena Allah: Lakukan semua pekerjaan rumah dengan niat ibadah dan mengharap pahala dari Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.