Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap shalat berjamaah, bahkan di saat sakit menjelang wafat beliau tetap memerintahkan shalat ditegakkan dan menunjuk Abu Bakr radhiyallahu 'anhu sebagai imam. Hadits ini juga menjadi dalil bolehnya orang sakit tidak menghadiri jamaah bila memberatkan, serta keutamaan Abu Bakr dan isyarat kepemimpinan beliau setelah Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Adzan, Bab Ketentuan bagi Orang Sakit untuk Menghadiri Jamaah, no. 664. Perawinya adalah Al-Aswad bin Yazid an-Nakha'i, dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Imam Abu Dawud juga meriwayatkan sebagiannya dari Syu'bah, dari Al-A'mash.
Ayat yang berkaitan dengan keutamaan shalat berjamaah dan perintah menegakkannya:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
"Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditetapkan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa' [4]: 103)
Juga firman Allah:
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat." (QS. An-Nur [24]: 56)
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Perhatian Nabi ﷺ terhadap shalat berjamaah hingga akhir hayat.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ sangat menekankan shalat berjamaah, sampai-sampai dalam kondisi sakit berat beliau tetap memikirkan siapa yang akan memimpin shalat. Ini menjadi dalil kuat tentang pentingnya jamaah, sebagaimana juga ditegaskan dalam hadits-hadits lain tentang keutamaan shalat berjamaah dua puluh tujuh derajat di atas shalat sendirian.
Kedua: Bolehnya orang sakit meninggalkan jamaah bila memberatkan.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa orang sakit yang berat untuk hadir ke masjid diberi keringanan. Namun bila masih mampu, tetap dianjurkan hadir. Nabi ﷺ sendiri pada awalnya tidak keluar, lalu keluar ketika merasa agak ringan — menunjukkan bahwa semangat beliau tinggi, tetapi syariat tidak memaksa di luar kemampuan.
Ketiga: Isyarat kepemimpinan Abu Bakr radhiyallahu 'anhu.
Para ulama seperti Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa penunjukan Abu Bakr sebagai imam shalat merupakan isyarat kuat (isyarah) dari Nabi ﷺ tentang kekhalifahan beliau setelah wafat, karena kepemimpinan dalam shalat adalah kepemimpinan yang paling utama. Inilah yang dipahami para sahabat, termasuk 'Aisyah, dan menjadi salah satu dalil utama dalam masalah khilafah.
Keempat: Ucapan Nabi ﷺ "Kalian adalah teman-teman Yusuf."
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah sindiran halus kepada para wanita yang mengulang-ulang permintaan agar Abu Bakr tidak menjadi imam karena kelembutan hatinya. Nabi ﷺ menyerupakan mereka dengan wanita-wanita yang menggoda Yusuf 'alaihissalam dalam hal menentang perintah, bukan dalam hal perbuatan keji. Ini menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ dalam menegur, sekaligus ketegasan beliau dalam menjalankan perintah Allah.
Kelima: Cara shalat Nabi ﷺ saat sakit.
Dalam riwayat ini, Nabi ﷺ shalat duduk di samping Abu Bakr yang shalat berdiri, dan Abu Bakr mengikuti shalat Nabi ﷺ, sementara orang-orang mengikuti Abu Bakr. Ini menunjukkan bolehnya seorang imam shalat duduk sementara makmum berdiri dalam kondisi tertentu, sebagaimana dijelaskan dalam fiqih mazhab Syafi'i dan Hanbali dengan syarat-syarat tertentu. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i membahas hal ini secara rinci dalam kitab-kitab mereka.
Keenam: Kelembutan Abu Bakr.
Sifat "asif" yang disebutkan dalam hadits berarti orang yang lembut hatinya dan mudah menangis. Ini bukanlah celaan, melainkan pujian bagi kelembutan hati Abu Bakr, yang merupakan salah satu keutamaan beliau.
Story Telling
Al-Aswad bin Yazid an-Nakha'i — seorang tabi'in yang mulia — menceritakan bahwa ia dan beberapa orang sedang duduk bersama 'Aisyah radhiyallahu 'anha, membicarakan tentang ketekunan dalam shalat dan betapa agungnya kedudukan shalat. Maka 'Aisyah pun menceritakan kisah yang ia saksikan sendiri: hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah ﷺ.
Bayangkan suasana Madinah saat itu. Rasulullah ﷺ sedang sakit berat, sakit yang akhirnya membawa beliau kepada Allah. Namun ketika muadzin mengumandangkan adzan, beliau tetap memerintahkan agar shalat ditegakkan. Beliau memerintahkan Abu Bakr untuk memimpin. Para wanita di rumah — termasuk 'Aisyah — mengulang-ulang permintaan agar Abu Bakr tidak menjadi imam, karena khawatir beliau tidak mampu menahan tangisnya. Namun Nabi ﷺ tetap pada perintahnya, bahkan hingga tiga kali, lalu bersabda dengan lembut namun tegas: "Kalian adalah teman-teman Yusuf."
Kemudian, ketika Nabi ﷺ merasa sedikit lebih ringan, beliau keluar dengan dibantu dua orang, kakinya menyeret di tanah karena lemahnya. Abu Bakr ingin mundur, tetapi Nabi ﷺ memberi isyarat agar beliau tetap di tempatnya. Nabi ﷺ duduk di samping Abu Bakr, dan shalat pun ditegakkan. Ini adalah salah satu pemandangan terakhir Rasulullah ﷺ bersama umatnya dalam shalat berjamaah — sebuah pemandangan yang penuh hikmah dan pelajaran bagi seluruh umat Islam hingga hari kiamat.
Kesimpulan Praktis
- Jagalah shalat berjamaah selama masih mampu, karena Nabi ﷺ sangat menekankannya hingga akhir hayat.
- Orang sakit yang berat diberi keringanan untuk tidak hadir ke masjid, namun tetap wajib menjaga shalat pada waktunya.
- Kelembutan hati bukanlah celaan, sebagaimana Abu Bakr yang lembut hatinya justru menjadi keutamaan beliau.
- Hormatilah keputusan pemimpin dalam urusan shalat dan jangan menentangnya tanpa alasan syar'i, sebagaimana para wanita di rumah Nabi ﷺ dinasihati dengan lembut.
- Pelajarilah fiqih shalat dalam kondisi sakit, karena syariat selalu memberikan kemudahan sesuai kemampuan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.