Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6638 tentang Peringatan bagi orang kaya yang tidak bersedekah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah teguran halus dari Nabi ﷺ tentang bahaya cinta dunia dan banyaknya harta. Beliau bersumpah demi Tuhan Ka'bah bahwa orang-orang yang banyak harta (kecuali yang menginfakkannya di jalan kebaikan) adalah orang-orang yang merugi. Ini bukan berarti harta itu tercela, tetapi yang tercela adalah hati yang terikat pada harta sehingga lalai dari hak Allah dan hak sesama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits yang Anda sampaikan adalah benar sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Sumpah dan Nazar, Bab Bagaimana Sumpah Nabi ﷺ, no. 6638, dari sahabat Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

<p dir="rtl">كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰٓ ۝ أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ</p>

QS. Al-'Alaq [96]: 6-7

Artinya: "Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup (kaya)."

Kaitan dengan penjelasan ulama:

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahaya kekayaan yang membuat seseorang merasa cukup dan tidak butuh kepada Allah, sehingga ia melampaui batas dalam bermaksiat. Ini sejalan dengan makna hadits di atas.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu. Beliau menceritakan bahwa suatu ketika ia mendatangi Nabi ﷺ yang sedang berada di bawah naungan Ka'bah. Nabi ﷺ mengulang-ulang ucapan:

"هُمُ الأَخْسَرُونَ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ" — "Mereka adalah orang-orang yang merugi, demi Tuhan Ka'bah!"

Abu Dzar merasa cemas, mengira ucapan itu ditujukan kepadanya. Ia bertanya, "Siapa mereka wahai Rasulullah?" Maka Nabi ﷺ menjawab: "Orang-orang yang banyak hartanya, kecuali orang yang berkata begini dan begini dan begini" — yaitu orang yang menginfakkan hartanya ke kanan, ke kiri, dan ke depan (ke segala arah kebaikan).

Makna "الأَخْسَرُونَ" (orang-orang yang merugi):

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kerugian di sini adalah kerugian hakiki, yaitu ketika seseorang mengumpulkan harta dengan susah payah, lalu meninggalkannya untuk ahli waris, sementara ia sendiri memikul dosa dari cara memperolehnya dan lalai dari kewajiban zakat dan sedekah. Ia pergi menghadap Allah dengan tangan kosong dari amal shalih.

Mengapa orang kaya disebut merugi?

Bukan karena kekayaannya, tetapi karena:

  1. Banyaknya tuntutan — Harta menuntut pemiliknya untuk menunaikan zakat, silaturahmi, menjamu tamu, dan membantu yang membutuhkan. Jika tidak, maka ia berdosa.
  2. Lalai dari dzikir — Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adab Al-Mufrad bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang disibukkan oleh hartanya sehingga lalai dari dzikir kepada Allah, maka ia merugi."
  3. Hisab yang panjang — Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa setiap harta akan ditanya: dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan.

Pengecualian dalam hadits:

Nabi ﷺ mengecualikan orang yang berkata "begini dan begini dan begini" — maksudnya orang yang menginfakkan hartanya ke segala arah kebaikan: kepada kerabat, fakir miskin, dan di jalan Allah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa ini adalah isyarat bahwa harta bisa menjadi sarana kebaikan jika digunakan dengan benar.

Pelajaran penting dari sumpah Nabi ﷺ:

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sumpah Nabi ﷺ dengan "Rabbil Ka'bah" menunjukkan bolehnya bersumpah dengan Allah menggunakan sifat-sifat-Nya, dan ini adalah bentuk penekanan bahwa perkara ini sangat penting.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang zuhud. Suatu hari ia ditanya tentang dunia, maka ia berkata: "Dunia itu seperti bangkai. Barangsiapa ingin mengambilnya, ia harus menahan bau busuknya." (Diriwayatkan secara global dalam sirah para sahabat)

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami betul pesan Nabi ﷺ tentang bahaya cinta dunia. Mereka tidak mengharamkan harta, tetapi mereka menjadikan harta sebagai sarana, bukan tujuan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan harta sebagai sarana, bukan tujuan hidup — Harta yang bermanfaat adalah yang digunakan untuk kebaikan.
  2. Biasakan bersedekah — Nabi ﷺ mengecualikan orang yang menginfakkan hartanya ke segala arah kebaikan.
  3. Jangan tertipu dengan banyaknya harta — Banyak harta berarti banyak tanggung jawab dan hisab.
  4. Perbanyak dzikir dan jangan sibuk dengan harta — Kesibukan dengan harta yang melalaikan dari Allah adalah kerugian.
  5. Belajar zuhud dari para sahabat — Zuhud bukan berarti miskin, tetapi hati tidak terikat pada harta.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.