Penjelasan Hadits Bukhari No. 6668 tentang Hudzaifah memaafkan pembunuh ayahnya karena keliru

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa keliru dalam Perang Uhud, ketika sebagian pasukan Muslim tanpa sengaja menyerang kawan sendiri karena terprovokasi tipu daya setan. Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu melihat ayahnya sendiri, Al-Yaman, terbunuh oleh pasukan Muslim yang keliru. Meski demikian, Hudzaifah tidak membalas, bahkan memaafkan dan mendoakan ampunan bagi mereka hingga akhir hayatnya. Hadits ini menjadi dalil bahwa dosa karena keliru/lupa dalam sumpah dan tindakan tidak dihukumi seperti dosa yang disengaja, serta menjadi pelajaran tentang akhlak memaafkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 286

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Terjemahan ringkas: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya... Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat... maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

QS. Al-Ahzab [33]: 5

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Terjemahan ringkas: "...Tidak ada dosa bagimu terhadap apa yang kamu keliru padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Sumpah dan Nazhar, Bab "Jika Melanggar Karena Lupa Dalam Sumpah", no. 6668. Perawi sahabat: Aisyah radhiyallahu 'anha, melalui jalur Urwah bin Az-Zubair (tabi'in) — dan Urwah termasuk dalam generasi tabi'in yang penjelasannya banyak diambil oleh Imam Al-Bukhari, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menggambarkan kekacauan yang terjadi di akhir Perang Uhud. Ketika kaum musyrik mulai terdesak, Iblis — sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari — berteriak dengan suara yang didengar pasukan Muslim: "Wahai hamba-hamba Allah, waspadalah terhadap apa yang ada di belakangmu!" Seruan ini adalah tipu daya agar pasukan Muslim saling menyerang satu sama lain. Akibatnya, barisan depan menyerang barisan belakang, dan terjadilah pembunuhan di antara sesama Muslim karena keliru.

Hudzaifah bin Al-Yaman melihat ayahnya, Al-Yaman bin Jabir, dalam kekacauan itu. Ia berteriak "Ayahku! Ayahku!" untuk menghentikan serangan, tetapi pasukan yang sudah kalut tidak mendengarnya dan tetap membunuh Al-Yaman. Peristiwa ini terjadi tanpa sengaja — murni karena kekeliruan yang dipicu provokasi Iblis.

Sikap Hudzaifah radhiyallahu 'anhu:

Hudzaifah tidak membalas, tidak menuntut qishash, dan tidak menyimpan dendam. Ia berkata: "Semoga Allah mengampuni kalian." Urwah bin Az-Zubair menambahkan bahwa Hudzaifah terus memohonkan ampunan bagi para pembunuh ayahnya hingga ia wafat.

Pemahaman ulama tentang bab ini:

Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam Kitab Sumpah dan Nazhar, Bab "Jika Melanggar Karena Lupa Dalam Sumpah". Ini menunjukkan bahwa Imam Al-Bukhari memahami hadits ini sebagai dalil bahwa tindakan yang terjadi karena lupa atau keliru tidak dihukumi sebagai pelanggaran yang disengaja. Sebagaimana seseorang yang bersumpah lalu melanggarnya karena lupa, maka ia tidak berdosa — demikian pula pasukan Muslim yang membunuh Al-Yaman karena keliru dalam kekacauan perang, mereka tidak dihukumi sebagai pembunuh yang sengaja.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa faedah:

  1. Dalil bahwa keliru (khatha') dimaafkan dalam syariat, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzab [33]: 5 dan QS. Al-Baqarah [2]: 286.
  2. Keutamaan Hudzaifah dalam memaafkan dan mendoakan ampunan bagi orang yang membunuh ayahnya — ini adalah akhlak mulia yang jarang dimiliki.
  3. Peringatan tentang tipu daya setan dalam peperangan dan kehidupan sehari-hari, yang bisa memecah belah kaum Muslimin.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits serupa menegaskan bahwa memaafkan kesalahan orang lain — terutama yang tidak disengaja — adalah akhlak para salaf. Hudzaifah tidak hanya memaafkan, tetapi juga mendoakan ampunan bagi mereka, yang menunjukkan kesempurnaan iman dan kelapangan hati.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan peristiwa ini sebagai salah satu musibah besar dalam Perang Uhud, dan menegaskan bahwa kekacauan tersebut adalah akibat tipu daya Iblis, bukan karena kebencian di antara kaum Muslimin.

Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Perang Uhud mengandung banyak pelajaran, termasuk bahwa ketaatan kepada pemimpin dan ketenangan dalam menghadapi provokasi adalah kunci kemenangan. Kekacauan yang terjadi adalah akibat sebagian pasukan meninggalkan posisi yang diperintahkan Nabi ﷺ.

Perbedaan pendapat:

Para ulama sepakat bahwa pembunuhan Al-Yaman terjadi karena keliru, bukan sengaja. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama yang tercantum dalam daftar tentang hal ini. Yang menjadi pelajaran utama adalah sikap Hudzaifah yang memaafkan dan mendoakan ampunan — dan ini disepakati sebagai akhlak mulia yang patut diteladani.

Story Telling

Kisah Hudzaifah dan Ayahnya di Perang Uhud:

Pada hari Uhud, ketika kaum musyrik mulai terdesak, Iblis — yang tidak terlihat — berteriak dengan suara yang menggema: "Wahai hamba-hamba Allah, waspadalah terhadap apa yang ada di belakangmu!" Seruan ini membuat pasukan Muslim yang berada di barisan depan mengira bahwa musuh datang dari belakang, sehingga mereka menyerang barisan belakang mereka sendiri.

Dalam kekacauan itu, Hudzaifah bin Al-Yaman melihat ayahnya, Al-Yaman, sedang diserang oleh pasukan Muslim yang keliru. Hudzaifah berteriak sekuat tenaga: "Ayahku! Ayahku!" Tetapi pedang-pedang yang sudah terhunus tidak bisa dihentikan. Al-Yaman pun gugur di tangan saudara-saudaranya sendiri.

Betapa besar kesedihan Hudzaifah saat itu. Namun, sebagaimana diceritakan Aisyah radhiyallahu 'anha — dan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari — Hudzaifah tidak mengangkat pedang untuk membalas. Ia tidak menuntut qishash. Ia tidak menyimpan dendam. Yang keluar dari lisannya hanyalah: "Semoga Allah mengampuni kalian."

Urwah bin Az-Zubair — yang meriwayatkan hadits ini dari Aisyah — bersumpah: "Demi Allah, Hudzaifah terus memohonkan ampunan bagi para pembunuh ayahnya hingga ia bertemu dengan Allah (wafat)."

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ini adalah puncak akhlak mulia: memaafkan orang yang telah membunuh ayah sendiri, bahkan mendoakan ampunan bagi mereka. Inilah buah dari iman yang kuat dan hati yang bersih dari dendam.

Hikmah: Setan adalah musuh yang paling gigih memecah belah kaum Muslimin. Ia bisa membuat saudara saling membunuh hanya dengan satu teriakan tipu daya. Namun, iman yang kuat — seperti iman Hudzaifah — mampu mengalahkan bisikan setan, bahkan dalam situasi paling menyakitkan sekalipun.

Kesimpulan Praktis

  1. Keliru dan lupa dimaafkan dalam syariat. Jika seseorang melakukan kesalahan karena lupa atau tidak sengaja — termasuk dalam sumpah — maka ia tidak dihukumi sebagai pelanggar yang berdosa, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 286 dan QS. Al-Ahzab [33]: 5.
  2. Waspadai tipu daya setan yang memecah belah. Setan senang melihat kaum Muslimin saling bermusuhan. Dalam keluarga, masyarakat, dan umat, kita harus waspada terhadap provokasi yang memicu permusuhan.
  3. Teladani akhlak Hudzaifah radhiyallahu 'anhu. Memaafkan orang yang bersalah — terutama yang tidak disengaja — dan mendoakan ampunan bagi mereka adalah akhlak mulia yang dicintai Allah.
  4. Jangan terburu-buru dalam kekacauan. Ketenangan dan ketaatan kepada pemimpin adalah kunci keselamatan. Kekacauan di Uhud terjadi karena sebagian pasukan kehilangan ketenangan dan meninggalkan posisi yang diperintahkan.
  5. Doakan kebaikan bagi yang menyakiti kita. Hudzaifah tidak hanya memaafkan, tetapi juga mendoakan ampunan. Ini adalah derajat iman yang tinggi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?