Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang Nabi Sulaiman 'alaihis salam yang bersumpah akan mendatangi sembilan puluh istrinya pada malam itu dengan harapan setiap istri akan melahirkan anak laki-laki yang berjuang di jalan Allah. Namun beliau lupa mengucapkan insya Allah (istisna') ketika bersumpah. Akibatnya, hanya satu istri yang melahirkan anak, itupun dalam keadaan cacat (setengah manusia). Pelajaran utamanya: seorang mukmin hendaknya selalu mengaitkan kehendaknya dengan kehendak Allah dengan mengucapkan insya Allah, terutama saat bersumpah atau bertekad melakukan sesuatu, karena hal itu adalah sebab keberhasilan dan terhindar dari kegagalan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Kaffarat Sumpah, Bab Istisna' dalam Sumpah, no. 6720, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا
"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,' kecuali (dengan mengucapkan): 'Insya Allah.' Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila kamu lupa, dan katakanlah: 'Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.'" (QS. Al-Kahfi [18]: 23-24)
Penjelasan Ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini adalah petunjuk dari Allah kepada Rasul-Nya ﷺ agar ketika bertekad melakukan sesuatu di masa depan, hendaknya mengaitkannya dengan kehendak Allah, yaitu dengan mengucapkan insya Allah. Ini juga menjadi pelajaran bagi umatnya.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menafsirkan bahwa ayat ini mengajarkan adab yang agung, yaitu seorang hamba tidak boleh bergantung pada dirinya sendiri, tetapi harus bergantung kepada Allah dan mengakui bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Makna Istisna' (Mengucapkan Insya Allah)
Istisna' secara bahasa berarti "pengecualian". Dalam konteks sumpah, istisna' adalah mengucapkan insya Allah setelah sumpah atau tekad. Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in, di antaranya Imam Atha' bin Abi Rabah dan Imam Thawus bin Kaysan (yang meriwayatkan hadits ini), memahami bahwa istisna' ini memiliki pengaruh besar dalam sumpah seseorang.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya istisna' dalam sumpah, dan jika seseorang mengucapkannya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya ketika ia tidak mampu memenuhinya. Ini adalah pendapat jumhur ulama, di antaranya Imam Malik, Imam Asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad.
2. Hikmah Di Balik Kegagalan Nabi Sulaiman
Nabi Sulaiman 'alaihis salam adalah seorang nabi yang maksum dari dosa, namun peristiwa ini terjadi sebagai pelajaran bagi umat manusia. Beliau lupa mengucapkan insya Allah, dan akibatnya keinginannya tidak terwujud secara sempurna. Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu bergantung pada kehendak Allah, dan manusia tidak boleh merasa cukup dengan kemampuan dirinya sendiri.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi sebelum Nabi Sulaiman diangkat menjadi nabi, atau bisa juga terjadi sebagai ujian dan pelajaran. Yang jelas, hadits ini mengajarkan pentingnya tawakkal dan mengembalikan segala urusan kepada kehendak Allah.
3. Pelajaran Tentang Sumpah dan Kaffarat
Hadits ini juga menjadi dasar bagi para ulama dalam masalah sumpah. Jika seseorang bersumpah untuk melakukan sesuatu dan mengucapkan insya Allah, maka menurut mayoritas ulama (Imam Malik, Asy-Syafi'i, Ahmad, dan lainnya), ia tidak wajib membayar kaffarat jika tidak melakukannya, karena ia telah mengecualikan kehendaknya kepada kehendak Allah.
Namun perlu dicatat bahwa istisna' ini harus dilakukan dengan niat yang benar, bukan sebagai tipu daya untuk menghindari kaffarat. Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam I'lam Al-Muwaqqi'in menegaskan bahwa istisna' yang diterima adalah yang lahir dari kejujuran hati dalam mengembalikan urusan kepada Allah.
4. Kisah Ini Menunjukkan Kemuliaan Jihad
Dalam hadits ini, Nabi Sulaiman berharap anak-anaknya menjadi pejuang di jalan Allah. Ini menunjukkan keutamaan jihad dan harapan para nabi untuk memiliki keturunan yang berjuang di jalan Allah. Para ulama menjadikan ini sebagai dalil tentang keutamaan berjuang di jalan Allah dan pentingnya mendidik anak untuk mencintai jihad.
Story Telling
Diriwayatkan dari Imam Al-Hasan Al-Bashri bahwa beliau sering kali mengingatkan para sahabatnya tentang pentingnya bergantung kepada Allah dalam setiap urusan. Beliau berkata: "Sesungguhnya seorang hamba itu tidak akan mendapatkan kebaikan dalam urusannya kecuali jika ia mengembalikan urusannya kepada Allah, dan tidak akan celaka kecuali karena ia merasa cukup dengan dirinya sendiri."
Kisah Nabi Sulaiman ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bayangkan, seorang nabi yang memiliki kekuasaan luar biasa, bisa menundukkan angin dan jin, namun ketika ia lupa mengucapkan insya Allah, keinginannya tidak terwujud sempurna. Ini menunjukkan bahwa kekuatan dan kemampuan manusia sangatlah terbatas di hadapan kehendak Allah.
Imam Sufyan bin 'Uyainah — salah satu perawi hadits ini — sering kali mengulang-ulang perkataan yang indah: "Barangsiapa yang tidak menjadikan Allah sebagai tempat bergantungnya dalam urusannya, maka Allah akan menyerahkannya kepada dirinya sendiri." Maka betapa pentingnya kita selalu mengucapkan insya Allah dalam setiap tekad dan rencana kita.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan mengucapkan insya Allah ketika bertekad atau berencana melakukan sesuatu di masa depan, sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-Kahfi: 23-24.
- Dalam bersumpah, jika ingin bersumpah untuk melakukan sesuatu, ucapkanlah insya Allah setelahnya. Ini adalah sebab terhindar dari dosa melanggar sumpah dan kaffaratnya, menurut pendapat jumhur ulama.
- Jangan merasa cukup dengan kemampuan diri sendiri. Kisah Nabi Sulaiman mengajarkan kita bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Kita harus tawadhu dan selalu menggantungkan harapan kepada-Nya.
- Niatkan istisna' dengan jujur, bukan sebagai tipu daya untuk menghindari kewajiban. Karena Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati.
- Semangat dalam beramal, seperti semangat Nabi Sulaiman yang ingin memiliki keturunan pejuang di jalan Allah. Kita pun hendaknya memiliki cita-cita mulia untuk berjuang di jalan Allah sesuai kemampuan kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.